Keamanan Pangan Dalam Industri Pariwisata

No comment 94 views

Berikut artikel Keamanan Pangan dalam Industri Pariwisata, Semoga bermanfaat

PEMERINTAH sudah memutuskan pariwisata sebagai motor penggerak perekonomian negara, dengan target wisatawan mancanegara (wisman) 20 juta orang di tahun 2019.

Besarnya target wisman, menuntut kesiapan banyak hal akan dari infrastruktur, tempat tujuan wisata, jaminan keamanan, hingga sumber daya manusia. Seiring dengan meningkatnya industri pariwisata, keamanan pangan menjadi bagian yg kian menuntut perhatian serius.

Jumlah wisman yg tiba berkunjung ke Indonesia tumbuh lebih dari 30 persen dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, jumlah wisman yg tercatat masuk ke Indonesia mencapai lebih dari 9 juta orang (2014), mayoritas berasal dari Asia.

Terbanyak adalah wisatawan dari Singapura, Malaysia, dan Australia. Bila dilihat yang berasal negara, wisman dari RRC pertumbuhannya paling tinggi (97,45 persen) dibanding dari negara-negara lain.

Rata-rata lama tinggal wisman adalah 7,66 hari (2014). Pengeluaran rata-rata wisman per kunjungan di Indonesia (2014) sebesar 1.183,43 dollar AS, sebagian besar bagi akomodasi dan makanan-minuman (64,15 persen). Semakin lama tinggal dan semakin banyak wisatawan membelanjakan uangnya, semakin bergerak perekonomian di daerah yg dikunjungi.

Faktor keamanan yaitu hal sangat utama dalam kepariwisataan, bukan cuma keamanan dalam kaitannya dengan konflik politik, tapi juga bencana alam dan keamanan pangan.

Makanan-minuman yaitu kebutuhan pokok dan menjadi pos pengeluaran terbesar kedua setelah akomodasi. Dengan demikian, perkembangan kepariwisataan mulai berpengaruh terhadap perkembangan usaha makanan-minuman.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Proses pembuatan Kuah Beulangong, makanan khas Aceh yg disajikan gratis dalam Festival Kopi dan Kuliner Aceh 2016 di Banda Aceh, Aceh, Rabu (11/5/2016). Pemerintah Provinsi Aceh bersama Pemerintah Kota Banda Aceh menyelenggarakan Festival Kopi dan Kuliner Aceh 2016 pada 10-12 Mei 2016 bagi semakin memperkenalkan kopi dan kuliner Aceh ke wisatawan.

Perkembangan usaha makanan-minuman

Seiring dengan perkembangan pariwisata, usaha di bidang makanan-minuman juga berkembang pesat. Pada Triwulan II -2016 misalnya, dibandingkan triwulan yg sama pada tahun sebelumnya pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 8,22 persen.

Pada periode yg sama, kontribusi industri makanan-minuman terhadap PDB sektor industri manufaktur non-migas juga tumbuh 33,27 persen.

Pada tahun 2013 terdapat 2.269 usaha restoran/rumah makan di Indonesia berskala menengah-besar, 27,91 persen di antaranya tak berbadan hukum, dan 72,88 persen dari jumlah tersebut yaitu restoran non-waralaba.

Rata-rata pendapatan per tahun restoran menengah-besar itu mencapai lebih dari 4 miliar rupiah, umumnya (72,74 persen) berpendapatan antara 1 sampai kurang 5 miliar rupiah per tahun. Data tersebut belum termasuk usaha katering, yg ketika ini tak cuma terdapat di kota besar tapi juga di desa.

Di luar itu, terbanyak adalah usaha makanan-minuman skala Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM selama ini bahkan menyumbang sekitar 60 persen PDB.

Keamanan makanan

Pengolahan bahan pangan menjadi makanan bersiap konsumsi memiliki mata rantai yg cukup panjang, akan dari produksi bahan baku hingga pendistribusian makanan bersiap konsumsi.

Setiap tahap berpotensi mencemarkan bahan pangan dan makanan-minuman yg dihasilkan. Penyediaan makanan-minuman yg berbahaya buat kesehatan mulai berpengaruh buruk terhadap kepariwisataan.

Kasus keracunan makanan masih banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, karena masih rendahnya mutu pengawasan produksi olahan pangan.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA Mukhlas Ariesta (kanan) menyiapkan sajian puyuh ungkep bagi pelanggan di warung makan puyuh ungkep miliknya di Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (28/1/2016). Mukhlas berhasil mengembangkan usaha kuliner puyuh ungkep yg dia rintis ketika menjadi mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Solo dengan modal awal yg diperoleh dari Program Mahasiswa Wirausaha.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), selama periode 2010-2014 angka keracunan makanan di Indonesia mencapai 1.218 kasus. Catatan berdasarkan laporan masyarakat dan pemberitaan, perkara keracunan berawal dari konsumsi terhadap makanan rumah tangga, makanan katering, jajanan pasar dan sekolah.

