Kepulauan Ugar, ‘Raja Ampat’ Dari Fakfak

No comment 112 views

Berikut artikel Kepulauan Ugar, ‘Raja Ampat’ dari Fakfak, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Provinsi Papua Barat milik Raja Ampat, Kota Fakfak pun tidak mau kalah. Mereka milik Kepulauan Ugar, yg kecantikannya dapat saja menyaingi Raja Ampat.

Bicara tentang Papua Barat, siapa yg tak tahu Raja Ampat? Kepulauan yg terkenal dengan laut berwarna biru toskanya ini sudah menjadi aset Indonesia, bahkan dunia. Tapi, tahukah kamu seandainya Papua Barat memiliki hidden paradise yg lain?

Raja Ampat didukung dari kekayaan bawah laut serta pengelolaan yg cukup baik. Pihak asing pun telah turut andil bagi menjaga kekayaan tersebut. Terbukti dari adanya dua NGO internasional yg ikut mengelola kawasan ini seperti Conservation International (CI) dan Nature Conservacy.

Akan tetapi, sering keindahan yg telah terekspose menyilaukan penglihatan. Membuat kalian lupa bahwa ada banyak hal indah yg tersimpan di bumi Pertiwi yg patut dijaga juga. Fakfak juga memiliki kepulauan yg tak kalah cantik bernama Ugar.

Kepulauan yg masuk di wilayah administratif Distrik Kokas ini memiliki gugusan pulau kecil yg mirip dengan kepulauan Wayag di Raja Ampat. Lautnya pun jernih lengkap dengan gradasi warna yg indah. Butiran pasir lembut juga mampu ditemui di bibir pantai pulau-pulau kecil maupun di Pulau Ugar sendiri.

Akses menuju kepulauan ini cukup mudah. Jalan menuju ke sana juga telah bagus berupa jalanan aspal. Jarak tempuh dari kota Fakfak sekitar 45 km atau sekitar 2 jam dengan memakai kendaraan bermotor.

Jika tak ada kendaraan pribadi, kalian mampu memakai kendaraan umum jalur Fakfak-Kokas dengan tarif Rp 30.000 per orang. Setelah sampai di Pelabuhan Kokas, perjalanan dilanjutkan dengan memakai transportasi laut.

Transportasi yg tersedia adalah long boat punya warga Kampung Ugar. Tarifnya pun cukup murah sebesar Rp 30.000 per orang. Tarif tersebut mampu jauh lebih murah lagi seandainya kalian telah kenal dengan penduduk setempat.

Waktu tempuh dari Pelabuhan Kokas ke Kampung Ugar sekitar 30-45 menit tergantung keadaan lautan. Dikarenakan kepulauan ini berada di dekat Laut Banda dengan ombak yg cukup bergelombang pada waktu-waktu tertentu.

Perlu diketahui, di kepulauan ini cuma ada sesuatu pulau yg berpenghuni, merupakan Pulau Ogasmuni. Pulau ini memiliki sesuatu kampung bernama Kampung Ugar. Sesampainya di kampung ini, kami mulai disambut oleh warga asli Suku Kokoda yg memang telah mendiami pulau ini sejak dulu.

Kampung dengan jumlah penduduk 276 orang ini mayoritas bekerja sebagai nelayan. Sebagai catatan, bagi para pendatang yg mengunjungi kepulauan ini wajib bagi mengikuti upacara adat sebelum melakukan eksplorasi lebih lanjut.

Upacara ini dikerjakan dengan serangkaian ritual adat yg dipimpin oleh tetua adat setempat. Setelah itu, kami mulai mengikuti tetua adat berkeliling tempat-tempat keramat.

Dimulai dari mengikat tali merah di mulai pohon beringin yg ada di dekat dermaga. Kemudian dilanjutkan dengan keliling di beberapa pohon kayu besi yg ada di belakang kampung serta sumber mata air yg diapit beberapa pohon tersebut.

Konon, semua kepulauan yg ada di tempat ini masih tergolong tempat sakral. Oleh karena itu, masyarakat setempat benar-benar menjaga kawasan tersebut. Mereka tak berani menebang pohon atau menangkap ikan sembarangan.

Tetua adat pun menambahkan bahwa upacara yg dikerjakan bertujuan buat memperkenalkan orang baru yg bertamu di kepulauan ini. Diharapkan dengan begitu para pendatang dijauhkan dari hal-hal yg tak diinginkan. Selanjutnya, buat para pendatang mampu memanfaatkan rumah warga sebagai home base. Warga setempat tak menyebutkan tarif tertentu, tetapi kami dapat membayarnya dalam bentuk tali asih.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kearifan lokal tersebut memiliki dampak yg baik buat lingkungan yg ada di tempat ini. Kepercayaan masyarakat yg meyakini tentang kesakralan tempat ini secara tak segera sudah menjaga keanekaragaman hayati yg tersimpan di kepulauan ini.

Berbagai macam satwa, khususnya aves, ditemukan berterbangan dari sesuatu pulau ke pulau yg lain. Terlihat rangkong, kakatua jambul kuning, gagak dan juga elang laut. Aneka anggrek juga ditemukan di antara karang-karang di perengan bukit karst.

Selain itu, ditemukan juga tanaman obat dalam jumlah banyak di pinggiran maupun dalam hutan. Faktanya, kekayaan tersebut didukung dengan kawasan hutan yg memang masih cukup pertemuan dan terjaga.

Tidak cuma itu, sekalipun masyarakat setempat bekerja sebagai nelayan, pengelolaan hasil laut yg diterapkan masih tradisional. Masyarakat tak diperbolehkan memakai cara tangkap ikan yg bisa merusak ekosistem bawah laut. Sistemnya pun diatur oleh tetua adat yg biasa disebut dengan sasi.

Dengan memakai sistem ini, masyarakat cuma boleh menangkap ikan pada waktu-waktu tertentu. Ini bertujuan bagi menjaga kapasitas dan kualitas hasil tangkapan masyarakat.

Kearifan lokal yg sudah disebutkan memamerkan tingkat kepedulian masyarakat yg cukup tinggi terhadap kelestarian lingkungan yg ada di sekitarnya. Di samping itu, kehangatan masyarakat setempat juga tidak mengurangi kesan tersendiri saat berkunjung di pulau ini.

Satu hal yg perlu diteladani dan diterapkan adalah tingkat kepedulian terhadap lingkungan yg tercermin dari kearifan lokal setempat. Diharapkan meski nantinya Ugar dikenal oleh masyarakat luar Fakfak, hal tersebut masih selalu terjaga.

Apalagi sistem sasi yg diterapkan. Alangkah baiknya seandainya sistem tersebut dapat diterapkan di berbagai tempat yg ada di Kabupaten Fakfak. Terkait dengan Fakfak yg dikenal dengan hasil lautnya.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/09/28/111700/3278525/1025/kepulauan-ugar-raja-ampat-dari-fakfak
Terima kasih sudah membaca berita Kepulauan Ugar, ‘Raja Ampat’ dari Fakfak. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kepulauan Ugar, ‘Raja Ampat’ Dari Fakfak"