Mengenang Perjalanan Panjang Jepang Di Gifu

No comment 152 views

Berikut artikel Mengenang Perjalanan Panjang Jepang di Gifu, Semoga bermanfaat

 

Mengunjungi Gifu, aku sungguh takjub. Kawasan ini menyimpan catatan perjalanan Jepang kuno yg terawat baik hingga kini. Di Gifu kami mulai mendapati kawasan-kawasan kuno dan juga desa trdisi. Gifu adalah kota di Jepang yg terletak di bagian tengah-selatan Prefektur Gifu, dan berkedudukan sebagai ibu kota prefektur. Kota ini berperan utama dalam sejarah Jepang karena letaknya yg strategis di Jepang bagian tengah. Pada zaman Sengoku, wilayah Gifu dijadikan markas para samurai pemimpin perang, termasuk Sait? D?san dan Oda Nobunaga yg berusaha menjadi pemersatu Jepang.

Setelah Jepang bersatu, Gifu sepanjang zaman Edo selalu berkembang dan makmur sebagai kota penginapan (shukuba) di jalur Nakasend?. Kawasan Kan?-juku waktu itu yaitu kawasan yg penuh dengan rumah-rumah penginapan. Gifu selanjutnya dikenal sebagai pusat industri busana karena memiliki banyak perusahaan konfeksi. Kota ini dulunya pernah berada di bawah administrasi Distrik Atsumi sebelum Pemerintah Jepang menetapkannya sebagai kota inti.

Kota Gifu terletak di dataran rendah aluvial Sungai Nagara yg subur. Penduduk Gifu sejak zaman lalu telah mengandalkan sumber daya alam kawasan sekeliling tempat tinggal mereka sebagai sumber penghasilan. Gifu yaitu pusat industri kertas tradisional Jepang (mino washi) dan produk-produk pertanian. Di bidang pariwisata, Gifu terkenal dengan atraksi “memancing dengan burung kormoran” di Sungai Nagara. Di tengah kota menjulang Gunung Kinka yg yaitu simbol kota sekaligus tujuan wisata andalan Kota Gifu. Di puncak gunung terdapat Istana Gifu yg dibangun sebagai replika istana Oda Nobunaga.

Diawali dari kota Hidatakayama, pagi-pagi benar kalian telah jalan menuju Miyagawa Morning Market. Di jalan lurus Miyagawa yg di tepinya mengalir Sungai MiyagaWa yg jernih dengan ikan-ikan indah berenangan di dalamnya. Seperti laiknya pasar tiban di Jawa, pasar ini juga cuma buka di pagi hari dan tutup sebelum tengah hari.

Tak di Jawa tidak di Jepang, yg namanya pasar ya sama saja. Di sini dijual aneka kebutuhan. Mulai dari makanan, minuman, buah-buahan, sayuran, cenderamata, pakaian, hingga barang keperluan pribadi lainnya.

Di sini berbagai suvenir khas Takayama ditawarkan. Dari boneka sarubobo, tas kerajinan lokal, hingga makanan kecil khas Takayama.

Pasar yg buka sejak pukul 07.00 pagi ini selesai hingga pukul 11.00. Terdapat sekira 40 hingga 50 lapak, termasuk rumah penduduk yg dijadikan toko.

Kompas.com/Jodhi Yudono Salah sesuatu stan di Pasar Pagi Miyagawa yg menjual aneka souvenir

Tradisi pasar pagi ini konon berawal dari era Edo (1603-1868). Ketika itu Takayama, yg ketika itu menjadi ibukota Provinsi Hida, menjadi pusat perdagangan beras dan bunga. Ini adalah salah sesuatu dari dua pasar pagi di Jepang yg membuka 365 hari setahun, dan tempat wisata yg populer.

Kami menghabiskan waktu 45 menit di sini, sebelum akhirnya menyeberang ke lokasi yang lain yg cuma sepelemparan batu dari Pasar Miyagawa. Kami kini menuju jalanan penuh cinderamata Kami Sannomachi.

Begitu memasuki mulut jalan, aku segera disergap kekaguman. Bayangkanlah, kawasan yg telah ada sejak ratusan tahun dahulu masih terjaga dengan baik hingga hari ini. Jalan bersejarah yg telah ada sejak akan zaman Edo ini berkembang sebagai kota pedagang, dengan toko berjajar disa di kanan dan kiri jalan.

Kompas.com/Jodhi Yudono Rickshaw di Jalan Kami Sannomachi

Sementara air mengalir di selokan yg terletak di bawah rumah-rumah pedagang dengan jendela yg berkisi-kisi. Sementara di sudut lainnya, banyak terdapat gudang tempat pembuatan sake. Untuk memperlihatkan bahwa sake baru tersedia, pintu masuk dihiasi dengan bola daun cedar.

Hamada pemandu kalian bercerita, bahwa sake terbaik dihasilkan dari kawasan ini. Segera dia menunjuk ke salah sesuatu toko penjual sake berkualitas terbaik. Hanya dengan uang 200 yen (Rp 20.000), kalian dapat mencicipi bersloki-sloki sake hingga sempoyongan.

Segala yg ditawarkan di sepanjang jalan sangat menarik perhatian. Dengan berjalan santai, Anda dapat singgah di banyak tempat dengan mudah, atau Anda mampu menumpang becak khas Jepang yg bersiap mengantar mengelilingi kota tua.

Puas dengan seluruh yg ada di jalan kuno ini, perjalanan dilanjutkan ke Hida Folk Village (Hida no Sato) bagi latihan bikin sumpit. Tidak seperti yg aku bayangkan sebelumnya, ternyata membuat sumpit di sini memerlukan waktu, tenaga dan juga rasa bagi menghasilkan sumpit yg berkualitas. Kami pun diajari bagaimana membentuk sumpit yg ciamik. Kami tidak berlama-lama di sini, sebab masih ada beberapa tempat wisata yg harus kalian kunjungi hari ini. Yakni Desa kuno Shirakawa dan 
Tonami Tulip Galery.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/30/203916327/mengenang.perjalanan.panjang.jepang.di.gifu
Terima kasih sudah membaca berita Mengenang Perjalanan Panjang Jepang di Gifu. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengenang Perjalanan Panjang Jepang Di Gifu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.