Masjid Unik Di Jogja Ini Hanya Punya Satu Tiang

No comment 91 views

Berikut artikel Masjid Unik di Jogja Ini Hanya Punya Satu Tiang, Semoga bermanfaat

SEBAGAI kerajaan Islam yg memiliki sejarah cukup panjang, Keraton Ngayogyakarta memiliki dua peninggalan masjid yg tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah sesuatu masjid yg cukup unik yg ada di Yogyakarta adalah Masjid Keraton Soko Tunggal. Masjid Keraton Soko Tunggal ini terletak di kompleks Keraton Kesultanan Yogyakarta, Jalan Taman 1, Nomor 318, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, tepatnya di depan pintu masuk obyek wisata Taman Sari.

Sesuai namanya, masjid ini memiliki keunikan yakni cuma memiliki sesuatu buah soko guru (tiang penyangga utama). Biasanya bangunan berkonsep Jawa disangga oleh minimal empat batang saka guru.

Menurut prasasti yg tertera pada dinding depan, Masjid Keraton Soko Tunggal diresmikan pada hari Rabu Pon tanggal 28 Februari oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Masjid ini selesai dibangun pada hari Jumat Pon tanggal 21 Rajab tahun Be dan ditandai dengan Candrasengkala “Hanembah Trus Gunaning Janma” 1392 H atau 1 September dengan suryasengkala “Nayana Resi Anggatra Gusti” 1972 M.

Seorang saksi pembangunan Masjid Keraton Soko Tunggal, Hadjir Digdodarmodjo (84), menceritakan bahwa pembangunan masjid tersebut yaitu inisiatif masyarakat yg ada di sekitar Taman Sari yg menginginkan sebuah masjid sebagai tempat beribadah.

“Dulu di wilayah sini tak ada masjid, seandainya melakukan salat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainya kita memakai salah sesuatu bagian bangunan di Taman Sari yg bernama Kedung Pengantin,” ujar Hadjir.

Akhirnya dibentuklah sebuah panitia pembangunan masjid yg diketuai oleh Kakak Sri Sultan Hamengkubuwono IX, GBPH Prabuningrat. Karena diketuai oleh Kerabat Keraton Yogyakarta, proses pembangunan masjid tersebut relatif berjalan lancar.

Tak ayal, Presiden Indonesia ketika itu, Soeharto juga turut memberikan bantuan pembangunan masjid.

“Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 900 meter persegi, yg yaitu tanah pemberian Sultan HB IX. Tidak cuma memberikan tanah, beliau juga berpesan agar bangunan masjid dibuat dengan arsitektur Jawa, dan beliau menunujuk R. Ngabehi Mintobudoyo yg yaitu arsitek Keraton Yogyakarta, sebagai arsitek pembangunan Masjid Keraton Soko Tunggal,” ujar Hadjir.

Lebih lanjut dia menceritakan, Sultan HB IX akhirnya menetapkan bagi memilih tanah yg ketika ini digunakan sebagai tempat berdirinya bangunan masjid, karena di tanah tersebut dikuburkan 10 orang pejuang yg meninggal ketika Serangan Umum 11 Maret 1949, Sultan HB IX ingin masjid tersebut juga menjadi monumen buat para pejuang tersebut.

Tribun Jogja/ Hamim Thohari Masjid Soko Tunggal

Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. Jika para jamaah duduk di ruangan masjid mulai melihat 4 batang saka bentung dan 1 batang saka guru sehingga segala berjumlah 5 buah.

Hal ini yaitu lambang negara Pancasila. Saka guru yaitu lambang sila yg pertama, yakni Ketuhanan Yang Mahaesa.

Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung, yaitu lambang kewibawaan negara yg melindungi rakyatnya. Soko guru yg digunakan adalah kayu jati yg berukuran 50 cm x 50 cm yg didatangkan dari daerah Cepu.

Saat ditebang, umur kayu jati tersebut sudah mencapai 150 tahun. Sedangkan umpak (batu penyangga tiang) berasal dari petilasan Sultan Agung Hanyokrokusuma yg lalu berkedudukan di Pleret Bantul.

Di masjid ini juga terdapat beragam ukir-ukiran. Ukiran ini selain dimaksudkan buat tidak mengurangi keindahan dan kewibawaaan, juga mengandung makna dan maksud tertentu.

Ukiran praba, berarti Bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran saton berarti menyendiri, sawiji. Ukiran Sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, merupakan tabah dan tangguh.

Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan atau nisan, berarti bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah.

Ukiran tetesan embun di antara daun dan bunga yg terdapat di balok uleng berarti siapa yg salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Sokotunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yg berbentuk bahu dayung’.

Hal ini melambangkan, orang-orang yg salat di masjid ini menjadi orang yg kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yg datangnya dari empat penjuru dan lima pancer.

Sunduk berarti menjalar buat mencapai tujuan. Santen berarti bersih suci (kejujuran). Uleng artinya wibawa. Singup artinya keramat, Bandoga artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Tawonan berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yg dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Saka brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang bandoga.

Balok/ Saka Bindi lambang mencapai cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo. Sirah gada, melambangkan kesempurnaan senjata yg ampuh, sempurna baik jasmani dan rohani. Mustaka digunakan buat melambangkan keluhuran dan kewibawaan. (Tribun Jogja/Hamim Thohari)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/15/220200227/Masjid.Unik.di.Jogja.Ini.Hanya.Punya.Satu.Tiang
Terima kasih sudah membaca berita Masjid Unik di Jogja Ini Hanya Punya Satu Tiang. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Masjid Unik Di Jogja Ini Hanya Punya Satu Tiang"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.