Labuan Bajo, Menembus Lorong Waktu Kepurbaan

No comment 93 views

Berikut artikel Labuan Bajo, Menembus Lorong Waktu Kepurbaan , Semoga bermanfaat

MENJEJAKKAN kaki di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, seperti memasuki lorong waktu. Lorong yg menghubungkan dunia ketika ini dan kepurbaan. Di tempat itu, kedua dunia itu terkoneksi oleh kehidupan masyarakat yg selaras alam.

Pinisi yg dikemudikan oleh pemuda Suku Bajo mengantarkan rombongan kecil wisatawan dari Pelabuhan Labuan Bajo di ibu kota Kabupaten Manggarai Barat ke gerbang Loh Buaya, awal Juni lalu.

Saat melintas di gerbang yg sebenarnya pintu masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca itu berbagai perasaan bercampur aduk pada diri wisatawan. Ada rasa penasaran, tapi juga ada sedikit rasa takut. Apalagi banyak peringatan agar wisatawan waspada.

Di gerbang inilah mereka mulai memasuki taman purba, taman di mana masih ditemukan komodo, hewan purba satu-satunya yg tersisa. Wisatawan asing menyebutnya dragon. Mereka tiba dari berbagai penjuru dunia agar mampu menyaksikan hewan itu dari dekat.

Awal Juni lalu, ketika musim kering akan melanda Flores, komodo tidak jarang kelihatan bergerombol di titik-titik mata air dan di kolong rumah dapur kantor Taman Nasional Komodo. Saat itulah ketika yg paling gampang melihat reptil raksasa itu.

Tidak cuma komodo yg memberikan penanda kepurbaan di Flores. Ada goa Batu Cermin dan goa Liang Bua yg mengukir dengan jelas kehidupan di tanah Flores. Relief fosil dalam Batu Cermin yg ditemukan oleh arkeolog Theodore Verhoven, misalnya, bercerita bahwa Labuan Bajo, yg kini berada di tepi pantai, lalu adalah bagian dari dasar laut.

Flores juga menjadi tempat tinggal manusia purba Homo floresiensis, 100.000 tahun lalu. Jejaknya mampu dilihat di goa Liang Bua yg berjarak enam jam perjalanan dari Laboan Bajo.

Kekunoan yg masih ada dan terawetkan juga ada di Wae Rebo, dusun terpencil di kaki bukit di Manggarai Barat. Konservasi rumah tradisional mbaru niang di Wae Rebo mendapat penghargaan tertinggi, Award of Excellence, dalam Konservasi Warisan Budaya 2012 Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) kawasan Asia Pasifik.

Wae Rebo seperti halnya museum hidup. Di tempat itu rumah-rumah adat Manggarai yg hampir punah masih berdiri tegak dan menjadi pusat kegiatan warga. Tradisi warisan nilai leluhur masih dipegang teguh. Mereka masih setia merawat kampung meskipun hidup dalam keterpencilan.

Selaras alam

Rohaniwan yg juga antropolog, P Gregor Neonbasu SVD, mengatakan, alam yaitu bagian integral dari kehidupan manusia Nusa Tenggara Timur. Alam disebut sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Relasi saling melengkapi senantiasa memberi ”makna konstruktif” dan ”arti simbiosis” untuk kehidupan manusia.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/09/161500327/Labuan.Bajo.Menembus.Lorong.Waktu.Kepurbaan.
Terima kasih sudah membaca berita Labuan Bajo, Menembus Lorong Waktu Kepurbaan . Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Labuan Bajo, Menembus Lorong Waktu Kepurbaan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.