Lihat Gayanya Deh… Anak “Coffee Shop” Banget!

No comment 117 views

Berikut artikel Lihat Gayanya Deh… Anak “Coffee Shop” Banget!, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Ada banyak cerita dari setiap teguk minuman kopi. Cerita dapat berfokus pada “silsilah” minuman hingga tentang para peminumnya.

Ada kenikmatan tersendiri dalam secangkir kopi. Kuat aromanya sontak semerbak saat diseduh. Racikannya pun dapat beragam, dari minuman panas kopi tubruk, espresso, atau kopi susu hingga sajian dingin sebagai es kopi.

Tak cuma nikmat. Sebagai teman menyantap camilan lezat, seperti tiramisu atau kudapan lain, kopi juga mampu menjadi “teman” kerja atau kumpul-kumpul bersama kawan. Mungkin, keistimewaan itulah yg membuat coffee shop atau kedai kopi semakin menjamur di Indonesia.

Selain menyediakan berbagai macam racikan kopi, tempat-tempat ini juga jamak menyediakan berbagai kudapan ringan serta kenyamanan tempat bagi pengunjungnya tinggal berlama-lama.

Kemajuan teknologi pun tergambar di kedai-kedai ini, antara yang lain mampu dilihat dari tipe dan kebutuhan pengunjungnya. Bicara tamu kedai kopi, ada pula ragamnya. Ada yg segera pergi sehabis segelas kopi pesanannya habis dengan cepat, ada juga yg malah baru pulang bersamaan dengan waktu tutup kedai.

Jika Anda cermat memperhatikan, setidaknya ada lima tipe pengunjung kedai kopi yg mulai terus Anda temui di kedai kopi. Apa sajakah itu?

Penghambat antrean

Pernahkah Anda menunggu lama dalam antrean ketika ingin memesan kopi? Bisa jadi pengunjung tipe sesuatu ini penyebabnya.

Ada beberapa macam karakter penghambat antrean. Pertama, mereka yg bingung dengan bermacam-macam pilihan menu.

Tak jarang, pengunjung tipe ini tak peduli seandainya memakan waktu lama dan berdiam diri di depan bar pemesanan. Akhirnya, mereka memilih rekomendasi barista –pembuat kopi—atau sajian sederhana saja seperti kopi hitam.

Jenis kedua ialah mereka yg memiliki ide minuman sendiri. Contohnya ingin kopi moka tanpa kafein dengan 30 persen gula merah serta susu non-lemak.

Tipe tersebut mulai menyebutkan pesanan dengan rinci dan hati-hati. Terkadang, barista diminta menuliskan atau menyebut ulang pesanan.

Pernah ketemu yg begitu?

Thinkstock Penikmat wifi umumnya mulai kelihatan di pojok-pojok ternyaman sebuah kedai kopi.

Penikmat wifi

Koneksi internet telah ibarat syarat wajib kedai kopi zaman sekarang. Bahkan, pengunjung kadang kali lebih dahulu menanyakan kata sandi wifi daripada memesan sajian.

Penikmat wifi umumnya mulai kelihatan di pojok-pojok ternyaman sebuah kedai kopi, entah di sofa paling empuk atau meja ujung ruangan. Mereka mulai kelihatan sibuk sendiri dengan gawai pribadi dan tak memperhatikan situasi sekeliling.

Pengunjung tipe tersebut tiba dari berbagai kalangan, akan dari pekerja lepas hingga mahasiswa yg sedang mengerjakan tugas. Selain “mengejar” sinyal wifi, mereka umumnya juga menjadi penguasa colokan listrik di kedai kopi.

Pembaca buku

Ditemani secangkir kopi hangat, para pembaca buku suka menempati kursi dengan pencahayaan maksimal dalam kedai kopi. Mereka tidak perlu mengobrol atau bertegur sapa dengan orang yang lain karena telah hanyut ke dalam cerita.

Suguhan kenyamanan kedai kopi-lah yg membuat mereka betah berlama-lama. Suasana ini tercipta dari desain interior yg biasanya dibuat homey, seperti ketersediaan sofa-sofa empuk dan meja kayu penunjang kegiatan membaca.

Keluarga modern

Keluarga modern terdiri dari orangtua, anak-anak, serta pengasuh balita. Setelah memesan, orangtua mulai sibuk dengan ponsel dan anak-anak seru sendiri bersama gadget bagi bermain game. Sementara itu, sang pengasuh dengan lembut meladeni tingkah polah bocah kecil keluarga ini.

Kedai kopi di pusat perbelanjaan dan mal, biasanya yg dipenuhi pengunjung tipe ini. Tempat tersebut menjadi alternatif buat melepas lelah selepas berbelanja. Mereka mampir tak mulai lama. Bila telah selesai mengganjal perut, rombongan ini pun mulai segera pulang.

Thinkstock Inilah salah sesuatu kelebihan kedai kopi. Walau cuma memesan sesuatu cangkir, Anda telah sah bagi duduk lama di sana.

Sekumpulan muda-mudi

Untuk generasi masa kini, pepatah “makan enggak makan yang berasal kumpul” dapat jadi telah berubah bunyinya menjadi “makan enggak makan yang berasal ngopi”. Artinya, acara kumpul-kumpul lebih asyik bila diselenggarakan di kedai kopi karena tak perlu pesan makanan.

Inilah salah sesuatu kelebihan kedai kopi. Walau cuma memesan sesuatu cangkir, Anda telah sah bagi duduk lama di sana. Bagi anak muda, aturan itu menolong mereka menyalurkan rasa rindu dengan kawan sekaligus hemat, terlebih pada akhir bulan.

Terlebih lagi, kedai kopi umumnya dirancang keren, misal dinding berhias pigura-pigura berisi foto hitam putih, dan dapat menjadi latar foto keren untuk pengunjung tipe ini. Tak sungkan, mereka mulai melakukan swafoto atau minta tolong pada pramusaji.

Ruangan kedai kopi yg biasanya memiliki pencahayaan redup pun bukan persoalan bagi mereka. Kini, telah banyak ponsel pintar yg dilengkapi dengan kemampuan membidik gambar dalam tempat minim cahaya.

Di antaranya, ada fasilitas bukaan kamera f/1.7 pada ponsel Samsung Galaxy S7, misalnya, yg bisa menangkap gambar setara pandangan mata dalam suasana low-light. Warna-warna dalam foto juga mulai kelihatan seperti tampilan asli.

Umumnya, foto-foto diri mereka—bisa juga bersama teman-teman nongkrongnya—segera muncul di media sosial. Lengkap telah alasan mereka betah di kedai kopi, yg telah mampu bikin hemat, tetap berakrab-akrab dengan kawan, dan kebutuhan eksis di media sosial tidak terlantar.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/03/110133427/lihat.gayanya.deh.anak.coffee.shop.banget.
Terima kasih sudah membaca berita Lihat Gayanya Deh… Anak “Coffee Shop” Banget!. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Lihat Gayanya Deh… Anak “Coffee Shop” Banget!"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.