Kota Bogor, Tetirah Di Kota Mozaik Sejarah

No comment 87 views

Berikut artikel Kota Bogor, Tetirah di Kota Mozaik Sejarah, Semoga bermanfaat

Di Kota Hujan, hampir setiap jengkal alamnya adalah kepingan sejarah sarat makna. Bangunan, tanaman, kultur, hingga udaranya serupa mozaik utuh potret pariwisata. Kota yg nyaman ini bergeliat menyusun narasi lengkap, siap memulihkan ingatan dan merangkai masa depan.

Suatu sore, akhir Juli lalu, tetes air sehabis hujan jatuh dari ujung dedaunan pohon kenari yg berjajar rapi di tepi jalan. Bau tanah basah dan udara lembab nan sejuk masuk ke dalam paru-paru. Langit yg perlahan temaram menggoreskan gradasi warna biru, hijau, dan jingga.

Di Tugu Air Mancur, derap sepatu kuda sesekali terdengar, beradu dengan hiruk-pikuk kendaraan. Istana Bogor, yg terletak di lokasi yg lebih tinggi tepat 1 kilometer di depan tugu ini, samar terlihat.

Tugu Air Mancur, yg dulu bernama Tugu Batu, setinggi 18 meter, sesuatu garis lurus dengan Istana Bogor. Istana yg pada masa penjajahan Belanda yaitu rumah para gubernur jenderal itu kini menjadi tempat tinggal Presiden Joko Widodo.

Impresi kesyahduan Kota Bogor ketika ini tentu sudah banyak berubah dibandingkan ketika Buitenzorg, sebutan yang lain Kota Bogor, masih sangat alami; ketika kendaraan masih sesuatu dua; saat seluruh bangunan tidak boleh melebihi tinggi pohon kenari.

Lanskap dan denyut keindahan itu dicatat dengan apik oleh Robert Nieuwenhuys (1908-1999). Penulis berkebangsaan Belanda kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini menuliskan kesannya tentang Kota Bogor dalam salah sesuatu bagian buku memoar fiksinya, Faded Portraits (1982).

Nieuwenhuys dan keluarganya rutin berkunjung ke Bogor. Dia, misalnya, menulis, ”Suatu saat, saat udara panas memuncak, dedaunan menjuntai lesu, rumput mengering dan tanah meretak, ayah pulang sambil berkata, ’Kita mulai mencari udara segar,’ kita pun mengerti bahwa ketika mengunjungi Buitenzorg sudah tiba.”

”Kami akan menghirup aroma tanah, kelembaban, dan rumput hijau, seolah baru pertama bernapas dalam-dalam,” tulis Nieuwenhuys yg memiliki nama pena E Breton de Nijs.

Taufik Nassuha (50), pegiat sejarah dan pariwisata di Kota Bogor, mengatakan, tulisan itu diperkirakan merujuk pada masa kanak-kanak Nieuwenhuys atau pada 1920-1930. Narasi tersebut membuktikan bagaimana Kota Bogor bukan sekadar tempat singgah, melainkan juga tempat orang tiba berelaksasi serta menikmati alam dan sejarah.

Narasi utuh

Hingga kini, Kota Bogor selalu menarik orang bagi tiba berkunjung. Setiap hari ratusan hingga ribuan orang tiba ke Kota Bogor. Jumlah ini melonjak ketika akhir pekan. Kunjungan ini belum termasuk ramainya pelatihan dan rapat (MICE) yg tumbuh subur.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/28/190200327/kota.bogor.tetirah.di.kota.mozaik.sejarah
Terima kasih sudah membaca berita Kota Bogor, Tetirah di Kota Mozaik Sejarah. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kota Bogor, Tetirah Di Kota Mozaik Sejarah"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.