Menggapai Puncak Gunung Yang Jadi Atapnya Pulau Jawa

No comment 152 views

Berikut artikel Menggapai Puncak Gunung yang Jadi Atapnya Pulau Jawa, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Gunung Semeru, dikenal sebagai atapnya Pulau Jawa. Ketinggiannya mencapai 3.676 Mdpl. Menaklukan gunung ini meninggalkan kisah tersendiri yg patut dikenang.  

Bagi para pendaki, mendaki gunung apapun di pulau Jawa belum sempurna seandainya belum menginjakkan kaki di Puncak Mahameru. Ya, karena Semeru adalah atap langit Pulau Jawa. Berada di ketinggian 3.676 Mdpl Semeru menjadi Gunung yg sangat tersohor untuk pendaki dalam negeri maupun luar negeri.

Gunung semeru juga yaitu Gunung yg komplit dalam artian, pendaki diberi suguhan akan trek perjalanan berupa hutan, padang savana, danau ranu kumbolo serta summit yg mampu dibilang ‘menyetorkan separuh nyawa’.

Perjalanan menuju Semeru membutuhkan waktu perjalanan darat yg tak terlalu lama. Kami berangkat dari Surabaya, memakai 2 mobil, Surabaya Malang dapat ditempuh 2 jam perjalanan seandainya tak macet. Rombongan bertujuh, 4 Fotografer media, diantaranya Yuyung Abdi (Jawa Pos) Zabur Karuru (Antara) Akbar Insani (Seputar Indonesia) dan Andi Satria (Radar Surabaya). Tak lupa saya, Adita Irawati (VP Corporate Communications Telkomsel), serta Sadewa Saputra.

Kami kemudian meluncur ke Malang buat kemudian menuju Ranu Pane. 4 Jam perjalanan dari Surabaya sampailah kita di Ranu Pane. Untuk pendakian ke Gunung Semeru dari Ranu Pane tak disarankan berangkat malam, karena kalian harus lapor dahulu menyerahkan surat kesehatan dan mendapatkan briefing pendakian. Hal ini dibutuhkan mengingat Semeru bukan gunung bercandaan.

Di Ranu Pane kalian tinggal di Homestay, tak terlalu mewah tetapi cukuplah bagi meluruskan badan buat persiapan perjalanan pendakian keesokan harinya. Pendakian dimulai, jam 08.00 pagi kita akan mendengarkan briefing pendakian, membayar sejumlah uang bagi tiket masuk.

Inilah enaknya pergi ke gunung, semuanya murah. Kami bertiga belas dengan porter cukup merogoh kocek sekitar 245 ribuan buat masuk ke Wisata Gunung yg indahnya tak kalah dengan Mount Titlis di Switzerland ini.

Semeru memiliki 3 pos, Dari Ranu Pane ke Pos 1 tak terlalu jauh, sekitar 1 jam-an. Dari Pos 1 ke Pos 2 juga sama masih sekitar 1 jam-an. Ada orang yg berjualan di setiap pos, ote-ote, pisang goreng masih dijual walau dalam keadaan “dingin” tetap enak dimakan.

Pos 2 ke Pos 3 agak lumayan jauh, butuh waktu 2 jam buat mencapainya. Tapi struktur medannya masih jalur landai sampai Ranu Kumbolo.

Bagi yg belum pernah melihat Ranu Kumbolo, pasti terpesona. Pendaki menyebutnya surga di bawah Puncak Mahameru. Ranu Kumbolo adalah tempat transit buat mereka yg mulai melanjutkan perjalanan buat mendaki Puncak Mahameru. Di sini pula tempat kami istirahat sejenak sambil makan siang Spagheti ala porter.

Konon, debit air di Ranu Kumbolo tak pernah berkurang. Ranu Kumbolo juga semakin ramai dengan tenda pendaki. Ada keunikan tersendiri di balik indahnya Ranu Kumbolo, merupakan saat matahari akan terbit di antara beberapa buah bukit hijau yg muncul perlahan dan membuat perhatian mata kalian tak dapat menolak buat menikmatinya.

