“Mencicipi” Brussels, Dari Istana Raja Hingga Rumah Karl Marx

Berikut artikel “Mencicipi” Brussels, dari Istana Raja hingga Rumah Karl Marx, Semoga bermanfaat

BRUSSELS, KOMPAS.com – Suhu udara yg berkisar antara 2-4 derajat Celcius yg menyelimuti kota Brussels, Belgia, di akhir November memang menusuk tulang.

Brussels, yg juga adalah ibu kota Uni Eropa, memiliki banyak hal buat dijelajahi, tapi karena terbatasnya waktu maka Kompas.com cuma memilih lokasi tertentu bagi dikunjungi.

Salah satunya adalah Grote Markt, lapangan paling banyak dikunjungi warga dan wisatawan di Brussels.

Di tempat ini banyak berdiri bangunan bersejarah, kerap digelar atraksi hiburan, serta kawasan belanja suvenir hingga kuliner khas Belgia.

Grote Markt yg berukuran 68 kali 110 meter itu yaitu salah sesuatu kawasan warisan budaya UNESCO.

Untuk mencapai tempat ini, Kompas.com berjalan kaki menyusuri jalan berlapis batu Rue de la Colline yg sempit dan diapit berbagai toko suvenir dan cokelat.

Tak sampai lima menit dibutuhkan bagi menyusuri jalan sempit itu dan ketika datang di ujungnya sebuah lapangan terbuka yg diapit berbagai gedung kuno segera tersaji di depan mata.

Balai kota Brussels

Ervan Hardoko/Kompas.com Balai kota Brussels yg dibangun pada abad pertengahan dengan menaranya yg setinggi 96 meter.

Pemandangan paling menonjol di Grote Markt adalah gedung balai kota Brussels, sebuah bangunan bergaya gotik yg dibangun pada 1402 hingga 1420.

Fitur paling menonjol dari bangunan abad pertengahan ini adalah menara setinggi 96 yg selesai dibangun pada 1454.

Di puncak menara itu berdiri sebuah patung logam malaikat Mikael setinggi lima meter yg diyakini sebagai pelindung kota Brussels.

Bangunan ini sepanjang sejarahnya pernah digunakan buat berbagai fungsi selain sebagai kantor pemerintahan.

Salah sesuatu fungsinya adalah sebagai rumah sakit darurat dan penampungan pengungsi di ketika Perang Dunia I pecah.

Museum kota Brussels

Museum yg didedikasikan buat menampung sejarah dan legenda kota Brussels ini, yaitu gedung tua yg dibangun pada 1860 dan resmi digunakan pada 1997.

Gedung museum ini berada di seberang gedung balai kota dan dikenal dengan nama Maison du Roi (Rumah Raja). Bangunan ini juga masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya UNESCO.

Saat gedung ini dibangun, kawasan di sekitarnya yaitu pasar pakaian dan roti. Sehingga warga berbahasa Belanda itu hingga kini masih menyebut bangunan tersebut sebagai Broodhuis alias rumah roti.

Rumah Karl Marx

Ervan Hardoko/Kompas.com Sebuah plakat yg dipasang di dinding salah sesuatu bangunan di Grote Markt, Brussels, Belgia menunjukan filsuf Karl Marx pernah tinggal di tempat itu.

Di salah sesuatu sudut Grote Markt, berdiri sebuah restoran bernama Le Cygne atau dalam bahasa Indonesia berarti Sang Angsa.

Sebagai sebuah bangunan, tempat ini bukan tempat yg istimewa. Namun, penghuni tempat inilah yg membuatnya menjadi istimewa.

Gedung ini menjadi sesuatu dari lima lokasi yg menjadi tempat Karl Marx menulis bukunya Manifesto Komunis ketika tinggal di Brussels, setelah diusir pemerintah Perancis.

Di salah sesuatu sudut di dinding bangunan ini ditempel sebuah plakat yg ditulis dalam bahasa Latin, Ici Vecut Karl Marx 1846-1849 atau di sini tinggal Karl Marx.

Mengelus patung Everard t’Serclaes

Ervan Hardoko/Kompas.com Warga Brussels percaya siapa saja yg mengelus patung Everard t’Serclaes mulai kembali lagi ke ibu kota Belgia itu.

Tak jauh dari Le Cygne, bangunan yg pernah disinggahi Karl Marx, terdapat sebuah patung dengan posisi berbaring yg juga ramai dikunjungi wisatawan.

Itu adalah patung Everard t’Serclaes (1320-1388), seorang bangsawan yang berasal Brussels yg terkenal setelah merebut kembali kota itu dari tangan bangsa Flemmings.

“Orang di sini yakin siapa saja yg mengelus patung ini mulai kembali ke Brussels,” kata Ance Maylani, Sekretaris Pertama Fungsi Diplomasi Publik, Penerangan, dan Sosial Budaya KBRI Brussel.

Memang benar, puluhan wisatawan silih berganti mengelus patung tersebut, terutama di bagian tangan yg diyakini mampu membuat si pengelus kembali ke Brussels.

Apakah benar keyakinan masyarakat itu? Yang jelas, karena tidak jarang dielus maka kilau patung logam ini tetap terjaga.

Istana kerajaan Belgia

Ervan Hardoko/Kompas.com Istana kerajaan Belgia kelihatan dari arah Taman Brussels.

Sebagai sebuah negeri monarki, istana keluarga kerajaan menjadi salah sesuatu kunjungan wajib wisatawan yg berkunjung ke Brussels.

Istana ini terletak di depan Taman Brussels dan dibangun pada 1818-1820. Meski demikian, pembangunan tambahan selalu dikerjakan hingga 1934.

Bagian depan istana ini memiliki ukuran 50 persen lebih panjang dari Istana Buckingham, London. Namun, luas lantai 33.027 meter persegi cuma separuh dari luas Istana Buckingham.

Sayangnya, istana ini cuma dibuka bagi umum pada Juli hingga September. Sehingga Kompas.com yg berkunjung pada November tahun ini cuma dapat menikmati kemegahan istana itu dari luar.

Selain sebagai tempat tinggal keluarga kerajaaan, istana tersebut juga digunakan buat menerima para tamu negara dan menggelar berbagai ajang kenegaraan.

Taman Brussels

Ervan Hardoko/Kompas.com Taman Brussels yg terletak di depan istana Raja Belgia ini memiliki luas lebih dari 13 hektar.

Taman ini terletak di seberang istana kerajaan dan dikelilingi gedung parlemen dan kedutaan besar Amerika Serikat.

Taman ini dibangun pada 1776-1783 di lokasi bekas istana Coudenberg, yg pernah menjadi pusat pemerintahan selama 700 tahun sebelum dihancurkan pada 1731.

Taman Brussels ini dibangun dengan gaya geometris neoklasik oleh Gulles-Barnabe Guimard dan Joachim Zinner.

Di taman seluas 13, 1 hektar ini dikelilingi beberapa baris pohon jeruk yg pada musim panas pemandangannya mulai sangat indah.

Namun karena Kompas.com berkunjung pada ketika musim dingin, hampir seluruh pohon meranggas tanpa daun di dahan-dahannya.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/02/200900127/.mencicipi.brussels.dari.istana.raja.hingga.rumah.karl.marx
Terima kasih sudah membaca berita “Mencicipi” Brussels, dari Istana Raja hingga Rumah Karl Marx. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "“Mencicipi” Brussels, Dari Istana Raja Hingga Rumah Karl Marx"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.