Dari Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) pada 2014, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menemukan fakta bahwa setiap tahun ada sekitar 200 laporan kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan di Indonesia.

Pada awal tahun 2016 di Sukabumi terjadi 4 masalah keracunan makanan dengan jumlah korban lebih dari seratus orang, seorang di antaranya meninggal dunia.

Pada tahun sebelumnya (2015) keracunan makanan di daerah tersebut mencapai 16 kasus, dan menempatkan Kabupaten Sukabumi sebagai yg tertinggi di Indonesia dalam jumlah masalah keracunan makanan.

Hingga Juni 2016 di Indonesia tercatat 60 masalah keracunan makanan dengan jumlah korban 4.282 orang, 32 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah korban keracunan setengah tahun ini hampir menyamai jumlah korban keracunan tahun 2015 (5761 korban, 31 orang di antaranya meninggal).

Oktober 2016, artis Sissy Priscillia berbagi cerita lewat akun instagramnya, bahwa ia keracunan setelah menyantap masakan di sebuah restoran di Jakarta. Marc Marquez, pembalap motor yang berasal Spanyol, pernah diberitakan mengalami gastroenteritis setelah menyantap makanan tertentu di Indonesia.

Gastroenteritis adalah keadaan medis yg ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan (lambung dan usus halus), sehingga mengakibatkan kombinasi diare, muntah, sakit dan kejang perut.

Awal Juli 2016 bek andalan Manchester United, Chris Smalling, keracunan makanan ketika berlibur di Bali. Ia sempat pingsan dan dirawat di rumah sakit.

KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Para pekerja gerai Soto Gading menyiapkan pesanan pembeli di salah sesuatu tujuan wisata kuliner populer di Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/7/2016).

Menurut hasil pemetaan masalah keracunan yg dikerjakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Bali masuk lima besar perkara keracunan yg terjadi di Indonesia selama 2010-2015. Padahal Bali yaitu daya tarik penting buat wisman yg berkunjung ke Indonesia.

Kenyataan tersebut merefleksikan sistem keamanan pangan di Indonesia belum sepenuhnya terjaga. Untuk menjamin keamanan makanan, pemerintah perlu lebih gencar dan ketat mengawasi setiap tahap pengadaannya, sekaligus melakukan pembelajaran tentang keamanan pangan.

Wisata Kuliner

Dalam kepariwisataan sendiri berkembang konsep wisata kuliner dengan salah sesuatu tawarannya adalah makanan tradisional (khas daerah).

Makanan-minuman yg sehat, sesuai selera, tampilan dan kemasan menarik/unik, dapat menjadi suvenir alternatif buat turis. Misalnya gudeg kendil, kopi dalam kotak batik atau berukir motif lokal, manisan atau dodol dalam anyaman pandan.

Masalahnya, penyediaan makanan khas daerah melibatkan produsen lokal tingkat industri rumah tangga yg belum semuanya mempunyai standar produksi.

Sebuah survei yg dikerjakan tahun 2009 terhadap 1.504 industri rumah tangga pangan (IRTP) di 18 provinsi memperlihatkan bahwa cuma 24,14 persen IRTP yg dapat menerapkan cara produksi pangan dengan baik. Sementara itu, 51,06 persen masih memerlukan pendampingan.

Pada umumnya, kesan seseorang terhadap suatu hal berawal dari kontak mata, telinga, penciuman, indera perasa. Untuk makanan-minuman, perlu diperhatikan juga akibatnya terhadap tubuh. Kenangan buruk tentang suatu hal mampu membuat orang kapok, tak ingin mengulang.

Sebagaimana terjadi pada sebuah restoran di Jepang pada Juni 2016. Keracunan dialami oleh 14 orang setelah menyantap masakan di restoran berbintang Michelin, Tokyo.

KOMPAS/SARIE FEBRIANE Bali Culinary Tour, 17 September 2016.

Padahal, restoran tersebut sudah mengadopsi standar internasional bagi menjaga kualitas produknya. Restoran tersebut terpaksa ditutup dua hari setelah peristiwa keracunan itu.

Selain akomodasi, restoran dan sejenisnya yaitu sektor usaha yg berkaitan segera dengan kepariwisataan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi buat para wisatawan, melibatkan banyak pihak dan pelaku usaha.

Mengingat pentingnya peran penyedia pangan dalam kepariwisataan dan sifat sensitif dari kepariwisataan terhadap isu negatif, maka pengawasan terhadap penyediaan atau produksi makanan-minuman perlu lebih intensif dilakukan. (LITBANG KOMPAS/F ISTIYATMININGSIH)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/12/09/204839027/keamanan.pangan.dalam.industri.pariwisata
Terima kasih sudah membaca berita Keamanan Pangan dalam Industri Pariwisata. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Keamanan Pangan Dalam Industri Pariwisata"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.