Kisah 13 Juta Gulden Dan Kembalinya Siak Ke Pangkuan NKRI

No comment 94 views

Berikut artikel Kisah 13 Juta Gulden dan Kembalinya Siak ke Pangkuan NKRI, Semoga bermanfaat

Siak – Kesultanan Siak di Riau ternyata milik kekayaan melimpah. Di awal kemerdekaan, Sultan Siak menyumbang uang 13 Juta Gulden dan akhirnya bergabung dengan NKRI.

Mungkin banyak traveler yg belum tahu, kalau lalu di Riau pernah berdiri sebuah kerajaan yg makmur lagi kaya. Nama kerajaan ini adalah Kesultanan Siak Sri Indrapura. Wilayahnya kekuasaannya pun sangat luas, mencapai daerah Sambas di Kalimantan Barat.

Bukti kekayaan Kesultanan Siak ini dapat dilihat dari begitu megahnya Istana Asherayah Al-Hasyimiyah yg dibangun pada tahun 1889. Istana berarsitektur Eropa ini masih bertahan hingga sekarang dan mampu traveler kunjungi bila liburan ke Siak, Riau.

detikTravel pun berkunjung ke istana ini minggu lalu, di sela-sela acara Famtrip Pesonna Hotel Pekanbaru. Selama mengelilingi dan ditemani oleh pemandu bernama Sukri, detikTravel mendapat banyak cerita tentang betapa bijaksananya Sultan Syarif Kasim II dalam memimpin Kesultanan Siak.

Begitu mendengar kabar Indonesia merdeka di tahun 1945, Sultan Syarif Kasim II segera memberikan dukungan. Tak cuma dukungan secara lisan, maupun moral, melainkan juga secara materiil.

“Sultan Syarif Kasim II menyumbangkan kekayaannya berupa uang sebanyak 13 Juta Gulden kepada pemerintah NKRI. Uang itu digunakan sebagai modal awal berjalannya pemerintahan di masa itu,” ujar Sukri.

Uang sejumlah 13 Juta Gulden di masa itu tentu saja sangat banyak. Pernah ada yg menghitung kurs 13 Juta Gulden di tahun 2011, dan ternyata setara dengan 69 Juta Euro atau seandainya dirupiahkan sekitar Rp 1,074 Triliun!

Kisah 13 Juta Gulden & Kembalinya Siak ke Pangkuan NKRIFoto: (Wahyu/detikTravel)

Tak cuma itu saja, Sultan Syarif Kasim II juga menyerahkan mahkota Kerajaan Siak kepada Soekarno di Istana Negara pada 1945. Penyerahan mahkota ini menandai simbol bergabungnya Kesultanan Siak dan 12 wilayah kekuasaannya ke NKRI. Mahkota berlapis emas dan bertahtakan berlian ini sampai sekarang masih tersimpan di Museum Nasional.

“Sebelumnya Sultan Siak ditanya oleh Ir Soekarno, apakah ingin tetap ada Kesultanan Siak atau lebih memilih bergabung dengan RI? Setelah 7 hari merenung dan salat istikarah, Sultan memilih bagi bergabung ke NKRI,” cerita Sukri.

Dengan bergabungnya Siak ke NKRI, otomatis sultan kehilangan hak atas Istana Asherayah Al-Hasyimiyah yg megah beserta segala isinya. Namun buat Sultan Syarif Kasim II, hal itu tak menjadi persoalan karena dia lebih mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya.

Sampai akhir hayatnya, Sultan Syarih Kasim II tinggal dalam kondisi miskin dan statusnya sebagai rakyat jelata di rumah peraduan. Rumah peraduan ini sangat sederhana, lokasinya berada persis di sisi barat kompleks istana.

Akhirnya di Tahun 1998, jasa-jasa Sultan Syarif Kasim II diganjar penghargaan dari Pemerintah RI berupa gelar Pahlawan Nasional yg diserahkan oleh Presiden BJ Habibie. Nama Sultan Syarif Kasim II pun diabadikan sebagai nama bandara di Kota Pekanbaru.

Traveler yg ingin menelusuri kisah hidup Sultan Syarif Kasim II dapat bertandang ke Istana Siak Sri Indrapura buat melihat-lihat lebih dekat lagi. Istana ini buka dari akan pukul 09.00 sampai 16.00 waktu setempat. (wsw/krn)

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/01/24/081722/3403673/1519/kisah-13-juta-gulden–kembalinya-siak-ke-pangkuan-nkri
Terima kasih sudah membaca berita Kisah 13 Juta Gulden dan Kembalinya Siak ke Pangkuan NKRI. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kisah 13 Juta Gulden Dan Kembalinya Siak Ke Pangkuan NKRI"