Kampung Naga, Kearifan Di Bawah Tebing

No comment 75 views

Berikut artikel Kampung Naga, Kearifan di Bawah Tebing, Semoga bermanfaat

TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Di Banten, ada Suku Baduy yg terkenal memegang teguh adat istiadat dan warisan leluhur mereka. Di Tasikmalaya, Jawa Barat juga ada sesuatu kampung yg memegang teguh kearifan lokal dari nenek moyang. Kampung tersebut adalah Kampung Naga.

Tak seperti Suku Baduy, penduduk di Kampung Naga cenderung lebih menerima peradaban modern. Tak ada aturan berbusana, larangan pendidikan, atau elektronik. Namun demikian nasihat dan aturan nenek moyang masih dipegang teguh oleh penduduk Kampung Naga.

“Kampung Naga itu berada di bagian tebing. Kalau Bahasa Sunda disebut gawir, jadi banyak orang sebut kampung nagawir (jurang), banyak yg menyingkat jadi Kampung Naga,” kata Yudhi. Penduduk setempat sekaligus pemandu wisawatan.

Menurut Yudhi, Kampung Naga akan dikenal publik pada tahun 1987 ketika ada acara televisi menayangkan Kampung Naga. Namun pada tahun 2000, Kampung Naga baru ramai dikunjungi wisatawan.

Untuk mencapai Kampung Naga, wisatawan mulai memasuki sebuah gapura besar memasuki tempat parkir, toko kerajinan, dan tugu kujang. Kampung Naga tentu tidak mulai kelihatan dari gapura. Sebab letak kampungnya di bagian bawah tebing. Wisatawan perlu menuruni sekitar 200 anak tangga buat mencapai area kampung.

Namun dari atas tangga pengunjung mulai disuguhkan pemandangan yg luar biasa. Dari sebelah barat terbentang hutan dan aliran sungai yg deras.

Di sebelah timur nampaklah hutan dan sawah penduduk kampung naga yg begitu asri. Barulah di bagian timur laut nampak atap-atap rumah penduduk Kampung Naga yg memakai daun nipah.

Suasana tenang dan pemandangan yg asri membuat wisatawan terhanyut, seakan memasuki lorong waktu yg berbeda. Kala Indonesia masih tradisional, belum disentuh peradaban modern. 

Kompas.com/Silvita Agmasari Rumah-rumah di Kampung Naga yg seragam.

Penduduk kampung naga memang tidak mau menerima aliran listrik masuk kampungnya. Begitu pula dengan penggunaan gas LPG buat memasak, padahal banyak pihak termasuk pemerintah menawarkan fasilitas membuat kampung mereka menjadi gemerlap.

“Sudah aturannya dari leluhur, karena bahan rumah kita gampang terbakar jadi tidak boleh ada itu,” kata Yudhi.

Rumah penduduk Kampung Naga memang seragam. Peraturan adat mengatur penggunaan bahan bagunan dari kayu atau bambu, atap dari daun nipah atau ijuk, dan tidak boleh ada perabotan seperti kursi. Kamar mandi dan kandang ternak diberi aturan harus ebrada di luar area perumahan.

Peraturan lainnya adalah larangan adanya musik dari luar dan tempat keramat yg tidak boleh dimasuki atau dipotret. Seperti rumah adat yg cuma boleh dimasuki oleh tetua, atau hutan keramat yg dipercaya makam leluhur dari Kampung Naga.

Ada pula hutan terlarang yg tidak boleh dimasuki siapa pun. “Bukan karena mistis, tetapi bagi lestari. Kalau hutannya dimasuki dan dibuka jadi habis nanti,” kata Yudhi. 

Kompas.com/Silvita Agmasari Seorang penduduk Kampung Naga sedang memperbaiki rumahnya.

Namun di samping semua aturan nenek moyang Kampung Naga tetap luwes. Misalnya aturan pernikahan campuran di luar penduduk Kampung Naga atau merantau bagi mencari rezeki, serta penggunaan alat komunikasi seperti handphone

Ketika masuk peradaban modern, Kampung Naga masih tetap memegang teguh dan menjalani aturan dari nenek moyang. Jangan pikir Kampung Naga cuma menyisakan orang tua dan renta. Ada 314 warga dengan komposisi usia seimbang. Pemuda seperti Yudhi yg berusia 20 tahunan juga banyak berdiam di Kampung Naga. Apa rahasianya? 

“Kalau dewasa menurut negara itu 17 tahun, di sini dewasa itu usia 40 tahun. Orang yg telah dewasa tanpa pandang usia, pikirannya telah matang dan tidak seperti pohon bambu muda yg bergerak kesana kemari. Jadi tetap mulai pertahankan di sini,” kata Yudhi.

Kampung Naga yg terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat bisa ditempuh berkendara selama sesuatu jam dari Tasikmalaya atau  tiga jam dari Garut. Letaknya strategis, berada di jalan penting penghubung Tasikmalaya dan Garut. 

BARRY KUSUMA Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

KompasTravel menyarankan bagi mengunjungi Kampung Naga sebelum malam, sebab selain lebih indah dilihat pada ketika matahari belum tenggelam, Kampung Naga juga sangat minim penerangan karena tidak ada aliran listrik.

Bagi Anda yg ingin menginap, buatlah janji dengan pemandu setempat. Menginap di rumah penduduk cuma diperbolehkan maksimal sesuatu hari dengan perjanjian sebelumnya. Untuk jasa pemandu di Kampung Naga tidak dipasang tarif, alias membayar seikhlasnya.

Tak ada salahnya buat membeli oleh-oleh kerajinan adri penduduk Kampung Naga. Sebab selain bertani dengan hasil panen beberapa sampai tiga kali dalam setahun, pekerjaan penting penduduk Kampung Naga adalah membuat kerajinan bagi dijual ke wisatawan. 

****

KompasTravel kembali menghadirkan kuis “Take Me Anywhere 2”. Pemenang mulai mendapatkan kesempatan liburan gratis yg seru ke Yogyakarta selama tiga hari beberapa malam.

Hadiah telah termasuk tiket pesawat, transportasi lokal, hotel, konsumsi, dan beragam aktivitas seru selama di Yogyakarta. Juga raih kesempatan memenangkan hadiah smartphone. Klik link berikut: Mau Liburan Gratis di Yogyakarta? Ikuti Kuis “Take Me Anywhere 2”

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/09/14/170500327/kampung.naga.kearifan.di.bawah.tebing
Terima kasih sudah membaca berita Kampung Naga, Kearifan di Bawah Tebing. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kampung Naga, Kearifan Di Bawah Tebing"