Menengok Desa Tarumajaya, Tempat Hulu Citarum Berada

No comment 85 views

Berikut artikel Menengok Desa Tarumajaya, Tempat Hulu Citarum Berada, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Di Desa Tarumajaya, Kabupaten Bandung, ada Situ Cisanti yg yaitu hulu Sungai Citarum. Traveler dapat kemping sekaligus menjelajahi desa ini lho.

Desa Tarumajaya yg terletak di Kabupaten Bandung Selatan yaitu situs utama di Bandung juga Indonesia. Beberapa minggu lalu, aku dengan d’Traveler lainnya berkesempatan mengenal sangat dalam desa ini. Tidak cuma mengunjungi, kalian kemping di dekat Situ Cisanti.

Meskipun Bandung diguyur hujan, kalian tetap berkumpul di Hotel Ibis Asia Afrika yg disusul dengan briefing. Menunggu briefing, kita berbincang dengan teman lama maupun teman baru di member d’Traveler.

Sampailah waktunya berangkat menuju Citarum. Kami bersiap-siap memasuki bus merah rombongan d’traveler. Sedikit pengarahan mengiringi kurang lebih 3 jam perjalanan menuju lokasi. Medan yg berliku-liku menggurat sedikit khawatir di benak aku di perjalanan.

Syukurlah akhirnya kalian memasuki wilayah pedesaan dengan mayoritas kegiatannya bertani, menarik sekali. Ketika siangnya kita sudah sampai di lokasi, kebanyakan d’Traveler sibuk jajan cilok, demi energi bagi memasang tenda.

Kami dibagi kelompok kemudian memasang tenda bersama-sama. Disambung makan bersama beralaskan daun pisang dan terasa berkali lipat nikmatnya. Pak Dudung memberi sedikit pencerahan sebelum akhirnya kita melakukan trekking.

Trekking berkeliling sisi Situ Cisanti sepanjang kira-kira 3 km sembari memunguti sampah terasa lebih menyenangkan dikerjakan bersama-sama. Disemangati juga dengan kuis berfoto bersama pillow man dari ibis yg lucu-lucu.

Terus berjalan sampai menemukan petilasan Eyang Dipati Ukur yg di dalamnya terdapat mata air Citarum dan Cikahuripan. Petilasan ini adalah tempat bersemedi, berdoa atau bertapa, dan tempat Eyang Dipati Ukur musyawarah tentang perlawanan kepada penjajah.

Eyang Dipati Ukur adalah tokoh yg sangat penting, terlebih situs sejarahnya ini dan tidak jauh dari sini terdapat makamnya. Bukan main, petilasan ini seakan bukan sembarangan dipilih oleh Eyang Dipati Ukur kala itu, karena di sini terdapat mata air yg konon sangat sakral.

Keberkahan dari air ini tidak terbilang, salah satunya membuat awet muda, dan enteng jodoh. Ah siapa yg tak mau? Menurut saya, mata air ini memang sangat sakral, lokasinya teduh, sejuk, airnya sangat bening kebiru-biruan.

Bahkan buat laki-laki dan perempuan terpisah. Kata penjaganya memang telah begitu seharusnya. Seringnya setiap malam Selasa dan Jumat, mulai banyak warga berziarah kemari, memanjatkan doa dan ritual lainnya.

Kebanyakan yg tiba malah dari warga jauh. Mungkin ini berarti keampuhan air ini tidak diragukan dua kalangan warga. Saking penasarannya, aku mencicipi meminum airnya dan membasuhnya ke muka. Biar afdol.

Melanjutkan perjalanan, aku berhenti di Citarum Kilometer 0, dermaga, dan titik start akhirnya. Duduk-duduk sebentar menikmati kopi hangat dan menikmati senja Citarum.

Malamnya, dapat dibilang ini inti keseluruhan acara. Kami berdiskusi bersama warga sekitar yg diwakili Pak Agus, Pak Yadi dan Pak Ian. Banyak sekali permasalahan yg terjadi di desa ini, yg sudah berlangsung sangat lama pula.

Masalah ini mengundang keprihatinan kami, selayaknya manusia yg juga bertanggung jawab atas kerusakan ekosistemnya. Bisa dilihat Desa ini minim pepohonan berakar panjang. Jarang sekali, malah banyak sayur-mayur, padahal lokasinya masih dekat dengan Gunung Wayang.

