Kuburan Bayi Di Pohon Tarra

No comment 90 views

Berikut artikel Kuburan Bayi di Pohon Tarra, Semoga bermanfaat

Toraja Hari kedua

Semalam kita menginap di Hotel Mentirotiku, Batu Tumongga, Toraja Utara. Batutumonga yaitu kota kecil yg terletak di lereng Gunung Sesean di kecamatan Sesean Suloara, terletak 24 km sebelah utara kota Rantepao, yg memiliki panorama indah.

Sepanjang perjalanan dari kota Rantepao menuju Batutumonga kita melintasi jalan yg berkelok-kelok mendaki. Untunglah, pada dua titik pendakian kalian disuguhi panorama yg eksotik berupa jajaran gunung batu yg legam maupun persawahan dan pepohonan nan rindang.

Kami datang di Batutumonga kemarin, ketika matahari pulang ke barat. Hotel Mentirotiku berada persis di salah sesuatu kelokan jalan, tepat di atas gundukan batu besar yg di dalamnya terdapat kubur batu. Dari hotel inilah, kita dapat memandangi kota Rantepao dan Lembah Sa’dan yg dilingkupi kabut ketika senja dan pagi tiba. Maklumlah, Hotel dan Restoran Mentirotiku berada ketinggian 1352 m dpl.

Menurut cerita penjaga resto, sebelum Restoran Mentirotiku didirikan, tempat ini yaitu rumah pemilik restoran ini yg biasa disapa Pong Sobon, berupa tongkonan (rumah adat Toraja) yg kadang menjadi tempat persinggahan wisatawan buat beristirahat sambil menikmati keindahan alam. Atas saran dari guide dan wisatawan maka pada tahun 1990 restoran Mentirotiku didirikan.

Pagi ini kita dijadwalkan bagi melakukan wisata tracking melintasi lembah berupa ladang dan persawahan menuju Desa Sesean Suloara.

Tapi sebelum melakukan tracking, kita mampir ke pekuburan batu Lo’ko Mata yg terletak di ketinggian 1458 m dpl. Nama Lo’ko’ Mata sendiri konon karena pekuburan batu alam ini menyerupai kepala manusia. Tetapi menurut penduduk setempat, liang Lo’ko’ Mata sebelumnya bernama Dassi Deata atau Burung Dewa, lantaran pada liang-liang batu itu kerap dijadikan tempat bersarang dan bertengger berbagai macam burung yg indah warna bulunya dengan bunyinya yg indah namun sering menakutkan.

Kompas.com/Jodhi Yudono Pekuburan batu Lo’ko Mata yg terletak di ketinggian 1458 m dpl.

Syahdan, pada abad ke-14 (1480) datanglah seorang pemuda bernama Kiding memahat batu raksasa ini bagi makam mertuanya yg bernama Pong Raga dan Randa Tasik. Selanjutnya pada tahun 1675, lubang rang kedua dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke-17 lubang yg ketiga dibuat oleh Rubak dan Datu Bua’. Liang pahat ini tetap digunakan sampai ketika ini. Luas areal objek wisata Lo’ko’ Mata ±1ha dan segala lubang yg ada sekitar 60 buah.

Puas memotret dan dipotret serta mendengarkan cerita tentang situs pekuburan Lo’ko’ Mata, kalian pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dari arah Lo’ko’ Mata, kita melewati jalan setapak yg menurun.

Mula-mula kalian melewati hutan bambu yg mengapit jalan di kanan dan kiri kami. Setelah sekira setengah jam perjalanan, kalian menemukan beberapa tongkonan yg besar, sebelum akhirnya kita menemukan puak kecil yg ditinggali cuma dua keluarga. Setelah sekira 15 menit beristirahat di kampung berpenghuni ini, kalian pun akan berjalan kembali.

Sawah…. Ya, ini kali kalian harus berjalan melintasi persawahan yg luas. Musim panen rupanya sudah berlalu. Sehingga kita cuma mendapati tanaman padi yg masih muda. Bahkan pada dua lokasi sawah, kita mendapati dua petani sedang akan menanam padi.

Beberapa kali kalian harus terperosok ke lumpur sawah. Saya bahkan sempat tergelincir cukup dalam ketika melewati pematang kecil yg licin. Untunglah tidak membuat cedera maupun kerusakan pada kamera yg aku bawa.

Yang menarik pada perjalanan ini tentu saja bukan cuma hamparan hijau tanaman padi, sebab pada tanah persawahan itu juga terdapat banyak gundukan batu hitam dalam berbagai ukuran. Sementara di latar belakangnya adalah gunung yg menghijau, panorama yg kerap kami jumpai pada lukisan tradisional Indonesia yg mengajikan pemandangan alam pedesaan.

***

Setelah lima jam berjalan, sampailah kalian di pos terakhir di kampung Pana’. Pana’ adalah sebuah desa yg dikenal dengan makam-makam alaminya yg dibangun di atas tebing. Makam-makam ini telah ada sejak dua abad lalu. Ada juga sebuah pohon yg digunakan bagi mengubur mayat-mayat bayi, di mana pengunjung masih mampu melihat potongan-potongan pakaian yg digunakan bagi menutupi mayat.

Kuburan bayi ini disebut Passiliran. Hanya Bayi yg meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra‘. Bayi-bayi tersebut dianggap masih suci. Pilihan Pohon Tarra‘ sebagai pekuburan karena pohon ini memiliki banyak getah, yg dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Mereka menganggap seakan mulai bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya. Dan berharap, pengembalian bayi ini ke rahim ibunya mulai menyelamatkan bayi-bayi yg lahir kemudian.

Pohon Tarra‘ yg menjadi pekuburan ini memiliki diameter cukup besar, sekitar 80 – 100 cm sampai 300 cm. Dibuat Lubang pada pohon bagi menguburkan bayi , yg kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Pemakaman ini cuma dikerjakan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur).

Pelaksanaan Upacara secara sederhana. Dan Bayi yg dikuburkan begitu saja tanpa di bungkus, bagai bayi yg masih berada di rahim ibunya.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yg dikuburkan di batang pohon tarra.

Bayi yg meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yg berduka. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu mulai menyatu dengan pohon.

Kompas.com/Jodhi Yudono Tarian Pa’gellu di Kecamatan Sesean Suloara

Setelah kalian terpana dengan semua yg kita dapati di Pana’, kalian pun mrlanjutkan perjalanan ke atas bukit, tepatnya di Kecamatan Sesean Suloara dengan berkendara. Di halaman tongkonan yg besar, kita disambut tarian Pa’Gellu yg ditarikan oleh lima perempuan muda dan juga permainan Ma’Karombi atau karinding oleh pak tua bernama Nek Biring atau dipanggil juga Nek Ting Tong (sesuai bunyi musiknya) atau Nek Karombi’. Nama aslinya sendiri Philipus Randan, kelahiran 1932.

Hari merambat sore. Kabut pelan-pelan akan memeluk kami. Seusai makan, hujan menyempurnakan perjalanan hari kedua di bumi Toraja.

(bersambung)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/05/26/132033027/kuburan.bayi.di.pohon.tarra
Terima kasih sudah membaca berita Kuburan Bayi di Pohon Tarra. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kuburan Bayi Di Pohon Tarra"