Mangut Beong Yang Melipat Lidah

No comment 89 views

Berikut artikel Mangut Beong yang Melipat Lidah, Semoga bermanfaat

JIKA Anda ke Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, jangan sampai melewatkan kesempatan langka menyantap mangut beong, masakan khas tepian Kali Progo. Gurihnya ikan air tawar ukuran jumbo yg direndam bumbu “ndeso” super pedas bikin Anda ngoceh “huh-hah” terus-terusan.

Nama beong mungkin asing di telinga sebagian orang. Ikan air tawar ini endemis di Kali Progo yg berhulu di sekitar Gunung Sindoro. Ikan beong bernama latin Mystus nemurus. Berwarna hitam, memiliki tiga patil, dan “kumis” melintang panjang khas ikan lele. Lucunya, ekornya mirip bandeng.

Kendati habitat aslinya di Sungai Progo, tak banyak warung makan setempat menyajikan menu ikan beong sebagai andalan. Sebab, setelah populasinya menurun dua tahun terakhir, ikan ini banyak dibudidayakan dan dijual dengan harga cukup mahal di pasar-pasar.

(BACA: Lele Goreng Sudah Biasa, Istana Lele Sajikan Lele Bakar Organik)

Salah sesuatu warung yg setia menyajikan menu langka ini adalah Warung Sehati Selera Pedas di Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur.

Warung ini berada sekitar 4 kilometer sebelah barat candi, tak jauh dari jalan penting menuju Kecamatan Salaman, Magelang. Satu arah menuju obyek wisata Bukit Rhema atau kadang disebut Gereja Ayam, yg kini populer sejak muncul di film Ada Apa Dengan Cinta2?.

Siang itu, pertengahan Juni, di tengah terik matahari yg menyengat, perut akan keroncongan setelah seharian berjalan-jalan. Penasaran dengan ikan beong, kita sepakat menjajalnya.

(BACA: Mangut Belut dari Warung PWS, Nikmatnya Sampai ke Tulang)

Hal istimewa pertama dari ikan ini adalah ukurannya yg jumbo. Kepalanya saja dapat sebesar piring makan berukuran sedang. Kira-kira 10 sentimeter panjangnya.

Menu spesial di Warung Sehati memang kepala ikan, tetapi buat yg tak terlalu suka, Anda mampu memilih bagian lain, seperti badan dan ekor.

Beberapa ketika kemudian, tiga piring mangut beong dan nasi hangat tersaji. Kuah mangut warna merah sungguh mengundang selera. Begitu sesuatu suapan, blaar… rasa pedas tiba-tiba meledak menerpa rongga mulut. Pedasnya merasuk hingga daging ikan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Rumah makan Sehati di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yg menyediakan menu khas ikan beong.

Sensasi pedasnya makin terasa saat menyeruput kuah mangut. Campuran bumbu cabai dan rempah-rempah sungguh melipat-lipat lidah dan membuat tubuh berkeringat tak karuan. Pas bagi disantap siang-siang.

Bumbu “ndeso”

“Ssssss… haaahhhhh.” Hanya sepenggal bunyi itu yg dapat keluar dari mulut ketika menyantap mangut beong. Sungguh cocok untuk penggemar pedas.

Anda mulai kesulitan berkata-kata karena rasa pedas terasa di segala rongga mulut hingga perut, membuat si penyantap cuma dapat mengerjapkan mata dengan wajah merah padam.

Sebagai penetral, Anda mampu mengudap urap ndeso. Cacahan sayuran kubis dan mentimun dengan parutan kelapa cukup ampuh mendinginkan sejenak lidah yg digempur rasa pedas. Jika beruntung dan sedang musimnya, semangkuk es durian segar menjadi penyempurna santap Anda.

Jangan pula khawatir, buat Anda yg kurang gemar pedas, warung ini milik alternatif lain, merupakan beong santan gurih. Ada juga ayam bacem, wader goreng, dan dua tumis sayur lain.

Namun, tetap saja beong pedas jadi bintang utama. Cita rasanya unik. Ukurannya yg jumbo dibandingkan ikan air tawar kebanyakan membuat ikan ini memiliki daging yg tebal dan empuk. Dagingnya pun lebih gurih dan tak terlalu amis dibandingkan ikan sejenis seperti lele.

“Pedas banget, tetapi ada rasa segar-segarnya, apalagi kalau bagian kepala. Daging di sela-sela tulang kepalanya dapat diseruput,” ucap Hari Sulistyo (33), warga Muntilan, pengunjung setia Warung Makan Sehati.

