Memompa Air Liur Di Tanah Batak, Horas!

No comment 69 views

Berikut artikel Memompa Air Liur di Tanah Batak, Horas! , Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – “Sesuatu” itu adalah tatkala lelehan gula merah yg legit itu masuk ke mulut, memenuhi ruang rasa bersama gumpalan-gumpalan tepung beras kukus berikut parutan kelapa yg menyebarkan rasa hangat di mulut.

Orang Batak bilang, itu namanya sensasi makan kue ombus-ombus. Kue ini mempunyai macam lapet dan pohul-pohul.

Lapet berbentuk trapesium, sementara pohul-pohul berbentuk seperti benda yg diremas sekepalan tangan. Hanya pohul-pohul yg tampil telanjang alias tidak dibungkus.

Konon dinamai ombus-ombus lantaran cara memakan kue yg dibungkus daun pisang itu harus ditiup-tiup atau diembus-embus dengan napas. Pastinya, makan kue ombus-ombus memang paling nikmat ketika penganan khas Tapanuli, Sumatera Utara, itu masih dalam kondisi panas.

Di Toba Samosir, kue ombus-ombus, tak melenggang sendirian sebagai sajian khas. Pasalnya, ada ikan arsik yg tersohor hingga ke mana-mana. Arsik adalah bumbu olahan buat makanan berbahan dasar ikan mas. Ikan ini hidup di Danau Toba. Jadi, singkatnya, kalian tinggal ambil saja ikan itu.

Yang menonjol dari bumbu arsik adalah warnanya yg kuning emas. Tak hanya itu, bumbu arsik kian “nendang” rasanya gara-gara ada andaliman.

Khalayak banyak mengenal andaliman sebagai “merica batak”. Bentuk tanamannya berupa perdu rimbun dengan duri runcing berwarna merah marun. Di situlah tersembunyi pucuk-pucuk muda berujung bulir andaliman. Bentuknya memang mirip bulir lada.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Penjual ombus-ombus, camilan khas masyarakat Batak.

Sebagaimana ditulis Kompas dua waktu silam, nama Latin andaliman adalah Zanthoxylum acanthopodium. Sejatinya, “merica batak” ini tumbuh juga di berbagai belahan Asia, seperti China, India, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Perjalanan waktu membuat “merica batak” atau “rempah tuba” memang identik dengan kuliner Batak. Ini yg menjadi pembeda penting masakan khas Batak dengan masakan kari yg bertumpu pada cita rasa daun kari alias Murraya koenigii.

Di semua Sumatera, masakan kari memang terbilang mengemuka. Akan tetapi, seolah ada garis batas tegas yg memperlihatkan bahwa masakan andaliman milik wilayahnya sendiri.

Silakan bertandang ke Medan dari Provinsi Aceh melalui jalur Aceh Tengah buat membuktikannya. Begitu datang di wilayah pesisir Aceh yg meliputi Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Barat, bau masakan kari merajalela.

Namun, begitu memasuki wilayah Aceh Tengah yg kebanyakan penduduknya orang Gayo, giliran aroma andaliman merangsek ke hidung. Jangan lupa, aroma khas ini masih selalu menguat hingga di Berastagi, Sumatera Utara.

Nah, ini juga unik. Ikan mas yg menjadi bahan santapan tidak dibuang sisiknya. Ikan itu larut dalam lumuran bumbu kuning dengan kandungan andaliman. Luar biasa rasanya, membuat lidah bergetar!

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Mi Gomak

Selanjutnya, intip dan cicipi juga lezatnya mie gomak. Mie dengan kuah berlemak ini bolehlah diacungi jempol sebagai spaghetti-nya kuliner Batak. Mengapa disebut “gomak”, lantaran mi ini diambil dengan cara di-gomak alias memakai tangan. Alamak nikmatnya!

Satu catatan penting, selain makanan-makanan tadi, kuliner Danau Toba juga dikenal lewat makanan non-halal. Tenang saja, buat bagian ini, para penikmat kuliner mampu membaca plang nama bertuliskan makanan “halal” atau “non-halal”. Pastikan Anda tak salah sasaran. Sudah jelas petunjuknya.

Tantangan Danau Toba

Sayangnya, wisata kuliner belum cukup menjaring pelancong buat tiba ke Danau Toba. Hal itu kelihatan dari jumlah kunjungan wisatawan yg fluktuatif dalam kurun lima tahun terakhir.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, bagi wisatawan mancanegara pada 2011 berjumlah 54.250 orang, selang setahun turun menjadi 48.767 orang.

Pada 2013, jumlah turis asing ke sinikembali meningkat perlahan menjadi 49.972 orang. Lalu, sempat meningkat signifikan pada 2014 sebanyak  57.776 dan selang setahun kemudian menjadi 61.337 orang.

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Wisatawan tengah berenang di Pantai Pasir Putih, Danau Toba, Samosir, Sumatera Utara.

