Kisah Perjuangan Penambang Belerang Di Balik Pesona Kawah Ijen

Berikut artikel Kisah Perjuangan Penambang Belerang di Balik Pesona Kawah Ijen, Semoga bermanfaat

Banyuwangi – Kawah Ijen Banyuwangi terkenal dengan panorama memesona dan api biru yg langka. Tapi selain itu, traveler juga dapat bertemu dengan para penambang belerang di sana.

Matahari kembali menyapa pulau-pulau yg berada di tanah Jawa. Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ada banyak titik bagi menikmati sapuan cahaya matahari di Pulau Jawa.

Kawah Ijen menjadi salah sesuatu tujuan masyarakat maupun pelancong di Banyuwangi bagi melihat matahari yg malu-malu kembali membawa cahaya. Gunung dengan tinggi 2.443 mdpl itu bisa ditempuh dengan menanjak selama 2-3 jam.

Jalur pendakian menuju puncak Ijen juga terbilang tak terlalu sulit buat ditapaki. Di tengah pendakian, traveler mulai menemukan sebuah warung yg menjual teh panas hingga pisang goreng dan mie instan.

(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)

Sebelum datang di kawah, wisatawan mulai akan menghirup asap berbau belerang yg terkadang terasa panas. Ada baiknya bagi mendaki Ijen, traveler membawa pelindung buat mata dan pernapasan.

Tapi jangan khawatir, perjuangan mulai terbayarkan ketika sampai di kawah Ijen. Para pendaki mulai disambut dengan fenomena api biru yg cuma ada beberapa di dunia. Selain di Ijen, api biru mampu dinikmati di Islandia.

Uniknya, sepanjang mendaki traveler mulai melihat banyak orang yg berlalu-lalang dan membawa sebuah troli. Mereka adalah penambang belerang yg biasa bekerja di sekitar kawah Gunung Ijen.

(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)

Para penambang biasanya berangkat kerja pada dini hari memakai senter di kepala, sarung tangan serta jaket tipis bagi menghalau dingin. Di tengah pendaki yg semakin banyak, para penambang harus membagi waktu dan dua jalur setapak yg cuma mampu dilalui sesuatu orang.

“Kalau musim libur biasanya lebih ramai. Ini kalian ambil belerang di sekitar sini (Kawah Ijen),” kata seorang penambang bernama Muhammad.

Muhammad menceritakan, dia dan teman-temannya harus ekstra berhati-hati ketika menambang di musim tertentu. Pada musim hujan, jalan menuju kawah Ijen memang menjadi lebih sulit.

Muhammad dan teman-temannya mulai memarkirkan troli sedikit jauh dari pinggir kawah. Untuk sampai ke bibir kawah, mereka harus melewati jalanan batu menurun yg sangat curam.

Setelah beberapa jam mengangkut belerang dengan cara dipanggul, para penambang pun akan turun dari Gunung Ijen. Biasanya mereka bisa membawa sekitar 80-100 kilogram belerang.

Aktivitas penambang itu menjadi magnet sendiri yg membuat pengunjung takjub memperhatikannya. Setelah para pendaki selesai menambang, traveler bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Ijen.

(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)(Kartika Sari Tarigan/detikTravel)

Di puncak inilah traveler mulai terpukau dengan penampilan matahari yg kembali menawarkan harapan. Tidak cuma domestik, pengunjung juga banyak yg berdatangan dari luar negeri.

Penambang hingga pemandu wisata di sekitar Kawah Ijen bahkan telah sangat fasih menyapa turis mancanegara. Sembari tersenyum, para penambang mulai menyapa “Good morning,” yg mulai dibalas dengan senyum maupun tawa bahagia dari turis asing. (kst/krn)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/10/31/161000/3333654/1519/kisah-perjuangan-penambang-belerang-di-balik-pesona-kawah-ijen
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Perjuangan Penambang Belerang di Balik Pesona Kawah Ijen. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Perjuangan Penambang Belerang Di Balik Pesona Kawah Ijen"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.