Kecopetan Dan Tak Bisa Bahasa Inggris, Turis China Disangka Pengungsi Di Jerman

Berikut artikel Kecopetan dan Tak Bisa Bahasa Inggris, Turis China Disangka Pengungsi di Jerman, Semoga bermanfaat

Heidelberg – Liburan di negara asing tanpa dapat bahasa Inggris, itu mampu jadi masalah. Akibat tak dapat bahasa Inggris, turis China yg kecopetan disangka sebagai pengungsi.

Dilansir detikTravel dari Reuters, Rabu (10/8/2016) kejadian itu menimpa seorang turis China malang yg berinisial L di Kota Heidelberg yg berjarak sesuatu jam dari Frankfurt. Hal itu pun baru diketahui pada hari Senin kemarin (8/8).

Kronologisnya, ketika itu turis China yg berinisial L tengah liburan di Kota Heidelberg. Namun malang, ia kecopetan dan tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa dapat berbahasa Inggris, ia pergi ke balai kota dan malah mengisi aplikasi suaka yg ditujukan bagi pengungsi.

Krisis berkepanjangan yg terjadi di sejumlah negara Timur Tengah memang membuat Jerman menjadi salah sesuatu negara pelarian para pengungsi yg mengincar suaka. Pengungsi yg tak milik identitas pun kerap ditempatkan di kamp pengungsian yg berlokai di luar kota.

Walau berpakaian rapi, turis malang itu disangka pengungsi dan dibawa ke kamp pengungsi yg terletak di Kota Duelmen yg berjarak sekitar 360 km dari Heidelberg. Di sana ia diberi makanan dan sedikit uang layaknya para pengungsi.

Di kamp pengungsi, ia pun berusaha buat berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan Mandarin. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil sama sekali.

“Ia selalu coba bicara dengan orang-orang sambil menceritakan kisahnya, tetapi tak ada sesuatu orang pun yg dapat memahaminya. Ia selalu meminta passportnya kembali, kebalikan dari apa yg dikerjakan oleh para pengungsi,” ujar Kepala Palang Merah, Christoph Schluetermann, yg menangani pengungsi di Duelmen.

Alhasil, pihak Palang Merah yg mengurus kamp pengungsi Duelmen bersimpati mulai turis tersebut. Setelah gagal berkomunikasi lewat aplikasi, dipanggil seorang pekerja dari restoran Chinese lokal bagi menolong menerjemahkan kata pria tersebut.

Pada akhirnya, pihak Palang Merah menyadari kalau pria tersebut ‘tersesat’ di kamp pengungsi karena salah paham. Jika ditotal, pria tersebut sempat menginap di kamp pengungsi selama 12 hari. Waktu yg tak sebentar.

“Itu yaitu momen tak biasa buat kita semua. Ia bilang Eropa tak seperti yg ia bayangkan. Ia juga menyampaikan kegembiraanya buat meninggalkan kamp pengungsian, tetapi tak marah,” ujar Crishtoph.

Mungkin saja ada di antara traveler yg salah paham ketika liburan di negeri orang akibat keterbatasan bahasa. Semoga saja turis China tersebut tak kapok buat traveling lagi ke luar negeri.

(rdy/fay)

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/08/10/071308/3272002/1382/kecopetan–tak-bisa-bahasa-inggris-turis-china-disangka-pengungsi-di-jerman
Terima kasih sudah membaca berita Kecopetan dan Tak Bisa Bahasa Inggris, Turis China Disangka Pengungsi di Jerman. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kecopetan Dan Tak Bisa Bahasa Inggris, Turis China Disangka Pengungsi Di Jerman"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.