Setali tiga uang, jumlah wisatawan domestik pun mengalami fluktuasi. Pada 2011 tercatat mencapai 1.124.638 orang, kemudian meningkat menjadi 1.180.582 pada 2012.

Akan tetapi, pada 2013 jumlah wisatawan justru menurun menjadi 1.117.486 orang. Selang setahun kemudian terjadi peningkatan menjadi 1.128.054 dan pada 2015, berjumlah 1.268.445 wisatawan.

Infrastruktur

Naik turunnya jumlah wisatawan menjadi tantangan sendiri buat pemerintah. Selain promosi yg selalu butuh inovasi, tantangan lainnya Danau Toba adalah masih kurang tertatanya akses.

Tercakup di dalam tantangan itu adalah infrastruktur. Presiden Joko Widodo pun sampai khusus menegaskan, meminta percepatan penuntasan pengembangan Bandara Silangit, akses cepat bagi tiba ke Danau Toba.

Penegasan itu disampaikannya usai terbang menumpang pesawat CN-295 dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara, Selasa (1/3/2016). Peryataan Presiden segera berjawab.

“Kami targetkan pengembangan Bandara Silangit selesai pada September 2016,” kata Direktur Utama Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi, seperti dikutip Kompas.com, pada hari yg sama.

Bambang Jatmiko/Kompas.com Bandara Silangit, Sumatera Utara

Sementara itu, dari laman silangit-airport.co.id diperoleh keterangan bahwa Bandara Silangit di Siborong-borong, Tapanuli Utara, telah dibangun pada masa penjajahan Jepang, merupakan pada kurun 1942-1945. Pada 1995 pemerintah membangun kembali bandara ini dengan penambahan landas pacu sepanjang 900 meter, menjadi total 1.400 meter.

Pembangunan berikutnya dimulai pada Maret 2005. Hingga akhir 2011, panjang landasan pacu bandara itu telah mencapai 2.400 meter.

Pada perencanaan 2015, landasan pacu Bandara Silangit tidak cuma diperpanjang lagi, tapi juga dilebarkan. Agar dapat didarati pesawat berbadan lebar, landasan bandara dibuat sepanjang 2.650 meter dengan lebar 45 meter. Nah, rencana tersebut sekarang telah mewujud.

Festival Danau Toba

Makanan adalah salah sesuatu kekayaan di Tanah Batak. Pesona wilayah di seputar danau tektonik terbesar se-Asia itu adalah kekayaan yg lain. Wajar bila Pemerintah kemudian memutuskan kawasan ini sebagai sesuatu dari sepuluh destinasi prioritas buat pariwisata Indonesia.

“Adanya Bandara Silangit mulai mempermudah wisatawan mengunjungi Danau Toba,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Rahman kepada Kompas.com, Senin (2/5/2016).

Kemudahan akses bagi menjangkau suatu destinasi adalah salah sesuatu faktor kunci keberhasilan pengembangan destinasi, selain dari potensi keindahan atau kekayaan alam setempat. Khusus Danau Toba, beragam program pengembangan infrastruktur dan akses ini telah termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019.

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO Pelajar SMA menarikan tortor atau manortor dalam ajang Festival Tumba dan Tortor di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yg berada tepat di tepian Danau Toba, dua waktu lalu. Lomba tortor buat pelajar SMA dan tumba atau menari sambil menyanyikan lagu Batak untuk pelajar digelar sebagai promosi kekayaan budaya adat Batak.

Seperti apa perkembangan yg telah didapat dari rencana tersebut, Festival Danau Toba, Di Muara, Tapanuli Utara, pada 9-12 September 2016 dapat jadi momentum bagi melihatnya. Bagi pengunjung, festival ini pun mampu menjadi salah sesuatu cara buat turut mengenalkan pesona Indonesia, bermula dari Tanah Batak.

Dalam perkembangan teknologi digital dan media sosial, tidak ada ruginya pula untuk para pelancong berbagi lewat dunia maya. Lewat Twitter atau Instagram, misalnya. Sisipkan saja penyebutan akun @ceritadestinasi di situ.

Berbagi cerita soal pesona wisata Indonesia, tidak cuma dari Danau Toba, juga mampu dikerjakan lewat fan page Facebook Cerita Destinasi. Di segala unggahan soal destinasi wisata lewat akun media sosial tersebut, mampu dipasang tanda pagar (tagar) #ceritadestinasi.

Siapa tahu, dari kisah-kisah perjalanan Anda, dunia dapat lebih dalam mengenal Indonesia. Mulai saja dari memompa air liur di sekitar Danau Toba. Horas!

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/14/163700627/Memompa.Air.Liur.di.Tanah.Batak.Horas.
Terima kasih sudah membaca berita Memompa Air Liur di Tanah Batak, Horas! . Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Memompa Air Liur Di Tanah Batak, Horas!"