Menghormati Kozu Di Kampung Nunur Manggarai Timur

No comment 139 views

Berikut artikel Menghormati Kozu di Kampung Nunur Manggarai Timur, Semoga bermanfaat

WARGA petani di Kampung Nunur, Kampung Mok, di Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur sangat menyatu dengan alam.

Bahkan, warga petani yg berada di bagian selatan dari Kabupaten Manggarai Timur, seperti Desa Ranakolong, Desa Gunung, Desa Gunung Baru menyapa alam sebagai saudara dan saudari yg dituangkan dalam bahasa-bahasa adat.

Ritual adat menghormati kozu, padi dan kadhea, jagung terus dilaksanakan dalam sesuatu tahun musim tanam sampai musim panen.

Mereka yakin bahwa alam memberikan kehidupan untuk manusia. Segala satu bersumber dari alam. Mulai dari  air minum, makanan serba berbagai macam lainnya.

Untuk menyapa alam, manusia melakukan ritual-ritual dengan berbagai lambang-lambang. Lambang-lambang itu sebagai perantara bagi memohon persetujuan dari alam terhadap semua satu yg mulai ditanam.

Wujud nyata terhadap penyatuan dengan alam adalah ritual-ritual adat yg bersentuhan dengan alam. Selama musim tanam dalam setahun, warga petani yg tersebar di kampung-kampung terus melaksanakan ritual adat.

Ritual adat dilaksanakan sepanjang tahun. Mulai dari memberkati benih, membersihkan lahan perkebunan, akan menanam benih, padi atau jagung telah akan berbunga, sebelum panen padi dan jagung, ketika panen sampai memisahkan benih padi dengan batang gabahnya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Meriahkan HUT ke-71 RI di Kecamatan Kota Komba, anggota sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba mementaskan sendratari ritual Riik Kozu (injak padi) di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

Ritual menghormati Kozu, padi di Flores Barat terus dilambangkan dengan seekor ayam dan telurnya.

Adapun dua ritual menghormati Kozu dan Kadea dari warga pertani di Manggarai Timur, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur yg dirangkum KompasTravel.

1. Ritual Ndetok Nii

Ritual Ndetok Nii yaitu ritual memberkati benih padi, kozu, jagung, kadea dan berbagai macam kacang-kacangan. jadi, pertama kali orang Manggarai Timur mengenal tanaman berupa benih padi, kozu, jagung, kadea serta berbagai macam pangan lokal, seperti, lepang, sorghum. Dan juga macam kacang-kacangan.

Ritual Ndetok Nii yaitu ritual tahap awal dalam musim tanam setahun sesuai dengan kebiasaan warga petani di Manggarai Timur, Flores Barat.

Dalam tradisi orang Manggarai Timur, ritual adat itu dilaksanakan di Watu Nurung (tempat sesajian) yg dilaksanakan di dapur. Tempat itu sangat dekat dengan tungku api.

Pertama-tama yg melaksanakan ritual adat itu, tua adat di kampung. Jikalau tua adat di kampung belum melaksanakan ritual ndetok nii, maka warga masyarakat tak dapat menanam pagi atau jagung.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba dari Kampung Mok, Desa Mbengan memeriahkan HUT ke-71 RI dengan mementaskan tarian Riik Kozu (injak padi) di Lapangan Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba, Kelurahan Watunggene, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

2. Ritual Weri Mata Nii

Dimulai dengan menyembelih Seekor ayam jantan di tengah atau di pinggir ladang sebelum Weri Mata Nii, tanam benih padi. Darah ayam diteteskan kepada benih padi, sebatang kayu, roto sebelum memulai tanam. Ritual ini menghargai alam sebagai tempat bertumbuhnya padi.

Ladang sebagai tempat menanam berbagai macam pangan lokal sangat dihormati dengan berbagai upacara adat. Meneteskan darah ayam kepada benih padi sebagai lambang menghormati padi serta membebaskan padi dari berbagai jenis serangan hama.

3. Ritual Podong

Ritual ini membersihkan rumput-rumput diladang ketika padi akan tumbuh. Rumput atau tumbuhan yg mengganggu pertumbuhan padi dicabut. Berbagai rumput dan tumbuhan yg ada di sela-sela padi dibersihkan agar proses pertumbuhan padi berjalan dengan baik.

4. Karong Kozu Wole

Ritual ini dilaksanakan di kampung-kampung dengan berbagai tari-tarian buat menghantar padi yg telah di panen. Sebelum tari-tarian dalam upacara karong kozu wole dalam sebuah kampung, terlebih dulu dilaksanakan ritual adat yg dilambangkan seekor ayam.

