Makin Cinta Indonesia Di Perbatasan Papua Nugini

No comment 186 views

Berikut artikel Makin Cinta Indonesia di Perbatasan Papua Nugini, Semoga bermanfaat

Merauke – Jika ingin mencintai Indonesia lebih dalam, berwisatalah ke daerah perbatasan Papua Nugini. Ada rasa haru dan bangga, di titik paling timur tanah Nusantara.

Dalam catatan detikTravel, terdapat beberapa tempat yg mampu Anda datangi untuk yg mau plesiran ke perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Kedua tempat itu adalah Distrik Sota di Merauke dan Desa Skow di Jayapura.

Untuk di Desa Skow, perbatasan ini kelihatan lebih maju dibanding yg ada di Distrik Sota di Merauke. Sudah ada menara pengawas dan deretan toko di sekitarnya yg menjual barang made in Indonesia atau made in Papua Nugini.

Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di Desa Skow, Jayapura (Uksay/d’Traveler)
Menara pengawas di Desa Skow (Bayu Maitra/ACI)

Berbeda di Distrik Sota, ada cerita tentang seorang polisi yg tanpa pamrih membangun taman cantik di wilayah perbatasannya. Ceritanya cukup menyentil hati, bahwa masih ada orang yg peduli dan baik hati, walau itu di ujung timur negara ini. Begini ceritanya…

detikTravel pernah tiba ke tempat ini pada event Dream Destination Papua dua tahun silam. Distrik Sota berjarak 2 jam lebih dari pusat Kota Merauke, yg bisa ditempuh dengan naik mobil.

Sesampainya di sana, terdapat gapura bertuliskan ‘Good Bye And See You Again Another Day’ dan pos perbatasan. Ucapan penanda selamat tinggal, bahwa di depan Anda adalah titik terakhir Ibu Pertiwi. Ya, di depannya adalah Papua Nugini!

Eits, sebelum datang di Papua Nugini, kalian mulai terlebih lalu mendatangi Taman Merah Putih. Taman yg sesuai namanya, dibalut warna merah dan putih. Apalagi, kalau bukan terinspirasi dari warna bendera Indonesia.

Selamat tiba di Taman Merah Putih (Afif/detikTravel)

Taman Merah Putih begitu rindang dan rapi. Tepat di bagian tengahnya adalah bendera Merah Putih yg membentang di atas tiang. Kanan-kirinya, banyak bangku-bangku dan gazebo bagi bersantai. Beberapa pernak-pernik khas Papua pun terjaja.

Perhatikan lebih seksama, banyak kata-kata heroik dan nasionalisme di Taman Merah Putih ini. Seperti ‘Untukmu Indonesia, Cintaku Tak Terbatas’, ‘Tekadku Pengabdian Terbaik’, dan tulisan yg paling besar ‘Bahasa Indonesia Penjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI’.

Tulisan penggugah jiwa nasionalisme (Afif/detikTravel)

Kata-kata itu telah cukup menggetarkan hati. Seolah memunculkan rasa patriotisme dalam hati bagi Indonesia. Tak sampai di situ, hati Anda mulai lebih bergetar, seandainya tau siapa pembuat taman ini. Pembuat Taman Merah Putih, adalah Ipda Ma’ruf Suroto, seorang polisi bernama yg telah bertugas dari tahun 1993 di Distrik Sota.

Tahun 2005, dia mengubah kawasan yg dulunya cuma tanah tandus dan rerumputan menjadi taman yg cantik jelita. Dia melakukannya cuma berdua dengan istrinya, tanpa sepersen pun bantuan pemerintah setempat.

Dulunya cuma semak belukar dan tak terawat. Lantas dia bersihkan dan menanami pohon-pohon, seperti kayu putih, palem, dan lain-lain. Lalu sengaja dia cat kursi-kursi dan gazebo dengan warna merah putih, agar lebih cinta kepada negeri sendiri.

Ipda Ma’ruf sebagai pembuat Taman Merah Putih (Afif/detikTravel)

Ipda Ma’ruf pun turut menjadi pemandu wisata untuk para wisatawan yg mau bertanya lebih dalam tentang wilayah perbatasan Distrik Sota ini. Tak masalah, selama dia seddang tak bertugas maka dirinya terus ada di Taman Merah Putih.

Dari Taman Merah Putih, terdapat semak belukar yg luas dengan rumah-rumah semut yg ukurannya 2-3 meter. Masuk ke dalam semak belukarnya, kami mulai menemukan batu kecil berukuran setengah meter dan bertuliskan 23,8. Angka 23,8 menandakan tanggal dan bulan ditandai titik akhir batas timur Indonesia oleh tim survei dari Indonesia dan Australia pada tahun 1967. Inilah tugu perbatasan bagian timur Indonesia yg sebenarnya!

Inilah rupa tanda pembatas paling timur Indonesia (Keken/dTraveler)

150 Meter dari tugu kecil itu adalah zona netral yg artinya telah masuk juga dalam wilayah Papua Nugini. Dengan melangkahi tugu kecilnya, artinya kami telah menapakan kaki di Papua Nugini. Wow, keluar negeri!

Pemukiman terdekat adalah Desa Wereafere yg dihuni oleh orang asli Papua Nugini dan berjarak 15 km dari tugu perbatasan itu. Jangan salah, orang-orang Papua Nugini juga kadang tiba ke Distrik Sota bagi masuk ke Indonesia dan berbelanja atau berdagang.

Perawakan orang-orang Papua Nugini sebelas beberapa belas dengan orang-orang Papua. Biasanya mereka fasih memakai bahasa Inggris dan tak malu-malu bagi menyapa. Maka sapalah, orang-orang negeri tetangga itu dengan kata-kata yg kadang mereka ucapkan seandainya bertemu orang lain, ‘good day!’.

Ipda Ma’ruf bersama orang-orang Papua Nugini (Afif/detikTravel)

Di Distrik Sota, ada rasa bangga dan haru yg mulai Anda rasakan. Rasa bangga karena telah dapat melihat perbatasan paling timur Indonesia, sedangkan rasa haru dari perjuangan Ipda Ma’ruf bagi menghiasi dan mempercantik wilayah perbatasan ini. Seperti inilah perkataannya…

“Wilayah ini sangat penting, karena ini batas wilayah yg harus kalian pertahankan. Kita di sini memang hidup di daerah tertinggal, tetapi jangan sampai ditinggal,” kata Ipda Mar’ruf yg masih terngiang di kepala

(aff/fay)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/11/095020/3272925/1519/makin-cinta-indonesia-di-perbatasan-papua-nugini
Terima kasih sudah membaca berita Makin Cinta Indonesia di Perbatasan Papua Nugini. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Makin Cinta Indonesia Di Perbatasan Papua Nugini"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.