Tak cuma persoalan lingkungan, meski beragam permasalahannya bermuara pada sesuatu titik. Terhambatnya peluang usaha membuat mereka tidak ada pilihan yang lain menanam sayuran, bahkan usaha kopi pun tak gampang mendapat legalitas.

Banyaknya merek-merek itu mengambil barang mentahnya dari sini, tetapi tak lantas mengembangakan nama desanya. Sesi tanya jawab dibuka dengan sangat menarik, kami jadi mengetahui apa yg selama ini jauh kita gapai informasinya karena jauh dari lingkungan yg setiap hari kita lihat.

Sesi api unggun mempererat pertemanan antara d’Traveler. Acara ini dikerjakan dengan banyak keseruan di dalamnya karena ada penampilan yel-yel yg seru dan unik. Bahkan ada yel-yel yg cuma 2 sampai 3 kalimat seperti ‘Kami menyerah. Kami mengantuk! Bye!’ yg tiba dari kelompok ‘peyeum-puan geulis’ yg aku terlibat di dalamnya. Dan yel-yel kelompok yang lain yg kreatif dan menghibur. Kegiatan hari itu ditutup dengan tidur.

Hari berikutnya, setelah bersiap-siap merapikan tenda, merapikan diri, makan, mandi dan yang lain sebagainya. Seperti biasa briefing dikerjakan sebelum memulai kegiatan, hari itu kita mulai mengunjungi rumah salah sesuatu warga yg mengembangkan teknik biogas di rumahnya.

Kami berjalan kaki bersama menuju lokasi, memotret momen selama perjalanan. Selain peternakan sapi yg dimiliki warga ini, ada juga yg dikelola bersama, merupakan peternakan sapi komunal.

Kandang sapi bersama, dan ada campur tangan pemerintah desanya juga. Salut melihat peternak yg dengan telaten membersihkan kandang selama 3 jam sekali, karena kandang sapi harus terus bersih itu berpengaruh pada produksi susunya juga.  Dan lagi, supaya tak ada lalat mengganggu. Seluruh bagian sapi mampu dimanfaatkan, itulah mengapa berinvestasi pada sapi di desa ini sangat lumayan.

Kami disuguhi pagelaran adat yg sedang berlansung di Desa Tarumajaya seperti acara sunatan atau hajatan, tidak mengurangi keseruan perjalanan dan mengingatkan betapa kayanya budaya yg Indonesia miliki.

Sepulang dari Desa Tarumajaya yg tidak lupa ditutup dengan belanja oleh-oleh, kelelahan kalian terbayar dengan beristirahat selama perjalanan pulang, dengan waktu sekitar 3 jam dimanfaatkan sebaik mungkin.

Oh iya, kalian sukses membuat hastag #SelamatkanCitarum menjadi Trending Topic, bersaingan dengan Trending Topic di Jawa Barat juga perihal PON Jabar. Kuis live tweet melahirkan dua pemenang dengan tweet terbaik.

Tweet yg kita post di Twitter sebenarnya salah sesuatu bentuk simpati kita dengan ingin mengabarkan keprihatinan di balik keindahan danaunya. Mengingat alam ini dibentuk berdasarkan keseimbangan, kalian harus menjaga keseimbangan itu juga.

Bayangkan alam ini juga hidup seperti kita, dan ingin diperlakukan dengan baik juga. Traveling kali ini bukan sekedar eksplor, tetapi menyirat banyak pelajaran makna penting.

Kalau malam itu Tarumajaya sedingin itu, maka kalau saja pohon-pohonannya stabil, maka dinginnya mulai lebih dari yg kita rasakan malam itu, airnya juga. Ah, purnama malam itu juga mengundang keoptimisan aku bahwa kalian mampu memperbaikinya dari sekarang, agar anak cucu kami masih mampu melihat Citarum.

Tips kemping sehat:

Membawa kantong kresek bagi wadah sampah, membawa botol minum, mencuci piring setelah makan atau membuang segera bekas makannya (mulai dari tanggung jawab terkecil).

Terimakasih kemping menyenangkannya detikTravel. Jadi pengalaman berkesan mampu 1 tenda dengan 9 orang lainnya. Saya jadi rindu kemping bersama d’Traveler lagi.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/09/29/112500/3305598/1025/menengok-desa-tarumajaya-tempat-hulu-citarum-berada
Terima kasih sudah membaca berita Menengok Desa Tarumajaya, Tempat Hulu Citarum Berada. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Menengok Desa Tarumajaya, Tempat Hulu Citarum Berada"