Ayam sangat utama untuk kelangsungan ritual adat di Manggarai Timur di Flores Barat. Darah ayam sebagai lambang yg sangat berarti buat warga petani di Manggarai Timur, Flores Barat. Semua ritual adat terus menyembelih seekor ayam.

5. Ritual Riik Kozu

Ritual ini berupa injak padi yg telah matang. Ritual ini bagi memisahkan benih padi dengan batang gabahnya. Ritual ini biasa dilaksanakan di sebuah tenda panggung yg beralaskan dengan bambu bersegi empat dengan tiang-tiang dari kayu. Dulu warga petani yg tersebar di kampung-kampung tak mengenal dengan mesin rontok.

Sebelum dilaksanakan injak padi, Riik Kozu, terlebih lalu dilangsungkan upacara adat yg dilambangkan oleh tua adat. Ritual itu bagi menghormati dan menghargai padi agar padi tak hilang.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba mementaskan sendratari Riik Kozu (injak padi) dengan tarian Wai Doka (jalan di atas bambu) dalam rangka memeriahkan HUT ke-71 RI di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016) malam.

Dalam kepercayaan orang Manggarai Timur, benih padi mampu hilang. Padi yg bersiap panen mampu hilang diambil oleh roh halus yg berada di kebun-kebun. Bisa juga hilang apabila tak memberikan sesajian kepada leluhur.

Jadi upacara adat yg dilaksanakan adalah memohon alam semesta dan penjaga-penjaganya berupa roh halus buat bersama-sama menjaga agar padi tak hilang. Darah, sayap, daging ayam dipersembahkan kepada penjaga di kebun itu agar mereka tak mengganggu padi. Juga mereka tak menghilangkan padi yg bersiap panen.

Sanggar Uma Lodok

Sejak dibentuk Sanggar Uma Lodok di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba di Kampung Mok, Desa Mbengan 2010 lalu. Para pendidik disekolah itu didukung dengan kreatifitas dari Kepala Sekolahnya mendidik anak-anak sekolah, bukan saja dengan ilmu pengetahuan yg diatur dengan kurikulum melainkan anak-anak sekolah di didik dengan ilmu budaya sesuai dengan budaya di Manggarai Timur.

Para pendidik bersama dengan siswa dan siswi di sekolah itu menggali keterangan budaya dan ritual-ritual adat setempat. Bahkan, tari-tarian yg diwariskan leluhur di Desa Mbengan di Manggarai Timur digali dan dilatih demi keberlangsungan dan keberlanjutan dari warisan leluhur tersebut.

Wai doka, yaitu warisan budaya masyarakat di Desa Mbengan. Wai Doka yaitu tarian-tarian, dimana orang berjalan di atas bambu dipadukan dengan pakaian adat Manggarai Timur seperti menggunakan kain songke, selendang dan baju kemeja putih.

Tarian ini telah dipentaskan di minggu budaya tingkat Kabupaten Manggarai Timur. Bahkan, telah ditampilkan pada minggu budaya Flores di Kabupaten Sikka dua tahun lalu.

Tarian Wai Doka, sebagai ciri khas Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba. Jikalau kami ingin menyaksikan tarian ini maka berkunjunglah ke Desa Mbengan.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Mementaskan sendratari Riik Kozu (injak padi) dengan tarian Wai Doka dari anggota Sanggar Uma Lodok dari SMAN 2 Kota Komba, di Lapangan Waelengga, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa (16/8/2016).

Setelah Wai Doka berhasil dipentaskan di berbagai acara budaya di Pulau Flores. maka, pelajar di sekolah itu menggali keterangan lagi terkait budaya. Salah satunya adalah tarian Riik Kozu, injak gabah padi.

Tarian Riik Kozu biasa dilaksanakan di ladang-ladang ketika panen padi. Kini, tarian ini dipentaskan kepada masyarakat umum di Kabupaten Manggarai Timur khususnya, dan Pulau Flores pada umumnya.

Pelajar SMAN 2 Kota Komba membawakannya dalam bentuk sendra tari. Saat Tour de Flores dua bulan lalu, pelajar ini menampilkan riik kozu kepada tamu yg singgah di Manggarai Timur. Saat itu dilaksanakan di Pantai Cepi Watu.

Setelah berhasil dipentaskan di Pantai Cepi Watu, selanjutnya pada Selasa (16/8/2018) malam dipentaskan tarian Riik Kozu buat menghibur warga masyarakat di Kota Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba.

