Ketika Banyumas “Berguru” Soal Pariwisata Ke Belitung

No comment 146 views

Berikut artikel Ketika Banyumas “Berguru” soal Pariwisata ke Belitung, Semoga bermanfaat

PURWOKERTO, KOMPAS.com – Belitung yaitu salah sesuatu pulau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yg sebelumnya dikenal dengan tambang timahnya. Namun, sekarang akan terkenal dengan pariwisatanya.

Meskipun Provinsi Babel baru berusia 16 tahun, hal tersebut tak menjadikan Pemerintah Kabupaten Banyumas malu bagi “berguru” ke kepulauan yg dikenal dengan sebutan “Bumi Serumpun Sedamai” itu, khususnya mempelajari pengelolaan pariwisata di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur, Pulau Belitung.

Bahkan, kepariwisataan di Pulau Belitung itu sendiri baru mencuat tahun 2008-2009 seiring dengan pemutaran film “Laskar Pelangi” garapan sutradara Riri Riza yg dirilis pada tahun 2008.

Dalam film yg diangkat dari novel karya Andrea Hirata itu menampilkan berbagai keelokan alam Belitung sehingga banyak orang yg penasaran buat berwisata ke pulau tersebut dan hingga kini, wisatawan nusantara maupun mancanegara selalu berdatangan ke “negeri” Laskar Pelangi.

Tidak ketinggalan pula, Pemkab Banyumas melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) serta Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Banyumas mengunjungi Pulau Belitung buat mempelajari pengelolaan pariwisata khususnya yg berkaitan dengan cagar budaya.

“Kami sengaja tiba bersama sejumlah awak media bagi mengeksplorasi secara segera pengelolaan pariwisata di Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Belitung,” kata Kabag Humas dan Protokol Setda Banyumas Agus Nur Hadie.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Wisatawan mengunjungi replika tempat shooting film Laskar Pelangi, SD Muhammadiyah Gantong di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (15/6/2016).

Dalam kunjungan yg dilaksanakan pada 17-19 November 2016 itu, dia mengharapkan adanya rekomendasi dari awak media bagi Pemkab Banyumas terkait dengan pengelolaan pariwisata setelah mereka mengeksplorasi secara segera sejumlah destinasi wisata alam maupun budaya serta berdiskusi dengan pejabat yg membidangi industri pariwisata dan kebudayaan di Pulau Belitung.

Beberapa destinasi wisata yg dikunjungi dalam kegiatan tersebut, yakni Obyek Wisata Unik Ngenjungak (OWUN), Museum Kata Andrea Hirata, Replika Gedung Sekolah Laskar Pelangi, Rumah Adat Belitung, Menara Suar Pulau Lengkuas, serta sejumlah pulau dan pantai termasuk kunjungan ke Galeri UMKM.

Saat mengunjungi OWUN, rombongan Pemkab Banyumas takjub karena destinasi wisata itu sebenarnya Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yg dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah obyek wisata yg unik dengan menampilkan berbagai potensi wisata, kerajinan, hasil bumi, dan budaya, termasuk tata cara pernikahan adat yg ada di Beltim.

Bahkan, OWUN juga dilengkapi dengan sejumlah koleksi satwa berupa seekor buaya muara asli Belitung, dua kura-kura, dan seekor tarsius dari Manado guna menarik minat wisatawan buat berkunjung.

Kepala Disbudpar Beltim Helly Tjandra menyampaikan bahwa nama obyek wisata “Ngenjungak” berasal dari bahasa Belitong (Belitung) yg berarti berkunjung ke suatu tempat dengan waktu yg tak terlalu lama.

“Wisatawan yg tiba ke sini (OWUN) mulai kita ajak bagi melihat museum kopi mini, timah, lada, mini ‘zoo’ (kebun binatang mini, ruang budaya, dan merasakan sensasi bermain atraksi batu putar, serta pijat refleksi tradisional,” katanya.

Danau Kaolin di lahan bekas tambang timah di Desa Nibung Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung

Menurut dia, OWUN dibuka sejak 2014 itu yaitu sebuah inovasi bagi mengubah paradigma masyarakat Beltim yg sebelumnya menggantungkan hidup pada industri pertambangan menjadi masyarakat pariwisata.

Dalam perkembangannya keberadaan OWUN menjadi “booming” karena banyak dikunjungi wisatawan maupun pejabat.

Dari situlah, lanjut Helly Tjandra, masyarakat Beltim melihat bahwa dengan cara yg sederhana bisa meningkatkan kunjungan wisatawan sehingga mereka pun akan menata kedai-kedai kopi maupun pusat-pusat cendera mata guna menarik minat wisatawan.

“Mungkin hanya di sini, Kantor Disbudpar menjadi obyek wisata,” ujarnya.

Helly Tjandra menyampaikan keberadaan OWUN sama sekali mengganggu aktivitas di Kantor Disbudpar Beltim.

“Kami bukan kantor dinas yg berfungsi memberikan pelayanan seperti Disdukcapil. Namun, kita memosisikan diri sebagai pelayan yg bersiap melayani wisatawan,” katanya.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Pulau Lengkuas yg memiliki mercusuar setinggi 62 meter dengan ratusan anak tangga. Diatasnya wisatawan mampu melihat berbagai pulau kecil dan birunya laut Belitung.

