Kota Hamburg, Ramah Siang Hari, Mesra Malam Hari

No comment 149 views

Berikut artikel Kota Hamburg, Ramah Siang Hari, Mesra Malam Hari, Semoga bermanfaat

HAMBURG, KOMPAS.com – Semenjak kehadiran wifi dan smartphone segalanya serba gampang dan praktis. Era online merambah semua lini kehidupan, mempermudah kalian memperoleh keterangan update.

Berbeda dengan 20 tahun yg lalu, saat aku masih muda belia di kota Brussel.  Berkomunikasi via telepon rumah dengan keluarga dan sang pacar di Bali, harus bayar mahal cuma buat 5 menit saja. Jeleknya lagi, kami tak dapat melihat wajah secara live.

Sekarang serba praktis. Menggunakan facebook messenger, webcam, whatapps kami mampu melihat dan mendengar secara jernih dan lebih murah.

Pukul 5 sore di Bandara Brussels, aku sedang menunggu pesawat menuju kota Hamburg di Jerman. Menunggu tak lagi membosankan, karena keterangan update di media sosial beragam.

MADE AGUS WARDANA Pesawat yg menuju Hamburg, Jerman di Bandara Brussels.

Saya membaca, mengintip status teman yg sedang ceria, kecewa, selfie hingga menyaksikan tips-tips segar resep memasak di youtube.

Akhir-akhir ini, aku sangat konsen dengan memasak. Mencoba berbagai resep, khususnya sayur-sayuran. Harap maklum ya pembaca, hidup di perantuan membutuhkan olahan kreativitas di semua bidang, termasuk kreativitas dalam memasak.

Singkat cerita, dalam hitungan 1 jam dari kota Brussel, aku sudah datang di kota Hamburg. Kota “mesra” di malam hari, “ramah” di siang hari.

Saya menyebut “mesra” karena banyaknya muda-mudi bermesraan di tepi Danau Alster, memadu kasih dalam riak suasana malam syahdu.

MADE AGUS WARDANA Kota Hamburg di malam hari.

Danau Alster disebelah mana ya? Alamatnya di Jungfernstieg, 20534 Hamburg, dapat memakai transportasi umum:  S1, S2, S3 and U1, U2, Station ‘Jungfernstieg’.

Kemudian, aku menyebut “ramah” karena terkesan dengan warga setempat.

Kejadiannya di ketika aku kesasar menuju Museum Etnologi Museum für Völkerkunde Hamburg. Telepon aku low bat, aku memohon dicarikan taksi kepada warga Jerman yg kebetulan berada di sekitar saya.

Satu keluarga menolong dengan ramah, menunggu dan menelpon hingga sopir taksi datang.

Saya bersyukur ternyata banyak sekali orang-orang baik berada di sekeliling kita, atau barangkali ini yaitu kebetulan saja.  Walaupun demikian kesan positif yg terjadi pada aku ini, sedikit tidaknya mulai terkenang dhati selama-lamanya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Grup band Marginal Jakarta tampil di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Undangan berkesenian di Pasar Hamburg

Kedatangan aku ke Hamburg sebagai pemain suling Bali atas undangan dari Juli Wirahmini Biesterfeld, sang ketua penyelenggara Pasar Hamburg.

Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun di Museum Etnologi Museum für Völkerkunde Hamburg.

Tahun ini yaitu edisi yg keempat kalinya yg diselenggarakan selama beberapa hari dari tanggal 10 hingga 11 September 2016. Beragam acara ditampilkan seperti pertunjukan tari, musik, diskusi, film, workshop, pameran foto, bedah buku dan pasar kuliner Indonesia.

Para artis didatangkan khusus dari Indonesia seperti grup band Marginal Jakarta dan Topeng Bondres Lawak Rare Kual Bali. Sedangkan yg dari Eropa di antaranya Ina Dance Belanda, Yonatan Pandelaki Band Jerman, grup Tari IMAN Jerman, Duo Violissimo Jerman, The Toffi Jerman, Trio Fridaus Jerman, dan aku sendiri si pemain suling Bali dari Belgia.