Sendratari ini dipentaskan oleh pelajar dari Sanggar Uma Lodok SMAN 2 Kota Komba buat melestarian warisan budaya riik kozu. Sekelompok siswa dan siswi mementaskan  tarian ini yg dipadukan dengan pakaian songke.

Mereka membawakan ritual Riik kozu di Lapangan Sepak Bola Waelengga dalam bentuk sendra tari. Tarian Wai doka juga dibawakan ketika sendra tari tersebut.

Desa Mbengan sebagai Desa Budaya

Kehadiran sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN 2) Kota Komba memberikan nilai tersendiri untuk warga masyarakat di Desa Mbengan dan sekitarnya. Lembaga ini mengembangkan kreatifitas pelajar di bidang budaya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Seorang tua adat di Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT sedang melihat urat ayam dalam berbagai ritual adat yg berhubungan dengan pertanian, Sabtu (19/8/2016).

Berbagai pementasan budaya yg ditampilkan dari pelajar yg bergabung di Sanggar Uma Lodok itu sangat didukung oleh tua-tua adat.

Keberlanjutan dan keberlangsungan budaya dengan berbagai ritual dan tari-tarian selalu dilestarikan dan dikembangkan serta dipentaskan kepada masyarakat luas di Pulau Flores.

Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Komba, Bernabas Ngapan kepada KompasTravel, Rabu (17/8/2016) menjelaskan, sanggar Uma Lodok di bentuk buat pengembangan kreatifitas anak didik di sekolah tersebut.

Ngapan, menjelaskan, sanggar ini dibentuk buat mendidik dan membina kreatifias siswa dan siswi dalam mengembangkan budaya yg unik dari lingkungan setempat.

“Tarian Wai Doka, Riik Kozu dan Umbiro dikembangkan dan dipentaskan dalam berbagai acara budaya di Kabupaten Manggarai Timur maupun di Pulau Flores,” katanya.

Menurut Ngapan, tarian Riik Kozu, tarian injak gabah padi yaitu warisan leluhur dari Rajong, wilayah Elar. Zaman lalu sebagian warga Rajong bermigrasi ke Kampung Nunur. Saat bermigrasi bagi mencari tanah subur, adat istiadat ikut dibawa dan diwariskan secara turun temurun.

“Saya terinspirasi oleh kisah mama tentang Kozu, padi. Suatu saat aku dibawa mama ke ladang. Lalu, ketika itu aku lihat sebagian kozu, padi hilang. Saya tanya mama. Mengapa sebagian padi hilang. Saat itu mama jawab padi tak hilang melainkan pergi ke kali. Nanti agak sore mulai kembali lagi. Betul, ketika sore hari padi utuh lagi. Dari ketika itu sampai ketika ini, aku sangat menghormati kozu sebagai sumber kehidupan buat manusia,” tutur Ngapan.

Ngapan melanjutkan, dalam kepercayaan orang Manggarai Timur bahwa padi mampu hilang dibawa oleh roh halus yg menjaga ladang tersebut. Untuk itu, ketika warga petani memanen padi di ladang, terlebih dulu dilangsungkan ritual adat.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Warga petani di Kampung Betong Torok, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT sedang riik kozu (injak padi) buat memisahkan batang gabah dengan gabahnya di sebuah ladang di dekat kampung tersebut. Di kampung-kampung masih dilaksanakan secara tradisional pada Juli 2016 lalu.

Jika tak dilaksanakan ritual adat maka penjaga ladang marah dan menyembunyikan padi. Jadi zaman dulu, dilaksanakan upacara adat dengan tari-tarian ketika berlangsung Riik Kozu, injak gabah padi. Riik Kozu bagi memisahkan padi dan batang gabahnya.

“Saya bersama guru di SMAN 2 Kota Komba melatih pelajar di Sanggar Uma Lodok mengembangkan kreatifitas dan sendra tari Riik kozu. Hasilnya, dua kali dipentaskan sendra tari Riik kozu di Kabupaten Manggarai Timur. Saya bersama guru selalu mengembangkan kreatifitas pelajar di SMAN 2 Kota Komba  di bidang budaya,” kata Ngapan.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/09/04/072300727/Menghormati.Kozu.di.Kampung.Nunur.Manggarai.Timur
Terima kasih sudah membaca berita Menghormati Kozu di Kampung Nunur Manggarai Timur. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menghormati Kozu Di Kampung Nunur Manggarai Timur"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.