Karena Mandalika Tak Hendak Seragam

No comment 109 views

Berikut artikel Karena Mandalika Tak Hendak Seragam, Semoga bermanfaat

OMBAK berbisik menyapu pasir putih nan lembut. Bisikan itu menyambut fajar yg perlahan menerangi alam. Hangatnya berpadu semilir angin membelai kulit, menciptakan kedamaian pagi di Pantai Gerupuk, selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Juni lalu.

Suasana itulah yg lekat dalam kenangan Dani dan Norah. Pasangan yang berasal Swiss tersebut terus rindu bagi kembali ke Pantai Gerupuk. Sejak 2008, mereka rutin berkunjung ke pantai itu di musim liburan pada Juni.

Dalam kawasan yg dikenal dengan nama Mandalika itu, Gerupuk adalah salah sesuatu pantai yg menyambung sepanjang 16 kilometer dengan Pantai Tanjung Aan, Pantai Serenting, Pantai Seger, dan Pantai Kuta. Pantai-pantai itu berpasir putih, dibentengi barisan perbukitan.

Jumat (17/6/2016) sekitar pukul 07.30 Wita, aktivitas rutin bersantai Dani dan Norah adalah menikmati keindahan pantai dari halaman Edo Homestay. Ropi, petugas hotel, tiba menawarkan sarapan. Sembari menunggu makanan tiba, mereka saling bercerita.

Ropi fasih berbahasa Inggris dan gemar berkisah tentang alam dan budaya Sasak yg lekat dalam kehidupan masyarakat sekitar. Persahabatan mereka telah terjalin delapan tahun sejak pasangan ini rutin menginap di Edo Homestay.

”Keindahan alam dan persahabatan ini yg membuat kita terus rindu bagi kembali,” ujar Dani.

Seusai sarapan, seorang nelayan menjemput Dani dan Norah. Mereka pun berangkat ke laut membawa papan seluncur. Hanya lima menit perjalanan, perahu berhenti di sebuah lokasi berair tenang. Tak jauh dari situ tampak laut bergelombang tinggi. Waktunya bertualang. Pasangan itu meluncur di antara puluhan peselancar, bermain dalam gulungan ombak.

Gerupuk yaitu destinasi selancar favorit di kawasan Mandalika. Namun, Gerupuk bukanlah satu-satunya. Ada Tanjung Aan dan Pantai Seger yg lokasinya berdekatan.

Sepanjang pantai-pantai itu bertebing dan berbukit sehingga menarik wisatawan bagi menikmati pemandangan dari ketinggian. Di Pantai Aan, Kompas menapaki sebuah bukit yg dipenuhi rumput ilalang.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Kawasan ombak bagi selancar di Pantai Ubrug, Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Jumat (17/6/2016). Potensi kawasan pesisir Mandalika mulai menjadi salah sesuatu kawasan ekonomi khusus pariwisata yg dikembangkan bagi tujuan wisata unggulan Indonesia. Meski demikian, tantangan pembangunan sumber daya manusia serta pemberdayaan masyarakat lokal serta penataan kelestarian lingkungan mulai dampak pembangunan besar perlu diperhatikan.

Pendakian itu melintasi kawanan sapi yg tengah merumput dan tidak jauh dari kawanan sapi itu si pemilik menyabit rumput. Di puncak bukit, sepanjang mata memandang hamparan lautan tersaji luas. Biru.

Bukit Pantai Seger juga menawarkan keindahan yg tak kalah menawan. Bukit itu lebih terjal dan berbatu, tapi jaraknya lebih pendek. Dari situ, wisatawan bisa menikmati puncak-puncak bukit yang lain di sepanjang tepi laut.

Dikembangkan

Potensi alam itu mendorong pemerintah buat mengembangkannya sejak 1984. Proses desain kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika seluas 1.175 hektar baru serius berjalan akan 2008 oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Indonesia Tourism Development Corporation/ITDC).

Progres pembangunannya kini baru 10-15 persen. Kawasan yg mengandalkan alam sebagai obyek penting dan budaya sebagai wisata pendukung itu belum efektif menarik wisatawan. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Tengah 2015, kunjungan wisatawan mancanegara ke Mandalika mencapai 759.726 orang. Jumlah itu turun dari tahun 2014 yg sebanyak 855.403 wisatawan.

Kepala Disbudpar Kabupaten Lombok Tengah Lalu M Putria menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara naik 40 persen dan wisatawan nusantara naik 350 persen. Masa inap ditargetkan dari 2,1 hari jadi 3,9 hari.

Direktur ITDC Edwin Darmasetiawan optimistis pembangunan infrastruktur di Mandalika melesat dalam 1-2 tahun ke depan. Kawasan wisata elite ini mulai bisa dinikmati paling
tidak akan 2018. Konsepnya terencana seperti di Nusa Dua, Bali.

