Mendatangi Bacan, Menelisik Sejarah Pulau Cantik Di Halmahera Selatan

Berikut artikel Mendatangi Bacan, Menelisik Sejarah Pulau Cantik di Halmahera Selatan, Semoga bermanfaat

LABUHA, KOMPAS.com – Pesawat kecil yg aku tumpangi mendarat mulus di Bandara Oesman Sadik, Labuha, Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan setelah menempuh perjalanan selama 25 menit dari Bandara Sultan Babullah Ternate, Maluku Utara.

Bacan, dua waktu dulu tersohor karena salah sesuatu macam batu akik yg berkualitas baik tiba dari pulau ini. Namun, jauh ke belakang, Bacan adalah salah sesuatu dari empat kesultanan yg ada di Maluku atau yg disebut Kesultanan Moloku Kie Raha.

Oleh karena jejak sejarahnya itulah, hal pertama yg aku datangi adalah Rumah Kesultan Bacan, yg hingga kini masih terjaga. Bangunan rumah berarsitektur khas kolonial dengan atap berwarna hijau itu terletak di Jalan Oesman Syah, Kecamatan Amasing.

Mendatangi rumah sultan adalah kesempatan melihat-lihat benda bersejarah dari Kesultanan Bacan. Dahulu, Kesultanan Bacan memiliki peranan utama sebagai pemasok bahan-bahan pangan bagi semua wilayah Maluku Utara.

Karena kedudukan pentingnya itu, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan bahkan disebut hingga ke Papua bagian Barat. Pala dan cengkeh yaitu salah sesuatu hasil bumi utama dari Bacan yg menggoda bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mendatangi pulau ini.

Jejak kolonialisme itu setidaknya mampu dilihat dari bangunan Benteng Bernaveld yg masih tegak berdiri. Masih berada di wilayah yg sama dengan Kesultanan Bacan, benteng yg berbentuk segi empat ini terletak di Jalan Benteng Bernaveld.

Walau tak terlalu tinggi, namun dari atas benteng aku dapat melihat pantai dan perkampungan penduduk dengan panoramanya yg indah. Benteng ini dibangun pertama kali oleh Portugis ketika datang di Bacan pada tahun 1558.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Kapal wisata berlabuh di salah sesuatu pantai di Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Bangunan benteng yg masih kecil waktu itu tak bertahan lama di tangan Portugis. Kedatangan bangsa Spanyol kemudian mengambil alih benteng tersebut. Namun pada tahun 1609, Belanda melalui Laksamana Muda Simon Hoen yg dibantu oleh Sultan Ternate memaksa Spanyol menyerahkan Bernaveld.

Atas gagasan Hoen, benteng kemudian diperkuat dan direnovasi. Empat bastion dibangun berkeliling benteng, nama Bernaveld pun kemudian disandingkan ke benteng ini.

Namun Bacan tak semata soal sejarah. Pulau ini juga menyimpan sejumlah destinasi alam yg tidak kalah indahnya. Bagi yg milik minat pada wisata alam liar, dapat menyusuri Cagar Alam Gunung Sibela yg mempunyai luas 23.024 ha.

Sibela adalah salah sesuatu gunung tertinggi di Maluku Utara dengan ketinggian mencapai 2.118 meter. Pecinta fotografi alam liar dan peneliti mulai dipuaskan dengan keanekaragaman hayati yg dimiliki Sibela.

Di sini terdapat Yakis atau monyet pantat merah (Macaca nigra sp), burung nuri ternate, burung bayan, burung raja, kasturi merah, kakatua alba, dan berbagai macam burung lainnya. Demikian pula dengan berbagai macam flora yg khas.

Pantai-pantai di Pulau Bacan juga tidak kalah indahnya, seperti Dermaga Biru di Kecamatan Bacan Timur. Pantai yg indah ini terdapat banyak bangunan rumah makan dan cottage. Pengunjung mampu berenang dan snorkeling di pantai ini.

Tak jauh dari Dermaga Biru terdapat Pantai Sibela yg tidak kalah indahnya. Selain itu, salah sesuatu pantai yg bagus juga berada di Desa Panamboang. Kesibukan para nelayan menjadi salah sesuatu daya tarik di Panamboang.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Pohon beringin yg diperkirakan sudah berusia ratusan tahun berada di pusat kota Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Namun di bagian pantai lainnya, ketenangan menjadi pesona tersendiri. Lautnya begitu tenang dan sangat baik buat dijadikan lokasi berenang. Keindahan bawah airnya sudah menarik banyak wisatawan asing mendatangi Bacan.

Saya tidak mampu mengunjungi seluruh destinasi cuma dalam sehari. Sebab masih terdapat banyak lagi lokasi indah seperti Pasir Putih Wayaua, Air Terjun Bibinoi, Air Terjun Amasing, air mata Belanda, gardu pandang Mandaong.

Mengakhiri perjalanan, di sore hari aku mendatangi pusat jajanan di pinggir Swering. Beberapa warung makan yg berada di dekat pasar Labuha itu menawarkan makanan khas daerah Maluku seperti ubi, pisang, sagu dan olahan ikan segar.

Jangan lupa, Bacan milik 16 macam sambal. Pastikan lidah anda bisa mencecap aneka sambal tersebut.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/22/140900927/mendatangi.bacan.menelisik.sejarah.pulau.cantik.di.halmahera.selatan
Terima kasih sudah membaca berita Mendatangi Bacan, Menelisik Sejarah Pulau Cantik di Halmahera Selatan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mendatangi Bacan, Menelisik Sejarah Pulau Cantik Di Halmahera Selatan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.