MADE AGUS WARDANA Ina Dance Belanda tampil di Pasar Hamburg, Jerman.

Pukul 9 pagi di hari pertama Pasar Hamburg, kesibukan telah kentara di berbagai sudut ruangan museum. Para panitia yg sebagian besar pelajar dan diaspora Indonesia ini, kelihatan bekerja sama bahu membahu.

Sebagai penampil seni atau artis, kalian ditempatkan dalam sebuah ruangan yg bersih dan nyaman yg berada persis di dekat panggung penting pertunjukan.

Apa pun yg kalian tanyakan kepada panitia, jawaban mereka jelas dan bersiap menolong para penampil seni tersebut. Para panitia di sini membawa pesona kekeluargaan dan melayani artis secara profesional.

Program yg tertulis secara jelas, dengan durasi waktu yg sudah ditentukan membuat para penampil seni menyiapkan diri sebaik mungkin.

MADE AGUS WARDANA Grup lawak bondres Rare Kual Buleleng Bali di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Kemudian peralatan soundsystem dan para teknisi yg berpengalaman membuat pasar Hamburg ini semakin profesional.

Namun sesuatu hal yg perlu dikritisi adalah pasar Hamburg terlalu pendek waktunya. Kalau dapat diperpanjang menjadi 3 atau 4 hari agar dapat menjangkau publik lebih luas.

Di dalam ruangan artis, aku cuma tersenyum manis, melihat godaan demi godaan grup lawak bondres Rare Kual Buleleng Bali terhadap penari cantik Ina dance dari Belanda.

Keakraban mereka membuat suasana bertambah menyenangkan. Suara kocak rare kual, dengan penuh tawa membuat aku terpingkal. Gaya, ekpresi lucu, gerak-gerik polos dan guyonan mereka sangat khas tanpa dibuat-buat.

MADE AGUS WARDANA Kuliner Indonesia di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Rare Kual yg terdiri 4 pemuda Bali ini yaitu grup topeng bondres terkenal yg telah melanglang buana di Bali bahkan ke berbagai negara Eropa.

Tanpa aku sadari, salah sesuatu dari tim Rare Kual menghampiri aku sambil berbisik dengan serak-serak basah dalam bahasa bali khas Buleleng yg kental.

“Bli Made, jegeg jegeg gati penari Ina dance uli Belande ne! Tawang keto jeg plaibang polone! (artinya: Bli Made, cantik-cantik sekali para penari dari Ina dance. Saya mau larikan mereka).

Saya pun menjawab dengan nyengir sambil berkedip, “Eh, kangguwang mai mepotrek gen paekan, apang maan ngelut, jeg nyak seger bayune, kiiik!” (artinya: eh, sini kami berfoto kesini saja sambil peluk dikit, supaya semangatmu segar bugar, kiiik).
 
Mendengar saran aku itu, mereka (Rare Kual) berkedip cinta bling bling bling pertanda “tidak sabar” buat langsung berpelukan. He-he-he…

MADE AGUS WARDANA Pameran foto ‘Tolak Reklamasi Teluk Benoa’ di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Pameran Foto Suara Pesisir

Nampaknya para seniman ini tak diragukan lagi sepak terjang berkesenian mereka. Lihatlah penampilan grup band Marjinal yg sangat jantan menyuarakan perlawanan kuat terhadap suatu ketidakadilan yg berkembang di tengah masyarakat.

Marjinal melantunkan lagu “Tolak Reklamasi Teluk Benoa” terdengar bergemuruh di ruangan museum yg dinyanyikan bersama sama oleh para penonton.

Kemudian Rare Kual beraksi dengan interaktif gerak komedi lucu yg berwajah bondres Bali, dapat menyemarakkan festival ini hingga penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Selangkah kemudian, aku juga sempat memanfaatkan waktu buat melihat Pameran Foto yg digelar di lantai 1 gedung museum. Pameran foto ini menyajikan image cerita tentang pesisir laut nusantara dan wajah pesisir sebagai tempat tinggal nenek moyang kami sebagai bangsa pelaut.