Bedanya, Mandalika berkonsep kota ramah lingkungan. Air laut diolah menjadi air bersih. Selain dari pengolahan sampah, kebutuhan listrik dipasok dari pemanfaatan tenaga surya.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Panorama Pantai Kuta, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/6/2016). Kawasan pesisir Mandalika berpotensi menjadi salah sesuatu kawasan ekonomi khusus pariwisata yg dikembangkan buat tujuan wisata unggulan Indonesia. Meski demikian, tantangan pembangunan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat lokal serta penataan kelestarian lingkungan dari dampak pembangunan perlu diperhatikan.

KEK Mandalika dibagi menjadi beberapa kawasan, merupakan umum (mixed area) dan mewah (luxurious area). Di mixed area mulai dibangun hotel-hotel berbintang dengan kapasitas total 5.000 kamar, sarana konvensi dan arena pertunjukan berskala internasional, pertokoan, jalur pejalan kaki, infrastruktur olahraga air, dan sarana ibadah.

Di luxurious area bakal dibangun arena golf seluas 150 hektar. Ada pula resor Medclub yg memiliki jaringan wisata elite terluas di dunia. ITDC mulai membangun infrastruktur wisata bawah air, dermaga, hingga sandaran kapal pesiar.

Dibangun pula kluster syariah (Islamic friendly cluster) buat menarik turis Asia dan Timur Tengah. Pembangunan ini mulai memperkuat identitas Lombok sebagai World Best Halal Tourism Destination dan World Best Halal Honeymoon Destination yg ditetapkan dalam World Halal Travel Summit/Exhibition 2015. Demi target itu pula, penerbangan segera dari Abu Dhabi ke Bandara Internasional Lombok mulai dibuka.

Wakil Direktur Program ITDC Indah Juanita mengatakan, sebagian besar pembangunan fisik mulai dimulai Juli hingga akhir tahun ini, seperti jalan dan hotel. Keran investasi masih selalu dibuka.

Akan mampu dibayangkan bagaimana sibuknya pembangunan kawasan ini dalam 1-2 tahun ke depan. Pelancong seperti Dani dan Norah yg baru mendengar itu tercengang. Mereka bertanya akankah kawasan ini menjadi seperti pusat-pusat wisata di Bali yg mereka anggap telah terlalu padat.

”Jika seperti itu, apalagi yg kita harapkan dari tempat ini?” ujar Norah. Belum lagi, lanjutnya, kehadiran hotel-hotel supermewah itu mulai menepikan keberadaan homestay dan hotel kecil.

Terlepas dari kekhawatiran turis, masyarakat setempat berharap pembangunan Mandalika langsung terealisasi. Mereka sudah menunggu berpuluh tahun. ”Bahkan telah sampai menjual sawah dan ladang yg menjadi sumber mata pencarian utama. Anak-anak mereka dijanjikan mulai direkrut sebagai tenaga kerja,” ujar Kepala Desa Kuta Badarudin.

Budaya asli

Pakar budaya dari Universitas Negeri Mataram, Agus Faturahman, mendukung sekaligus mengingatkan agar budaya asli tetap menjiwai pembangunan KEK Mandalika. Hal yg tidak kalah penting, pembangunan jangan malah menghilangkan hak akses publik terhadap pantai.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Panorama Pantai Kuta, kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/6/2016). Kawasan pesisir Mandalika berpotensi menjadi salah sesuatu kawasan ekonomi khusus pariwisata yg dikembangkan buat tujuan wisata unggulan Indonesia. Meski demikian, tantangan pembangunan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat lokal serta penataan kelestarian lingkungan dari dampak pembangunan perlu diperhatikan.

Dia mengatakan, Mandalika memiliki ajang festival berumur ratusan tahun, bau nyale (mengambil cacing laut), yg mendatangkan belasan ribu pengunjung lokal dalam semalam. Warga dari ujung utara hingga selatan Lombok menginap di tepi pantai cuma dengan beralas tikar. Ajang budaya dan wisata rakyat ini jangan sampai mati karena pengembangan KEK.

Ia pun mengingatkan ITDC agar menilik dampak pembangunan wisata di kawasan pantai Senggigi dan 3 Gili. Selain menarik turis, pembangunan hotel dan resor sepanjang tepi pantai menimbulkan ekses negatif. Pantai cuma bisa dinikmati tamu hotel. Masyarakat sulit mengakses dan keindahannya tertutup bangunan hotel.

”Jika pengembangan cuma menjadikan Mandalika kawasan wisata elite, persoalannya menjadi seragam dan berulang. Hilanglah akses buat rakyat kecil,” ujarnya. (KHAERUL ANWAR/RUNIK SRI ASTUTI/IRMA TAMBUNAN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juli 2016, di halaman 22 dengan judul “Karena Mandalika Tak Hendak Seragam”.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/30/171500027/Karena.Mandalika.Tak.Hendak.Seragam
Terima kasih sudah membaca berita Karena Mandalika Tak Hendak Seragam. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Karena Mandalika Tak Hendak Seragam"