Mengenal Rumah Si Pitung Di Marunda

No comment 33 views

Berikut artikel Mengenal Rumah Si Pitung di Marunda, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Traveler mungkin ada yg mengenal Si Pitung jagoan Betawi. Rumahnya pun bisa traveler lihat di kawasan Marunda, Jakarta Utara.

Masih ada samar-samar ingatan di benak tentang kisah kepahlawanan Si Pitung menghadapi Kumpeni Belanda. Film lawas tahun 70-an yg dibintangi Dicky Zulkarnaen ini pernah aku tonton waktu masih kanak-kanak dan membuatku penasaran, benarkah sosok Si Pitung itu ada atau cuma tokoh legenda?

Setelah menghidupkan GPS, kalian berdua dari Jakarta Timur menuju Kawasan Wisata Pesisir di Marunda. Saat itu cuaca mendung, tetapi jalanan tak begitu padat sehingga dalam waktu sesuatu jam kalian sudah memasuki kawasan Priok.

Rumah Si Pitung memiliki nama yang lain Museum Kebaharian Jakarta Situs Marunda. Museum ini beroperasi setiap hari dari Pukul 08.00-17.00 dengan tarif terjangkau.

Biaya masuk buat anak-anak/pelajar cuma Rp 2 ribu, sedangkan untuk mahasiswa dan  kaum dewasa masing-masing Rp 3 dan 5 ribu. Tempatnya lapang dan bersih.

Atraksi penting di Museum Kebaharian ini jelas adalah Rumah Si Pitung. Di bagian belakang ada bangunan tambahan buat mushola dan toilet. Juga ada gazebo, tempat duduk-duduk dan lapak penjual makanan khas Betawi. Rapi dan bersih.

Rupanya bangunan yg disebut Rumah Si Pitung bukan rumah si Pitung sebenarnya. Menurut penjelasan yg tertera di bagian rumah, yg diambil berdasarkan penelitian Ridwan Saidi yg dimuat majalah Tani tahun 2008, Si Pitung aslinya warga Rawa Belong dan ia awalnya seorang perampok dermawan.

Ia merampok orang kaya yg bekerja dengan Belanda dan menyerahkan hasilnya buat keperluan perjuangan rakyat. Ia berkomplot dengan sepupunya bernama Ji yg kemudian berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh polisi. Selanjutnya ia bekerja sendirian.

Saya sambil melihat peta Batavia masa itu kemudian membayangkan perjalanan Si Pitung dari Rawa Belong ke Kemayoran, kemudian ke Marunda. Cukup jauh juga.

Tapi rupanya pada masa tersebut telah ada trem uap dengan berbagai rute dan terdapat kereta api dari Gambir ke Tanjung Priok, sehingga memudahkan Si Pitung menjalankan aksinya.

Rumah Si Pitung ini aslinya adalah rumah punya Haji Safiudin, merupakan bandar perdagangan ikan. Ada beberapa versi kisah terkait rumah ini dengan Si Pitung.

Versi pertama merupakan rumah ini pernah dirampok oleh Si Pitung dan versi kedua, Haji Safiudin menyerahkan sejumlah uang ke Si Pitung secara sukarela. Konon Haji Safiudin kemudian menjadi mitra kerjanya.

Kemampuan bela diri Si Pitung didapatkannya dari hasil berguru ke seorang ahli tarekat yg juga pandai bermain silat di Kampung Kemayoran. Guru Na’ipin ini menjadi guru si Pitung selama enam tahun.

Gurunya ini memiliki hubungan dengan Mohammad Bakir seorang sastrawan Betawi akhir abad ke-19. Dari Mohammad Bakir, Guru Na’ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima yg dipimpim Bang Sa’irin. Di dalam jaringan inilah semua gagasan pemberontakan dan perlawanan sepanjang abad ke-19 digagas.

Si Pitung selama delapan tahun merupakan tahun 1886-1894 dianggap sosok yg meresahkan, sehingga Snouck Hurgonje, penasihat pemerintah Hindia Belanda marah besar ke kepala polisi Batavia.

Si Pitung tahun 1891 pernah tertangkap tetapi seperti belut ia pun kemudian meloloskan diri. Saat di dalam penjara itu ia dua kali menyelundupkan surat yg ditujukan ke pengurus Masjid Al Alam Marunda.

Perjalanan kalian lanjutkan menuju Masjid Al-Alam dan Pantai Marunda. Di kompleks Masjid terdapat tempat bagi duduk-duduk, tempat wudhu dan toilet juga terdapat bedug. Sayangnya tak terdapat informasi riwayat masjid ini.

Masjid Al Alam juga disebut Masjid Si Pitung. Masjid ini memiliki arsitektur mirip dengan Masjid di Demak namun lebih mungil. Ada beragam versi riwayat berdirinya masjid ini.

Ada yg menyampaikan masjid ini dibangun Walisongo, ada juga yg menyampaikan dibangun oleh Fatahilah. Masjid ini kira-kira dibangun pada tahun 1600-an dan konon tidak jarang digunakan si Pitung bagi mengaji dan berlatih silat.

Tujuan terakhir kalian selanjutnya adalah Pantai Marunda. Pemandangan jalanan berubah, terkesan kumuh. Saya agak kecewa, mendapati pantainya begitu kotor dan terkesan kumuh. Tidak ada pasir hitam atau pasir putih karena segera berhadapan dengan laut.

Saya melihat berbagai kapal besar bersanding dengan perahu sederhana nelayan. Di sana-sini nampak kotor dan tak menarik. Saya tak tega saat ketika kembali berpapasan dengan rombongan besar keluarga yg membawa tikar dan makanan. Mereka rupanya hendak piknik ke pantai, tetapi piknik dimana? Pantainya kotor seperti itu.

 

 

 

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/03/22/115500/3413717/1025/mengenal-rumah-si-pitung-di-marunda
Terima kasih sudah membaca berita Mengenal Rumah Si Pitung di Marunda. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengenal Rumah Si Pitung Di Marunda"