Saat mengunjungi Rumah Adat Belitong di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, rombongan Pemkab Banyumas juga terkesima dengan bangunan tradisional yg di dalamnya memajang berbagai foto cagar budaya dan suasana Belitung masa dahulu serta menampilkan berbagai hasil kerajinan masyarakat Belitung.

Selain itu, rombongan Pemkab Banyumas juga berkesempatan bagi mempraktekkan tata cara makan sesuai adat Belitung, yakni “bedulang” di mana dalam sesuatu nampan terdapat sayur dan lauk bagi dimakan berempat dan sebelum akan makan, yg muda harus melayani yg tua lebih dahulu.

Dalam dialog di Rumah Adat, rombongan Pemkab Banyumas mendapat penjelasan mengenai pengelolaan cagar budaya dan pariwisata Kabupaten Belitung yg disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Paryanto, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Susanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hiburan Disparekraf Sugianto, serta Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas P dan K Alwan Hadi.

Implementasi

Menurut jurnalis yg mengikuti kunjungan Pemkab Banyumas ke Pulau Belitung, Saladin Ayubbi, banyak hal yg dikerjakan oleh Kabupaten Belitung maupun Beltim bisa diimplementasikan di Banyumas.

“Salah satunya menjadikan Kantor Dinporabudpar Banyumas sebagai obyek wisata seperti yg dikerjakan Disbudpar Beltim dengan OWUN-nya. Mencontoh hal yg bagus kan tak masalah,” katanya.

KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo Warung Kopi Kong Djie yg terletak di persimpangan jalan Siburik Barat dan Jalan Kemuning, Tanjung Pandan, Belitung.

Kendati demikian, dia menyarankan dalam pembuatan objek wisata wisata di Kantor Dinporabudpar Banyumas agar dibuat lebih menarik sehingga bisa menarik minat wisatawan buat berkunjung.

“Apalagi, Kantor Dinporabudpar Banyumas berdekatan dengan sejumlah hotel dan berseberangan jalan dengan GOR Satria, Purwokerto,” kata Saladin.

Kepala Dinporabudpar Banyumas Muntorichin menyampaikan bahwa pihaknya mulai berupaya mengimplementasikan dua hal dari hasil kunjungan ke Pulau Belitung seperti pembangunan obyek wisata di Kantor Dinporabudpar Banyumas dan Museum Banyumas yg diinspirasi dari Rumah Adat Belitung.

Menurut Muntorichin, hal itu disebabkan Kabupaten Banyumas memiliki lebih banyak destinasi wisata seandainya dibandingkan dengan Belitung dan Beltim.

“Hal itu tak mengecilkan arti kami studi banding ke Belitung karena dalam hal tata kelola, Banyumas lebih tertib dan rapi. Akan tetapi, di Belitung ada obyek yg menarik sehingga perlu kalian tiru,” katanya.

Ia mengaku mulai mengusulkan ke Pemkab Banyumas bagi membangun obyek wisata semacam Rumah Adat Belitung.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Mercusuar di Pulau Lengkuas,Belitung.

Dalam hal ini, Muntorichin mengusulkan destinasi wisata budaya tersebut dibangun di Kantor Kecamatan Banyumas karena Pendapa Duplikat Si Panji yg ada di sana termasuk cagar budaya.

“Nantinya mulai kalian isi dengan materi-materi yg berkaitan dengan budaya Banyumas. Di belakangnya, kalian telah membangun Taman Sari sehingga nantinya wisatawan mulai diwajibkan mengunjungi destinasi wisata itu,” katanya.

Menurut Muntorichin, kompleks Pendapa Duplikat Si Panji juga mulai dilengkapi dengan museum yg berisikan berbagai tradisi budaya, sejarah, dan hal-hal yg berkaitan dengan Banyumas meski ketika sekarang sudah ada Museum Wayang.

Bahkan, di depan Pendapa Duplikat Si Panji juga terdapat bangunan cagar budaya berupa Masjid Nur Sulaiman.

Kendati demikian, Muntorichin mengakui ada dua kendala dalam pengembangan wisata di Banyumas, antara lain, persoalan sumber daya manusia dan anggaran.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Pegunjung mampu melihat ratusan karya Andrea Hirata yg berupa kutipan sastra hingga novelnya yg diterbitkan dengan berbagai bahasa, di Ruang Tengah Museum Kata Andrea Hirata.

“Dalam anggaran sementara pada tahun 2017 Dinporabudpar Banyumas mendapat alokasi sebesar Rp 18 miliar. Dari jumlah tersebut, buat belanja pengembangan wisata sekitar Rp 8 miliar,” katanya.

Meskipun ada keterbatasan anggaran, Muntorichin mengaku optimistis pengembangan pariwisata di Kabupaten Banyumas mampu berjalan dengan baik. (Sumarwoto)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/22/052900727/ketika.banyumas.berguru.soal.pariwisata.ke.belitung
Terima kasih sudah membaca berita Ketika Banyumas “Berguru” soal Pariwisata ke Belitung. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Ketika Banyumas “Berguru” Soal Pariwisata Ke Belitung"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.