MADE AGUS WARDANA Juli Wirahmini Biesterfeld, Ketua Penyelenggara Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Pameran ini rupanya bertajuk Suara Pesisir yg menjadi ajang penggugah dalam pasar Hamburg tahun 2016 ini. Karya foto yg dipamerkan adalah buah karya sepuluh pewarta foto Divisi Pemberitaan Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Kesepuluh pewarta foto yg karya mereka dipamerkan pada ajang ini adalah Andreas Fitri Atmoko, Iggoy el Fitra, I Nyoman Budhiana, Ismar Patrizki, Muhammad Adimaja, Mochammad Risyal Hidayat, Rosa Panggabean, Sigid Kurniawan, Wahyu Putro A, Moch Risyal Hidayat, dan Zabur Karuru.

Dari kesepuluh pewarta foto itu, disajikan 13 foto cerita seri tentang pesona keindahan alam, berbagai prosesi budaya masyarakat yg menawan, dan sejumlah problematika mengenai pesisir yg tengah menghangat di Indonesia.

Yuk, Mencintai Keragaman Nusantara

Kalau bukan karena cinta Indonesia, tidaklah mungkin Pasar Hamburg ini berjalan dengan lancar dan sukses. Waktu yg tersita, biaya yg dikeluarkan, hingga tenaga terkuras habis bukanlah menjadi halangan untuk tim penyelenggara Pasar Hamburg ini.

MADE AGUS WARDANA Suling bali di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Pengerjaan dikerjakan secara swadaya oleh diaspora Indonesia, pelajar, masyarakat Indonesia dan masyarakat Jerman sepantasnya diberi apresiasi yg tinggi.

Bersinergi membangun Indonesia, menginformasikan berita aktual dan mengkritisi dampak negatif yg terjadi di tengah masyarakat, menampilkan keahlian para seniman Indonesia hingga mempromosikan cita rasa makanan Indonesia di Pasar Hamburg ini.

Alangkah bahagianya kalau kalian melihat kebersamaan warga masyarakat Indonesia yg berbeda suku, agama dan golongan menyatu membangun Indonesia melalui Pasar Hamburg ini.

Alangkah cerianya nenek moyang para pelaut nusantara saat mereka melihat kepedulian kalian terhadap pesisir laut nusantara walaupun dalam bentuk pameran foto.

MADE AGUS WARDANA Workshop grup lawak bondres Rare Kual Buleleng Bali di Pasar Hamburg, Jerman. Pasar Hamburg adalah ajang festival Indonesia terbesar di negara berbahasa Jerman yg diadakan setiap tahun. Tahun ini digelar 10-11 September 2016.

Alangkah terhiburnya warga Jerman atau para pengunjung atas berbagai atraksi seni budaya nusantara. Alangkah sayangnya kalau kami tak mencintai keragaman budaya kalian sendiri bahkan tak peduli sama sekali.

Nah, para pembaca KompasTravel, sebagai penabuh suling Bali yg sudah tiga kali hadir di Pasar Hamburg ini, melihat dengan mata kepala sendiri bahwa warga Jerman dan warga Eropa lainnya sangat tinggi menghargai budaya Indonesia.

Mereka serius mendengarkan, serius menyaksikan, serius memainkan gamelan, serius menari, serius mempelajari hingga cintanya lebih daripada kalian mencintai budaya kami sendiri. Apakah dirimu rela budaya nusantara mulai menjadi punya warga asing? Jelas tidak! (MADE AGUS WARDANA, tinggal di Belgia)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/19/110600927/kota.hamburg.ramah.siang.hari.mesra.malam.hari
Terima kasih sudah membaca berita Kota Hamburg, Ramah Siang Hari, Mesra Malam Hari. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kota Hamburg, Ramah Siang Hari, Mesra Malam Hari"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.