Kisah Sukses Sate Petir Pak Nano

No comment 131 views

Berikut artikel Kisah Sukses Sate Petir Pak Nano, Semoga bermanfaat

BANTUL, KOMPAS.com – Sutiarno sempat menjual sandal dan kerajinan tangan di Malioboro ketika muda. Hasilnya nihil, ia tetap hidup kekurangan. Padahal ia milik istri dan anak yg harus dihidupi.

Suatu hari ia teringat kembali resep sate dan tongseng yg diajarkan kakek dan ayahnya. Ia pun coba membuka usaha yg digeluti oleh kakek dan ayahnya dulu, sebagai tukang sate dan tongseng.

“Saya memulai usaha tahun 1984. Modalnya Rp 500.000 pinjam dari tetangga, pinjam sana sini. Saya milik mimpi, anak aku segala harus sarjana. Intinya sabar, kalau dikasih cobaan sama Tuhan, sabar,” kata Sutiarno yg akrab disapa Pak Nano.

TRIBUNJOGJA.COM/HAMIM THOHARI Sate Petir Pak Nano di dusun Menayu, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Setelah puluhan tahun membangun usaha, Nano pun sukses. Dari gerobak pikulan, kini ia menjual sate dan tongseng di rumah makan permanen di Jalan Ring Road Selatan 90, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Dari pejabat sampai selebriti mampir ke rumah makan bagi mencicipi masakan Nano yg memiliki level kepedasan unik. Tak pedas atau tidak pakai cabai masuk pada level Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Level kepedasan naik selalu dari SD, SMP, SMA, sampai yg paling pedas level profesor menggunakan 50 cabai rawit.

TRIBUNJOGJA.COM/HAMIM THOHARI Sate Petir Pak Nano di Jalan Lingkar Selatan Yogyakarta, tepatnya di dusun Menayu, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

“Itu awalnya memang dari saya, aku bercanda kalau tamu minta tidak pedas berarti PAUD. Begitu seterusnya, sampai yg paling pedas aku sebut profesor,” kata Nano yg hobi bercanda.

Menurut Marni, istri Nano, kelakar suaminya yg membuat pelanggan betah dan ingin kembali lagi. “Kasihan tamu-tamu, apalagi yg dari luar kota kalau penjualnya cuma diam dan cemberut,” kata Marmi.

Di balik kesuksesan yg diraih, Nano dan Marni kini mengaku telah puas.

“Kalau kata orang Jawa tidak ngoyo. Kalau dahulu ketika anak-anak masih kuliah. Kurang daging, kami tambah lagi. Sekarang ya seperi bulan madu saja. Memang paling enak jualan sate, ngipas-ngipas pengunjung tiba sendiri,” canda Nano.

TRIBUNJOGJA.COM/HAMIM THOHARI Tongseng di Sate Petir Pak Nano, di dusun Menayu, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Bagi mereka berdua kesuksesan adalah keempat orang anaknya kini telah sarjana. “Modalnya itu jujur, perbanyak teman, dan yakin padaNya,” kata Nano yg ditemui di acara jumpa pers Kecap Bango Dorong Pelestarian Wariaan Kuliner Nusantara di Restoran Oasis, Jakarta, Selasa (30/8/2016).

Tongseng Petir Pak Nano buka tiap hari dari pukul 12 sampai pukul tujuh malam. Selain sate dan tongseng, Rumah Makan Sate Petir Pak Nano juga menjajakan tongseng kepala kambing, kilil, jeroan, dan otak kambing. Harga seporsi sate dan tongseng kambing dibanderol Rp 20.000 sedangkan nasi dan minuman dibanderol Rp 5.000.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/08/31/140600127/Kisah.Sukses.Sate.Petir.Pak.Nano
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Sukses Sate Petir Pak Nano. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Sukses Sate Petir Pak Nano"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.