Mengenal Suku Karen, Si “Leher Panjang” Dari Thailand

No comment 95 views

Berikut artikel Mengenal Suku Karen, Si “Leher Panjang” dari Thailand, Semoga bermanfaat

CHIANG MAI, KOMPAS.com – Saat berkunjung ke bagian utara Thailand, salah sesuatu tempat yg tidak boleh dilewatkan adalah desa tempat tinggal Suku Karen. Ini adalah salah sesuatu suku yg tinggal di pedalaman Thailand selain juga Lahu Shi Bala, Palong, Hmong, Kayaw, Akha, dan Mien. 

Karen menjadi salah sesuatu suku yg “diincar” wisatawan karena tradisi uniknya. Para wanita Suku Karen diwajibkan memanjangkan leher memakai tumpukan kawat yg terbuat dari kuningan. Di Thailand ada dua desa wisata tempat turis melihat Suku Karen, salah satunya Baan Tong Luang di Chiang Mai.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Wanita suku Karen yg tinggal di bagian utara Thailand.

“Di Thailand, seluruh Suku Karen cuma tinggal di desa wisata. Tidak ada yg hidup di pedalaman atau di pegunungan seperti aslinya,” tutur Paiboon Pramuankarn, pemandu wisata yg mengantar KompasTravel dan rombongan dari Tourism Authority of Thailand (TAT) mengelilingi Chiang Mai dua waktu lalu. 

Namun, salah besar seandainya Anda berpikir Suku Karen adalah asli Thailand. Karen pada awalnya tinggal di dataran tinggi Tibet. Suku tersebut kemudian “hijrah” ke Myanmar, tepatnya di Karen State yg berbatasan segera dengan Thailand.

Mengutip situs Karen.org, suku ini terbagi menjadi dua sub-etnis antara yang lain Skaw Karen, Pwo Karen, dan Bwe Karen. Beberapa sub-etnis ini kemudian pindah ke Thailand karena bentrok dengan pemerintah. Kini, sekitar 150.000 orang Karen tinggal di Thailand sementara tujuh juta lainnya masih tinggal di Myanmar.

“Jumlah Suku Karen yg tinggal di Thailand sedikit. Oleh karena itu sangat diperhatikan pemerintah,” tambah Paiboon yg akrab dipanggil Jack.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Tujuh suku yg tinggal di desa ini adalah Karen, Lahu Shi Bala, Palong, Hmong, Kayaw, Akha, dan Mien.

Pada dasarnya Suku Karen menganut kepercayaan animisme. Namun sejak Myanmar dijajah Inggris pada abad ke-18, misionaris Kristen pun melebarkan sayapnya. Kini sekitar 15 persen Suku Karen di Myanmar dan Thailand menganut agama Kristen. Di desa wisata Baan Tong Luang misalnya, terdapat sebuah gereja buat tempat ibadah.

Baan Tong Luang cuma salah sesuatu desa wisata buat melihat Suku Karen dari dekat. Desa ini menggabungkan tujuh suku yg tinggal di utara Thailand, yg tidak jarang disebut hill tribes.

“Ada tujuh suku yg tinggal di desa ini. Ada sekitar 20 kelompok seandainya ditotal,” tutur Jack.

KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Para wanita Suku Karen mengenakan kalung bertumpuk-tumpuk. Mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis. Semakin panjang leher, semakin cantik mereka di mata pria.

Para wanita Suku Karen mengenakan kalung bertumpuk-tumpuk. Mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis. Semakin panjang leher, semakin cantik mereka di mata pria.

Hampir seluruh suku asli Thailand milik kerajinan tangan berupa tenun. Semua wanita hill tribes bisa menenun. Mereka menenun kain buat digunakan sebagai pakaian, topi, hingga selimut dan kaus kaki.

Tujuh suku itu tersebar di desa yg cukup luas, lengkap dengan pesawahan dan lumbung padi. Bertani adalah mata pencaharian penting para pria hill tribes. Kincir air dapat ditemukan di dua titik.

Menyusuri tiap suku di Baan Tong Luang butuh waktu yg tak sedikit. Apalagi setiap pemilik rumah memersilakan pengunjung bagi memotret (tanpa membayar) bahkan masuk ke dalam rumahnya. 

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/10/01/153200227/mengenal.suku.karen.si.leher.panjang.dari.thailand
Terima kasih sudah membaca berita Mengenal Suku Karen, Si “Leher Panjang” dari Thailand. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengenal Suku Karen, Si “Leher Panjang” Dari Thailand"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.