Melestarikan Kalong Di Tepi Teluk Tomini

No comment 85 views

Berikut artikel Melestarikan Kalong di Tepi Teluk Tomini, Semoga bermanfaat

EMPAT bulan lalu, Moh Tanda (65) dengan inisiatif sendiri memotong tiang ”pancang” kalong di sekitar hutan mangrove di Teluk Tomini. Setelah lama memburu binatang yg peredarannya dibatasi itu, ia akhirnya bertobat. Semangat yg sama selalu digelorakan agar kalong lestari di hutan bakau di tepi Teluk Tomini di Sulawesi Tengah.

Tanda turut menggaet orang yang lain dalam langkah maju itu, ia berhasil meyakinkan beberapa anaknya dan empat warga Desa Tomoli, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, buat berhenti memburu kalong.

”Seringnya orang dari kampus dan wisatawan tiba ke tempat ini membuat aku sadar bahwa kalong ini istimewa dan karena itu perlu dijaga,” ujar Tanda, Selasa (20/9/2016).

Dahulu, setiap hari Tanda berburu kalong dan mendapatkan rata-rata 15 ekor. Hasil buruannya tersebut dijual buat konsumsi. Kini, dia bertanggung jawab memegang buku tamu buat mencatat pengunjung ke habibat kalong.

Kalong yaitu anggota bangsa kelelawar (Chiroptera). Di Desa Tomoli, kalong kapauk (Pteropus vampyrus) sudah ada sejak sekitar 25 tahun lalu. Kalong macam ini mampu berbobot 1,5 kilogram, lebar sayap 17 sentimeter, dengan bagian dalam sayap berwarna hitam dan kemerahan.

Dalam bahasa Kaili, bahasa suku Kaili, suku terbanyak di Sulteng, kalong ini disebut paniki.

Konvensi Perdagangan Internasional buat Perdagangan Flora dan Fauna yg Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered Species/CITES) pada 1989 memasukkan kalong dalam kategori spesies yg perdagangannya dibatasi secara ketat. Ini karena populasinya di dunia, terutama di hutan daerah tropis, kian terancam.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Kelautan dan Perikanan serta Badan Lingkungan Hidup sudah memutuskan kawasan itu sebagai daerah konservasi pesisir pada 1999. Penetapan kawasan konservasi itu sekaligus bagi melindungi kalong dari perburuan atau penangkapan.

Desa Tomoli berjarak 100 kilometer dari Palu, ibu kota Provinsi Sulteng, atau 40 km dari Parigi, ibu kota Kabupaten Parigi Moutong. lokasi habibat kalong cuma 100 meter dari jalan Trans-Sulawesi menuju Provinsi Gorontalo.

Di daerah itu, kalong menetap di pohon bakau/mangrove. Kawanan kalong biasanya keluar dari habitatnya buat mencari makan pada pukul 18.15-18.30 Wita saban hari.

Para pemburu kalong menancapkan tiang di sekitar kawasan hutan. Tali dibentangkan di antara beberapa tiang bagi menggantung mata pancing. Jerat itu menjebak kawanan kalong yg kembali ke habibat pada dini hari sepulang mencari makanan di pegunungan.

Saat Kompas berkunjung ke tempat tersebut, terdapat banyak tiang dipancang dengan gelantungan mata pancing pada seutas tali. Ada tiang yg didirikan berjarak 10 meter dari hutan mangrove, ada pula yg ditancapkan segera di antara pohon bakau.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/03/081900127/melestarikan.kalong.di.tepi.teluk.tomini
Terima kasih sudah membaca berita Melestarikan Kalong di Tepi Teluk Tomini. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Melestarikan Kalong Di Tepi Teluk Tomini"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.