Kisah Pilu Di Museum Tsunami Aceh

No comment 112 views

Berikut artikel Kisah Pilu di Museum Tsunami Aceh, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Museum Tsunami Aceh yaitu objek wisata sejarah, pusat pendidikan, dan tempat perlindungan darurat apabila terjadi tsunami kembali. Mari lihat isinya.

Indonesia pernah mengalami gempa dan tsunami dahsyat pada tanggal 26 Desember 2004, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sekitar pukul 07.15 WIB. Gempa yg berkekuatan 9,3 SR meluluhlantakkan semua kehidupan masyarakat Aceh. Seluruh bangunan sudah rata, ratusan orang terluka, lebih dari puluhan ribu orang dinyatakan hilang, dan lebih dari ratusan ribu orang meninggal. Duka Indonesia juga menjadi duka dunia. Banyak negara-negara yang lain yg bersimpati dan memberikan bantuan bagi Aceh.

Untuk mengenang kembali peristiwa tsunami dahsyat yg pernah melanda Aceh, dibangunlah sebuah museum tsunami yg terletak di jalan Sultan Iskandar Muda No 3, Sukaramai, Baitturahman, Kota Banda Aceh. Bangunan dengan luas 2.500 meter persegi ini juga dirancang sebagai pusat pendidikan, objek wisata sejarah, tempat perlindungan darurat apabila terjadi tsunami kembali, dan juga warisan kepada masyarakat Indonesia bahwa tsunami dahsyat pernah melanda Aceh dan menelan banyak korban.

Museum ini hasil rancangan arsitek yang berasal Bandung, Ridwan Kamil, yg kala itu menjabat sebagai dosen ITB. Pembangunan museum dimulai pada tahun 2007 – 2009 dan menghabiskan biaya sebesar Rp140 miliar. Desain bangunan museum tsunami ini seandainya kami perhatikan dari atas, bentuknya seolah seperti gelombang tsunami. Museum ini menyimpan segala foto dan video dokumentasi bencana tsunami. Terdiri dari empat lantai. Di lantai dasar, berfungsi bagi ruang terbuka dan digunakan bagi ruang publik.

Ruang pertama yg mulai kami lalui ketika mengunjungi gedung museum ini adalah ruang renungan. Di dalam ruang renungan, kalian mulai melewati sebuah lorong yg remang dan sempit. Di kiri dan kanan lorong tersebut terdapat air mengalir ibarat gemuruh tsunami dan juga suara azan. Setelah melewati ruang renungan, kalian mulai memasuki ruang yg banyak menyajikan foto pasca tsunami yg memamerkan kerusakan, kehancuran, dan kematian.

Setelah melewati ruangan ini, kalian mulai masuk ke sebuah ruang agak gelap yg berbentuk silinder memanjang tinggi ke atas semacang cerobong. Bangunan ruang ini seolah menandakan perjuangan para korban tsunami ketika tersekap gelombang yg tingginya melebihi pohon kelapa. Disemua dinding ruangan dipenuhi tulisan nama-nama korban tsunami yg meninggal. Di atap ruangan, terdapat kaligrafi arab bertuliskan ALLAh dengan sinar remang-remang. Setelah keluar dari ruang cerobong ini, kalian mulai melihat banyak bendera yg berjumlah 52 dari berbagai negara yg menandakan bahwa mereka mengulurkan bantuan buat Aceh.

Lantai beberapa museum terdapat ruang audio dan ruang 4D. Kita mulai melihat pemutaran film tsunami yg berdurasi 15 menit ketika gempa terjadi dan ketika pertolongan datang. Di lantai tiga terdapat ruang geologi yg berisi seluruh keterangan mengenai gempa dan tsunami melalui dua display dan juga terdapat ruang simulasi gempa.

Ada juga musala, ruang perpustakaan, dan ruang suvenir yg menjual suvenis khas aceh, seperti kaos, rencong, bros rencong, bros pintoe aceh dan sebagainya. Lantai yg terakhir, merupakan lantai empat,tidak dibuka bagi umum karena berfungsi buat tempat penyelamatan darurat apabila terjadi tsunami di masa mendatang dan cuma dibuka ketika darurat.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/31/103300/3406659/1025/kisah-pilu-di-museum-tsunami-aceh
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Pilu di Museum Tsunami Aceh. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Pilu Di Museum Tsunami Aceh"