Kisah Negeri Yang Penduduknya Paling Benci Terlambat

No comment 151 views

Berikut artikel Kisah Negeri yang Penduduknya Paling Benci Terlambat, Semoga bermanfaat

Zurich – Arloji buatan Swiss kadang menjadi oleh-oleh wisatawan. Kenapa bangsa ini pintar membuat jam? Itu ada kaitan dengan budaya mereka yg tepat waktu dan benci terlambat.

Budaya jam karet atau terlambat memang dianggap sebagai hal yg lumrah di Indonesia. Hal itu pun bertolak belakanga dengan Swiss di Eropa yg dikenal sangat tepat waktu dan efisien.

Dilansir detikTravel dari BBC, Rabu (20/7/2016) efisiensi dan budaya tepat waktu Swiss ternyata berasal dari prinsip hidup mereka. Menyadur definisi kebahagian seorang pemikir Jerman, Schopenhauer, bahwa kebahagiaan yg sejati berasal dari waktu dan kebiasaan yg efisien. Itulah yg yg menjadi alasan.

Hal itu pun dibuktikan segera oleh traveler bernama Eric Weiner yg traveling ke Swiss. Diungkapkan oleh Eric, masyarakat di Swiss terus tiba tepat waktu dan tidak pernah telat. Jika berjanji bagi bertemu pada pukul 14.00, maka mereka mulai tiba tepat waktu atau lebih awal.


Orang Swiss terkenal tepat waktu dan efisien (Randy/detikTravel)

Didasarkan dari prinsip hidup yg efisien, sejumlah penghasil jam ternama dunia pun berasal dari Swiss. Tentu bukan rahasia, kalau jam tangan ‘Made in Swiss’ telah begitu terkenal di dunia mulai akurasinya yg tidak pernah meleset barang sedetik.

Jika melihat jam di pusat perbelanjaan misalnya, tidak sedikit yg berasal dari Swiss dengan lambang negaranya yg berbentuk salib putih dengan kotak merah. Tak sedikit juga traveler yg liburan ke Swiss dan pulang dengan membawa jam tangan.


Moda transportasi juga on-time (Randy/detikTravel)

Etos efisien itu pun juga mampu dijumpai pada berbagai moda kendaraan yg ada di Swiss, baik MRT, tram maupun bus. Apabila naik kendaraan umum, traveler mampu melihat estimasi waktu kendaraan di setiap haltenya. Apabila tertulis 2 menit, telah pasti kendaraan mulai tiba tepat waktu tanpa telat.

Budaya itu pun juga dirasakan oleh penulis Amerika bernama Susan Jane Gilman yg pernah tinggal di Jeneva selama 11 tahun. Susan mengungkapkan, bahwa ia tak pernah menaiki taksi yg datang terlambat di tempat tujuan. Selalu tepat waktu atau lebih cepat.

Fakta menarik lainnya, sejumlah tempat umum seperti toilet pun sangat bersih di Swiss. Kalau dibandingkan secara efisiensi dan etos hidup, mungkin cuma Jepang yg dapat menyaingi Swiss.


Suasana sore hari di Zurich yg ramai namun bersih (Randy/detikTravel)

Di sesuatu sisi, budaya tepat waktu Swiss juga milik kekurangan. Contohnya, masyarakat Swiss terbiasa melakukan Coffee Break setiap pukul 16.00 sore setiap harinya. Lantas segala kedai kopi mulai segera penuh dan menimbulkan antrean, karena segala orang tiba pada waktu yg bersamaan!

Sedangkan dari segi pariwisata, Swiss juga diberkahi dengan banyak bangunan lama bergaya Bavarian hingga Pegunungan Alpen serta alam yg hijau. Rasanya hidup begitu sempurna dan serba tepat waktu di Swiss.

Traveling ke Swiss, traveler pun mulai dibuat belajar banyak. Mulai dari etos waktu yg efisien hingga bagaimana belajar buat menghargai waktu pribadi dan orang lain. Sekiranya hal positif itu dapat berguna dalam dunia kerja serta hidup pribadi.


Suasana alam nan hijau serta dikelilingi gunung es (Randy/detikTravel)

(rdy/shf)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/07/21/114442/3258032/1520/kisah-negeri-yang-penduduknya-paling-benci-terlambat
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Negeri yang Penduduknya Paling Benci Terlambat. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Negeri Yang Penduduknya Paling Benci Terlambat"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.