Mengejar Cenderawasih, Burung Dari Surga Papua

No comment 98 views

Berikut artikel Mengejar Cenderawasih, Burung dari Surga Papua, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Tepat pukul enam pagi, Sabtu (11/6/2016), KompasTravel bersama tim ekspedisi Saireri dari WWF Indonesia, turun dari Kapal Gurano Bintang. Kami segala menaiki remora, sekoci Kapal Gurano Bintang menuju Kampung Barawai, di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Hari sebelumnya tim WWF Indonesia melakukan survei terkait potensi ekowisata, pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat. Kampung Barawai memiliki potensi ekowisata yg luar biasa, salah satunya adalah pengamatan burung Cenderawasih secara langsung.

Uniknya pengamatan cendrawasih di Kampung Barawai memiliki tata cara berbeda dibanding tempat lainnya. Di sini proses pengamatan cendrawasih dimulai dari ritual berkunjung ke kuburan nenek moyang.

“Sebelum masuk melihat Cenderawasih, kami siapkan takesi. Takesi itu dibawa bagi leluhur minta izin buat memasuki hutan,” ungkap Agus Rumapaidis, pawang burung cenderawasih dari Kampung Barawai.

Takesi teridiri dari sirih, pinang, dan juga rokok, yg dijadikan sesaji buat para leluhur kampung Barawai.

“Ada pengaruhnya kalau tidak pakai takesi dapat tidak lihat burung,” ungkap Agus.

Setelah melakukan ritual takesi, maka tim segera menuju tempat melihat burung cendrawasih yg berda di huta ujung tanjung kampung barawai.

Kami harus memasuki hutan sedalam 400 meter, dengan kontur alam yg cukup menantang. Jalan hutan licin dengan keadaan basah dan harus melewati sungai. 

“Sebenarnya tahun 1992 kawasan ini telah dikenal bagi melihat cendrawasih. Tahun 2007 dibangun jembatan bagi melewati sungai, tetapi sekarang telah hancur,” cerita Agus.

Melihat burung yg digadang sebagai “Bird of Paradise” (burung dari surga) ini memang tidak mudah, harus disesuaikan dengan waktu burung cenderawasih keluar dari sarang bagi berosialisasi dengan sesamanya, yakni di pagi dan sore hari.

Selain itu, burung ini cuma tinggal di dua kawasan dengan habitat asli di pohon kayu besi, kayu minyak, dan pohon beringin. Melihatnya harus penuh kejelian mata karena burung cenderawasih cuma terbang di dahan teratas pohon.

WWF Indonesia Burung Cenderawasih atau disebut pula Bird of Paradise.

Peluh akan bercucuran mengejar waktu kemunculan burung cenderwasih. Saat matahari semakin naik, maka makin sedikit waktu burung ini keluar dari sarangnya. 

Akhirnya sampailah kalian di pohon pertama, pohon beringin besar dengan ketinggian sekitar tiga puluh meter. Semua orang yg ingin melihat burung cenderawasih harus mematuhi sesuatu syarat, tidak boleh bersuara dan banyak melakukan gerakan.

Tak dua lama, Agus akan berbisik, “Ke sini-sini. Di sini kelihatan jelas.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat burung cenderawasih segera di habitatnya. Lebih takjub lagi, yg aku lihat adalah burung cenderawasih jantan.

Burung cenderawasih jantan terkenal mulai kecantikannya, dengan ekor panjang yg berkibas dengan bulu campuran warna putih, kuning, dan coklat keemasan. Burung ini terbang sekelibat, dulu menghilang tertutup rindangnya pohon.

Setelah itu yg terdengar cuma suaranya yg merdu, dan dua burung cenderawasih betina. Burung cenderawasih memang terkenal sebagai burung poligami. Satu jantan mampu kawin dengan dua betina dalam kurun waktu kawin sesuatu hari bisa mencapai empat kali.

Untuk menarik perhatian, maka burung cenderawasih jantan mulai bersaing dengan melakukan ‘tarian’ dan ‘nyanyian’, menunjukkan bulu dan suaranya yg indah.

Hari itu, lengkap telah pengalaman melihat burung surgawi dari habitatnya langsung. Jika Anda ke Papua, jangan lewatkan kesempatan buat melihat burung surgawi yg membuat takjub ini.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/20/180800427/Mengejar.Cenderawasih.Burung.dari.Surga.Papua
Terima kasih sudah membaca berita Mengejar Cenderawasih, Burung dari Surga Papua. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mengejar Cenderawasih, Burung Dari Surga Papua"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.