Kisah Kami, Cerita Ramadhan Tergelap Di Perut Bumi…

No comment 125 views

Berikut artikel Kisah Kami, Cerita Ramadhan Tergelap di Perut Bumi…, Semoga bermanfaat

KOMPAS.com – Segalanya memang tampak gelap total. Semakin dalam, bahkan kegelapan itu semakin menyergap. Namun, begitu sinar headlamp dinyalakan, yg terhampar di sekeliling adalah ornamen-ornamen Gua Asem yg memikat. Bikin lupa waktu kalau ketika ini sedang berpuasa.

Toh, bukan masalah mudah juga mampu blusukan ke dalam gua itu. Gua Asem atau Gua Ciasem memiliki rintangan berupa pitch-1 sedalam kurang lebih 18 meter. Kami menuruninya dengan seutas tali kernmantle melalui sebuah teras kecil, sebelum akhirnya datang di sebuah chamber atau aula cukup luas di dasarnya.

Selanjutnya, satu-persatu kita masuk ke celah sempit sepanjang 28 meter menuju pitch-2. Sesampainya di situ, kalian pun menuruni sistem dengan tali setinggi 3 meter yg dibuat sebelumnya oleh rekan kita yg lain.

Setelah seluruh turun, kalian kemudian berjalan melewati lorong cukup besar. Cahaya-cahaya dari lampu di kepala kita seketika menerangi seisi kegelapan lorong dan tampaklah stalaktit dan stalakmit menghiasi pemandangan. Beberapa column dan gordyn juga kalian temui di sisi sepanjang dinding gua.

Hingga akhirnya, kalian pun datang di ujung gua, Untuk mencapainya, kalian masih harus menuruni tali setinggi 8 meter hingga di dasarnya. Setelah sistem tali terpasang, segala pun turun. 

Tak terasa, telah beberapa jam lebih kita habiskan waktu bagi mencapai dasar Gua Asem ini. Setelah melakukan pendokumentasian, kalian langsung bergegas memetakan gua ini. Semua kita petakan akan ujung gua hingga ke mulut gua tempat kalian mengawali petualangan ini.

Dok Mapala UI Bukan masalah mudah juga dapat blusukan ke dalam Gua Asem atau Gua Ciasem. Gua ini memiliki rintangan berupa pitch-1 sedalam kurang lebih 18 meter. Menuruninya harus dengan tali kernmantle melalui teras kecil, sebelum akhirnya datang di sebuah chamber atau aula cukup luas di dasarnya.

Tepat pukul 14.00, pemetaan selesai. Total waktu kita habiskan di gua ini adalah empat jam. Ya, empat jam di dalam perut bumi yg gelap namun indah ini.

Sekonyong-konyong, terdorong perut lapar dan keadaan lelah karena berpuasa, terbayang es buah telah menanti di kemah yg kita dirikan tidak jauh dari mulut gua ini. Semangat kalian pun kembali buat langsung menyudahi petualangan ini dan kembali ke “dunia luar” tempat kita berasal.

Menantang ditelusuri

Seperti itulah kesan pertama kita setelah masuk ke dalam lorong-lorong Gua Ciasem atau Gua Asem, JUmat (24/6/2016) lalu. Bagi kami, tim penelusur gua Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), bulan Ramadhan yg penuh berkah bukan semata nikmat berpuasa, tetapi sekaligus juga mampu menikmati ciptaan-Nya dalam keadaan berpuasa penuh.

Saya bersama enam anggota Mapala UI lainnya memang sengaja mengisi libur puasa ini dengan menelusuri Gua Asem. Perjalanan tersebut rangka persiapan menghadapi ‘Wonogiri Caving Expedition 2016’ yg kalian rancang pada Agustus nanti.

Dok Mapala UI Setelah melakukan pendokumentasian, kita langsung bergegas memetakan gua ini. Semua kita petakan akan ujung gua hingga ke mulut gua tempat kita mengawali petualangan ini.

Gua Asem atau Ciasem sendiri berada di Desa Leuwikaret, Klapanunggal, Bogor. Di kalangan pecinta alam, khususnya penelusur gua di kitaran Bogor, gua ini cukup dikenal menantang ditelusuri.

Melongok sejarahnya berdasarkan penuturan Eman (50), warga Desa Leuwikaret yg mengantarkan tim ke entrance (mulut) gua, nama gua ini adalah Gua Napel. Dalam bahasa Sunda, “napel” berarti “lengket”.

Adapun nama Asem atau Ciasem, menurut Eman, lebih dikenal di kalangan pecinta alam, lantaran dahulunya terdapat pohon asem tidak jauh di utara mulut gua tersebut. Inilah cikal bakal penamaan Gua Asem.

Gua itu sendiri letaknya tepat di bukit belakang rumah Eman. Perjalanan menuju mulut gua ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki menanjak selama kurang lebih 30 menit.

Karena berbentuk gua vertikal, butuh waktu sesuatu jam untuk kalian merancang sistem tali temali bagi menuruni gua ini. Agak sulit memang. Tapi, justeru di situlah cara kalian menguji diri bagi menghadapi tantangan sesungguhnya nanti di ‘Wonogiri Caving Expedition 2016’.

(ARI NALDI/MAPALA UI)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/03/193700527/kisah.kami.cerita.ramadhan.tergelap.di.perut.bumi.
Terima kasih sudah membaca berita Kisah Kami, Cerita Ramadhan Tergelap di Perut Bumi…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah Kami, Cerita Ramadhan Tergelap Di Perut Bumi…"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.