Mendamba Wisata Hemat Di Negeri Sakura

No comment 93 views

Berikut artikel Mendamba Wisata Hemat di Negeri Sakura, Semoga bermanfaat

MARGIE menebar pandangan ke semua penjuru Stasiun Shiroishizao yg lengang. Matanya dengan cepat menangkap kedatangan kita yg baru datang di ujung stasiun. Sejenak ia ragu, namun akhirnya memberanikan diri bagi mendekat.

Margie menyapa sembari menanyakan tujuan perjalanan kita yg tak lama lagi mulai bertolak menuju kawah hijau di puncak Gunung Zao. Gunung ini berada di ketinggian 1.870 meter di atas permukaan laut, Prefektur Yamagata, wilayah Tohoku, Jepang.

Mengetahui rencana kami, Margie menanyakan seandainya dirinya boleh menumpang dalam kendaraan yg kalian gunakan. Ia bermaksud menuju The Fox Village, ”Namun, tak ada transportasi umum menuju desa itu. Bisakah aku menumpang? Saya bersiap membayar sejumlah uang,” ujarnya.

The Fox Village yaitu area pedesaan tempat penangkaran rubah. Jarak desa itu berkisar 8 kilometer dari stasiun. Namun, tanpa kendaraan umum, Margie yg baru pertama kali berkunjung—ia berasal dari Belanda—tentunya mulai kesulitan mencapai lokasi. Terlebih lagi, cuaca di luar sangat dingin dan angin bertiup lebih kencang daripada biasanya.

Satu-satunya pilihan adalah menyewa kendaraan. Ia harus mengeluarkan 8.000 yen atau lebih dari Rp 1 juta, terbilang mahal buat sebuah perjalanan singkat selama setengah hari.

Pemandu kami, Yuriko, terpaksa meminta maaf kepada Margie. Ia tak mungkin bisa menumpang karena rute tujuan kalian berbeda arah. Kawah Zao yg mulai kita kunjungi terletak di timur laut, sedangkan desa rubah itu di barat.

”Kendaraan kita tak melewati desa itu,” ujarnya sembari melirik seorang pria setengah baya yg sudah menunggu kita bagi langsung masuk ke dalam minibus yg mulai membawa kita ke lokasi tujuan.

Margie dengan berat hati akhirnya membatalkan perjalanan ke desa rubah. Bersama rekannya, ia pun bertolak ke kota Sendai.

Sebagai pemandu wisata sekaligus warga Jepang, Yuriko prihatin apabila mendapati wisatawan terkendala oleh masalah transportasi. Salah sesuatu kelemahan sektor pariwisata di wilayah tersebut, diakuinya, adalah infrastruktur yg belum merata.

Jepang boleh jadi memiliki kereta shinkansen yg meluncur bagai peluru. Namun, potensi wisata di pedesaan belum semuanya seiring dengan ketersediaan transportasi umum.

”Akibatnya, tak segala obyek mampu dicapai dengan biaya terjangkau,” ujarnya. Turis harus mengeluarkan biaya lebih besar menyewa kendaraan—sesuatu yg menjadi pertimbangan berat kaum backpacker yg mengandalkan wisata berbiaya hemat.

Wilayah Tohoku yg terletak di bagian utara Jepang tak kalah menarik dibandingkan dengan Tokyo, Osaka, dan Kyoto, yg yaitu primadona pariwisata negeri Sakura itu. Namun, tingkat kunjungan wisatawan belum maksimal.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/17/080400027/Mendamba.Wisata.Hemat.di.Negeri.Sakura
Terima kasih sudah membaca berita Mendamba Wisata Hemat di Negeri Sakura. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mendamba Wisata Hemat Di Negeri Sakura"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.