“Kopi Digiling Bukan Digunting”

No comment 194 views

Berikut artikel “Kopi Digiling Bukan Digunting”, Semoga bermanfaat

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar “Forum Peningkatan Kreativitas & Akses Permodalan Industri Kopi Lokal” di Gedung Wanita Paramitha Kencana Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (17/12/2016) dengan tema “Kopi Digiling Bukan Digunting”.

Selain diskusi, acara yg digelar di Gedung Wanita Banyuwangi tersebut juga digelar nonton film dokumenter ‘Aroma of Heaven”, lomba kreativitas seduh kopi manual dan uji cita rasa kopi nusantara.

Wakil Kepala Bekraf, Riky Pesik ketika membuka kegiatan itu menyampaikan acara tersebut digelar buat memberikan nilai tambah terhadap kopi lokal sehingga biji kopi Indonesia bukan cuma dikenal oleh pasar lokal tetapi juga internasional.

(BACA: JK: Kalau Mau Kopi Asli Datang ke Banyuwangi)

“Saat ini kalau kami jual biji kopi per kilonya 100 ribu dulu di-branding pihak luar dan dijual kembali menjadi 250 ribu per kilogram. Padahal kopi dapat bernilai lebih tinggi dan memberi manfaat besar buat masyarakat dengan sedikit kreativitas dari pelaku usahanya seperti brand atau packaging produk yg menarik dan mengikuti selera pasar,” ujar Riky.

Sementara itu Daroe Handojo, salah sesuatu praktisi kopi dari Jakarta kepada KompasTravel menjelaskan dalam acara tersebut juga digelar Kompetisi Kreativitas Seduh Kopi Manual.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ketika membukan Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2016).

“Barista dituntut bagi membuat kopi kurang dari 10 menit. Kompetisi bukan tentang kesempurnaan, tetapi bagaimana barista mengatasi persoalan dan harus mampu mengatasinya,” kata Daroe.

Ia menyampaikan salah sesuatu peserta yg menjadi juara memanfaatkan botol plastik dan mengubahnya menjadi alat seduh V60 dan dia menyelesaikannya dalam waktu 3 menit 54 detik.

“Saya tak menyangka barista yg ada di Banyuwangi mempunyai kemampuan yg luar biasa dan tahun 2017 lomba ini mulai digelar kembali tentunya dengan meningkatkan grade yg lebih tinggi lagi,” kata Daroe.

Ia menekankan, seorang barista harus dapat menyajikan kopi sesuai dengan selera pemesannya, bagi itu barista harus menanyakan kopi seperti apa yg diinginkan oleh pemesannya.

“Makanya sebelum bikin kopi, barista harus bertanya, konsumen ingin kopi yg bagaimana. Kalau konsumen milik sakit lambung dan minta kopi yg nggak berasa asam, ya berarti ketika menyeduh, suhunya harus dinaikkan. Kopi yg enak itu adalah kopi sesuai dengan selera,” jelas pemilik Kopi Boutique Jakarta ini.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (5/11/2016).

Terkait perkembangan kopi asli Banyuwangi, Daroe menyampaikan prospeknya sangat bagus karena mempunyai keunikan dari rasa dan tempat tumbuhnya juga beda-beda, sehingga berpengaruh di rasa.

“Saya telah merasakan kopi Ijen, Raung, Gombengsari dan Kemiren. Kalau menurut aku tinggal bermain di teknik sangrai. Tidak harus dark mampu saja medium. Saran saya, sebelum mencoba kopi lain, cobalah selalu mengeksplor kopi lokal terlebih dahulu. Dan yg perlu diingat kopi itu digiling bukan digunting,” pungkasnya.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/19/080600027/.kopi.digiling.bukan.digunting.
Terima kasih sudah membaca berita “Kopi Digiling Bukan Digunting”. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "“Kopi Digiling Bukan Digunting”"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.