Pedasnya mangut beong memang tak main-main. Menurut Istiqomah (36), pemilik warung, buat menyajikan rasa pedas maksimal di hidangannya, saban hari dia menghabiskan 10 kilogram cabai rawit merah, atau yg juga biasa disebut cabai rawit setan oleh warga setempat.

Awalnya, cabai dipotong-potong dan ditumis bersama dengan daun salam dan serai dalam sesuatu wajan. Cabai sengaja dipotong dan tak dihaluskan supaya pelanggan yg tak terlalu suka pedas mampu menyisihkan sebagian cabainya.

Sementara ikan beong digoreng lalu hingga garing. Baru setelahnya, bumbu mangut dibuat dari racikan bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan lengkuas.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Dapur rumah makan Sehati yg menyediakan menu khas ikan beong di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (23/6/2016).

Untuk sesuatu wajan mangut yg kira-kira mampu dibagi menjadi 10 porsi hidangan, Istiqomah biasa mencampurkan beberapa sendok besar atau sekitar 0,5 kilogram cabai rawit merah.

“Segitu saja pasti telah pedas banget,” ujarnya.

Selain pedas di lidah, kuah mangut pun harum tercium di hidung. Aroma itu tercipta dari daun serai dan salam yg dimasukkan ketika merebus kuah. Tambahan tomat dan bawang putih tidak mengurangi masakan semakin segar.

Setelah kuah siap, ikan beong yg telah digoreng garing pun dimasukkan ke rebusan kuah selama dua ketika sebelum dihidangkan. Santan air parutan kelapa pun ditambahkan dalam kuah setelah mendidih. Cara ini membuat bumbu mangut begitu meresap dalam daging ikan. Juga agar daging lebih empuk.

Pasokan beong

Murni (53), ibu Istiqomah, merintis warung ini sekitar 1998. Awalnya, dia menjual soto ayam dan babat. Dalam perkembangan, dia juga memasak aneka menu lain, salah satunya mangut lele.

Suatu hari, sekitar tahun 2000, ada pemancing menawarkan ikan beong hasil pancingannya. Ikan itu dulu ia mencoba olah dengan bumbu mangut lele. Hasilnya luar biasa. Ternyata banyak pelanggan menyukai menu baru itu.

“Karena awalnya cuma ditawarkan sebagai menu pelengkap, waktu itu kalian cuma memasak 5 kg beong per hari,” ujarnya.

Seiring waktu, peminat mangut beong selalu meningkat. Murni semakin kerepotan menghadapi banyaknya pembeli. Dia dahulu meminta Istiqomah yg awalnya bekerja di pabrik ikut membantunya.

Kini, setiap hari, Murni mesti menyediakan 70-80 kg beong sebagai bahan baku. Pada libur Lebaran, permintaan juga semakin melejit hingga mencapai 1 kuintal beong per hari! Mereka memiliki para pemasok yg setiap hari rutin mencari ikan beong ke sungai-sungai.

Kebanyakan penikmat beong di warung ini para wisatawan yg selesai berjalan-jalan di kompleks Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, atau Bukit Rhema. Bahkan telah akan banyak wisatawan asing, antara yang lain dari Thailand dan Singapura, yg ketagihan citarasa pedas mangut beong.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Mangut beong yg melipat lidah di rumah makan Sehati, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Jangan khawatir, harga mangut beong cukup bersahaja. Satu porsi dijual dari Rp 20.000-Rp 70.000 tergantung ukuran. Untuk harga termahal, Anda mampu mendapatkan ikan beong dengan panjang potongan ukuran kepala 15-20 cm.

Murni juga mampu menyediakan masakan buat rombongan yang berasal memesan jauh hari sebelumnya. Maklum, ketersediaan ikan beong tergantung musim. Saat tak musim, sangat sulit mencarinya ke pasar bahkan ke pemancing tradisional sekali pun.

Jadi, seandainya Anda berkunjung ke Borobudur, jangan lalu buru-buru beranjak usai berkeliling kawasan candi atau menikmati matahari terbit di Punthuk Setumbu.

Cicipi lalu mangut beong Kembanglimus. Dan bersiaplah bagi menikmati sensasi rasa pedes yg melipat-lipat lidah…. (Gregorius M Finesso/Regina Rukmorini)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Agustus 2016, di halaman 31 dengan judul “Mangut Beong yg Melipat Lidah”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/10/25/121500327/mangut.beong.yang.melipat.lidah
Terima kasih sudah membaca berita Mangut Beong yang Melipat Lidah. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Mangut Beong Yang Melipat Lidah"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.