Mengenal Tumpe, Ritual Telur Pertama Burung Maleo

No comment 195 views

Berikut artikel Mengenal Tumpe, Ritual Telur Pertama Burung Maleo, Semoga bermanfaat

Luwuk – Burung Maleo yaitu satwa langka. Di Luwuk, Sulawesi Tengah, ada ritual Tumpe bagi telur pertama dari musim bertelur Maleo. Seperti apa sih?

detikTravel mendapatkan undangan dari PT Donggi-Senoro LNG bagi melihat segera ritual sekali setahun ini, Kamis (1/12/2016). Ritual adat Tumpe cuma diadakan pada bulan Desember.

Tumpe yaitu bahasa masyarakat adat Batui yg artinya adalah pertama. Tumpe yaitu acara penyerahan telur Maleo pertama dari Luwuk ke Pulau Banggai.

Kenapa mesti diserahkan ke Pulau Banggai? Dahulu kala Raja Motindo yg memerintah di Kerajaan Banggai Laut milik burung Maleo.

 Ritual Tumpe yg ditunggu-tunggu oleh masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)Foto: Ritual Tumpe yg ditunggu-tunggu oleh masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)

Kemudian burung tersebut diberikan kepada cucunya yg bernama Abu Kasim. Ternyata di Banggai laut tak ada pasir. Sehingga burung Maleo tak dapat bertelur.

Akhirnya Maleo dikembalikan lagi ke Batui. Namun dengan sesuatu perjanjian, seandainya burung ini bertelur maka telur pertamanya harus diberikan kepada Abu Kasim di Banggai Laut.

Itu adalah amanah yg dipegang teguh oleh masyarakat Batui sampai pada hari ini. Buktinya acara adat ini sudah berlangsung sejak zaman lalu sampai sekarang.

“Inti acara ini amanah. Telur pertama harus diberikan ke Banggai Laut baru boleh dimakan oleh masyarakat Luwuk. Yang di Banggai Laut pun tak boleh makan sampai yg mengantar belum pulang ke Luwuk,” kata Haji Jabar, Ketua Perangkat Adat Kelurahan Batui bagi Kusali Bola Totonga.

Panggung di depan rumah adat masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)Foto: Panggung di depan rumah adat masyarakat Batui (Bonauli/detikTravel)

Walaupun burung Maleo termasuk hewan langka namun menurut SK Menteri Kehutanan, buat acara adat telur burung Maleo diperbolehkan bagi dimakan.

Penyerahan telur dulunya digunakan sekaligus sebagai sensus penduduk oleh Kerajaan Banggai Laut. Masyarakat Suku Batui diwajibkan buat menyerahkan sesuatu telur bagi sesuatu orang. Namun karena kelangkaannya ketika ini makan cuma dihitung per kelurahan saja.

“Paling banyak 20-25 butir telur per kelurahan,jadi paling cuma 100 butir tiap ritual,” ungkap Haji Jabar.

Suku Batui memiliki 5 titik poin berupa rumah yg menjadi tempat pemgumpulan telur dari 5 kelurahan. Di akan dari Dakanyo Ende, Binsilok Balatang, Tolando, Binsilok Katudunan dan Topundat. Setelah itu telur mulai diantarkan ke rumah adat secara estafet.

Para pemuda yg membawa telur Maleo (Bonauli/detikTravel)Foto: Para pemuda yg membawa telur Maleo (Bonauli/detikTravel)

Sebelum diantarkan ke rumah adat, telur diberikan doa dan dzikir terlebih lalu di 5 titik poin. Ini yaitu ucapan syukur atas rezeki berupa telur burung Maleo.

Telur tak diantarkan begitu saja tetapi dilapisi dengan daun komunong (sejenis palem). Kemudian para pemuda mulai membawakan telur dengan busana adat berwarna merah. Ini adalah warna suku masyarakat Batui.

Pada ketika mengantarkan telur, para pemuda ombuwa telur (pembawa telur) mulai didampingi oleh tetua adat. Jalanan harus sepi dari aktivitas. Karena ketika mengantarkan telur tak diperbolehkan buat berhenti di tengah jalan.

Masyarakat Suku Batui milik kearifan lokal mensyukuri rezeki Tuhan dengan memakan telur Maleo. Agar tradisi ini dapat terjaga, tentu tanggung jawab kami seluruh buat menjaga kelestarian Maleo. (wsw/fay)

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/02/082500/3360540/1519/mengenal-tumpe-ritual-telur-pertama-burung-maleo
Terima kasih sudah membaca berita Mengenal Tumpe, Ritual Telur Pertama Burung Maleo. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengenal Tumpe, Ritual Telur Pertama Burung Maleo"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.