Kisah Manusia Buaya Di Papua Nugini

No comment 326 views

Berikut artikel Kisah Manusia Buaya di Papua Nugini, Semoga bermanfaat

Wewak – Di Papua Nugini ada Suku Chambri yg unik dan dijuluki traveler sebagai Manusia Buaya. Kulit mereka disayat membentuk sisik buaya, bagi menandakan kedewasaan dan penghormatan pada buaya sebagai leluhurnya.

Sama seperti suku-suku di Papua (karena masih sesuatu daratan), Papua Nugini memiliki banyak suku dengan tradisi yg aneh nan unik. Beberapa tradisinya mungkin kelihatan menyakitkan, tetapi tak buat mereka yg melakukannya turun temurun.

Dirangkum detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (23/6/2016) salah sesuatu suku di Papua Nugini yg milik tradisi khas adalah Suku Chambri. Mereka mendiami daratan di sekitar Danau Chambri, Provinsi Sepik. Dilihat dari peta, posisinya ada di utara Papua Nugini yg mampu ditempuh naik pesawat selama 2 jam dari ibukota negara Papua Nugini, Port Moresby.


Suku Chambri mirip seperti suku-suku di Papua (Planet Doc Full Documentaries/Youtube)


Tinggal di pinggiran danau dan sungai (Planet Doc Full Documentaries/Youtube)

Suku Chambri hidup sehari-hari sebagai pemburu binatang seperti babi dan juga memancing ikan buat yg pria, serta berkebun buat yg wanita. Kehidupan mereka masih sangat sederhana, listrik saja belum masuk ke pemukimannya.

Lalu, apa tradisi khas Suku Chambri? Tradisi khas sukunya dikerjakan cuma oleh para pria. Tradisi berupa menyayat badan dan membentuk kulit di badannya menjadi mirip sisik buaya yg menonjol-nonjol!


Inilah sayatannya yg mirip dengan sisik buaya (Planet Doc Full Documentaries/Youtube)

Ceritanya begini, di sekitar tempat tinggal Suku Chambri di Danau Chambri dan Sungai Sepik masih banyak buaya yg hidup. Ada beberapa jenisnya, buaya Papua Nugini dan buaya muara. Ukurannya besar-besar, dari 4 sampai 7 meter!

Bagi Suku Chambri, buaya yaitu hewan yg sangat diagungkan. Sebab mereka percaya, leluhur mereka dulunya adalah buaya yg semacam berevolusi ke daratan dan berubah menjadi manusia. Mereka juga menjaga kehidupan buaya dan tak memburunya.


Buaya yg diagungkan oleh suku Chambri (Thinkstock)

Tradisi menyayat badan dan membentuk kulit di badan menjadi mirip sisik buaya, telah dikerjakan sejak zaman dulu. Tradisi ini yaitu suatu tanda seorang pria menjadi dewasa. Biasanya dikerjakan dari akan 11 tahun hingga 25 tahun.

Yang menyayatnya, adalah kepala suku. Mereka yg disayat pun harus menahan rasa sakit, kala pisau mencabik-cabik kulit mereka. Kabarnya, tidak sedikit juga ada yg meninggal karena kehabisan darah dan tak tahan dengan rasa sakitnya.

Menyayatnya juga tak sembarangan menyayat. Ada ritual tarian dan doa-doa sebelum kepala suku mengambil pisau dan melakukan tugasnya. Sebab tradisi ini pun masih dianggap luhur.


Persiapan tari-trian sebelum penyayatan (Planet Doc Full Documentaries/Youtube)


Proses ketika kulit disayat (Planet Doc Full Documentaries/Youtube)


Inilah sayatan yg dinilai mirip sisik buaya (Daniel NADLER/Youtube)

Arti dari tradisi ini ada tiga. Pertama, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Suku Chambri yg dipercaya adalah buaya. Kedua, tradisi ini menandakan kedewasaan seorang pria. Ketiga, tradisi ini dipercaya mulai membuat para pria menjadi orang yg kuat karena dapat melewati rasa sakitnya.

Seluruh pria Suku Chambri memiliki bekas sayatan dan kelihatan seperti sisik buaya. Mereka juga dengan bangga, menunjukkan bekas sayatannya. Asyiknya, Suku Chambri telah terbuka dan terbiasa dengan kedatangan turis.

Beberapa operator tur yg menawarkan paket perjalanan ke Danau Chambri sekaligus bertemu Suku Chambri seperti Sepik River Canoe Adventure Tours, North Star Cruises Australia dan Mapex Travel Tours. Turis mulai diajak melihat kehidupan Suku Chambri dari dekat, para wanitanya juga bakal menghibur dengan tarian.

Tentu saja, Anda yg ikut turnya juga dapat bertemu para pria Suku Chambri, Si Manusia Buaya.


Sayatan tanda pria telah dewasa dan mirip sisik buaya (Daniel NADLER/Youtube)

(aff/fay)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/06/24/070954/3240977/1520/kisah-manusia-buaya-di-papua-nugini
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Manusia Buaya di Papua Nugini. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Manusia Buaya Di Papua Nugini"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.