Belum lagi suasana danau saat kabut akan turun di waktu sore hari dipadu dengan air danau sungguh pemandangan yg tidak dapat terucapkan. Di ketika malam tiba, kami mulai disuguhkan gugusan bintang dari galaksi Bima Sakti yg belum tentu dapat kami lihat pada waktu kami berada di kota-kota besar karena silaunya cahaya lampu kota yg begitu terang.

Di sebelahnya terdapat sebuah bukit yg diberi nama ‘Bukit Cinta’ yg konon seandainya kami mendaki ke bukit ini dengan membayangkan orang yg kalian cintai dengan tanpa menoleh ke belakang, maka kalian mulai bahagia bersamanya.

Namun semakin tinggi kami mendaki maka semakin hebat pula godaannya. Karena semakin tinggi, maka pemandangan Ranu Kumbolo dari bukit mulai kelihatan semakin indah. Di danau ini juga terdapat prasasti dari peninggalan Kerajaan Majapahit dan juga terdapat tugu peringatan untuk mereka yg meninggal pada waktu pendakian ke puncak Mahameru.

Ranu Kumbolo yg terletak di ketinggian 2.400 mdpl ini mampu mencapai suhu minus 5 derajat pada malam hari seandainya cuaca cerah. Lelah menaklukkan Tanjakan Cinta mulai terbayar setelah melihat pemandangan eksotis Oro-Oro Ombo. Hamparan yg cukup luas itu nyaris tertutup warna ungu oleh bunga Verbena Brasiliensis Vell.

Kawasan ini kalian manfaatkan buat berfoto. Bagi mereka yg menyukai bunga ini, pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memperbolehkan membawanya pulang. Namun, jangan sekali-kali membawa bunga edelweis yg menghampar di titik Kalimati hingga Arcopodo. 8 jam perjalanan sampailah kalian di penjaga setia Gunung Semeru, yakni Kalimati.

Ya, di sini benar-benar tenang, kalian membuat tenda di sini. Jika bangun pagi di Kalimati kami mulai segera disuguhkan pemadangan megahnya Gunung Semeru. Di sini kalian istirahat sambil makan malam, suhunya telah bukan dalam tahapan dingin, melainkan dingin akut. Terpaksa, suguhan makanan yg dibeber di luar tenda, aku bawa ke dalam tenda.

Jam 12 Malam kalian berangkat summit. Dari Kalimati, cuma membawa 3 barang, air minum 1 liter, kamera dengan lensa komplit, serta senter penerang buat modal jalan di malam hari. Menyusuri medan yg tak ada bonusnya sama sekali, perjalanan ini menjadi sangat berat karena rute yg dilewati curam. Tak terasa kaki ini menginjak medan pasir. Ini artinya telah mendekati puncak

Luar biasa medan Mahameru. Butuh 6 jam buat sampai ke Puncak dari Pos terakhir Kalimati. Di tengah-tengah terjadi insiden dimana batu berjatuhan dan hampir menimpa para pendaki. Ini mengapa mendaki Semeru banyak pendaki meninggal, karena ada resiko bagi tertimpa batu yg berjatuhan.

Sepanjang perjalanan menuju puncak, kalian berjumpa dengan mayoritas pendaki mancanegara. Semeru telah cukup terkenal, bahkan sangat terkenal, karena saat aku bertanya pada mereka, tak cuma dari pendaki Asia, tetapi mayoritas dari benua Eropa .

Lelah, capek, lapar, linglung, semuanya hilang saat sampai di atas Puncak Mahameru. Inilah Semeru, inilah Mahameru 3.676 Mdpl tempat dimana para Dewa Bersemayam.

Di atas Semeru, kami juga disuguhi letusan kawah Jonggring Saloka yg meletup disertai suara gemuruh 10 menit sekali. Bromo, Arjuno dan teriakan para pendaki, serta kibaran bendera merah putih bahkan preweding pendaki mewarnai suasana kebahagiaan mencapai Puncak Mahameru.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/14/113100/3314089/1025/menggapai-puncak-gunung-yang-jadi-atapnya-pulau-jawa
Terima kasih sudah membaca berita Menggapai Puncak Gunung yang Jadi Atapnya Pulau Jawa. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menggapai Puncak Gunung Yang Jadi Atapnya Pulau Jawa"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.