Kamar Cuma-cuma Untuk Pelancong

No comment 109 views

Berikut artikel Kamar Cuma-cuma untuk Pelancong, Semoga bermanfaat

BAGI Ajeng Ria Aprilina (30), “kalkulator” Tuhan berbeda dengan kalkulator manusia. Karena itu, ia enteng saja menyediakan kamar secara cuma-cuma bagi pelancong. Mereka cuma perlu memberi buku atau mengajar anak-anak di sekitar rumah Ajeng. Lewat kegiatan itu, Ajeng menolong pelancong berkantong tipis sekaligus menolong anak-anak yg membutuhkan tambahan pengetahuan.

Ajeng membuka lebar-lebar pintu rumahnya yg berada persis di pinggir Jalan Raya Malang-Batu di Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak enam bulan lalu, lebih dari 130 pelancong yg sebagian besar backpacker menginap di tempat itu. Mereka bukan saja wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan mancanegara.

Rumah yg disediakan Ajeng buat para pelancong tak terlalu besar. Rumah berwarna kuning yg berada di seberang Masjid An-Nur itu terdiri atas beberapa lantai. Ajeng tinggal bersama keluarganya di lantai dua.

Sementara itu, beberapa kamar di lantai dasar diperuntukkan buat wisatawan yg bepergian dengan isi kantong minim. Kedua kamar berukuran 3 meter x 2 meter itu segera terhubung dengan ruang tamu.

Sebagai fasilitas tambahan, Ajeng menyediakan sebuah televisi dan Wi-Fi. Selain itu, ia menempatkan ratusan buku di ruang tamu yg bebas dibaca siapa saja, termasuk anak-anak tetangga. Setiap malam, 30-an anak-anak dari lingkungan sekitar berkumpul di ruang tamu bagi membaca dan belajar bersama.

Meski “resminya” Ajeng cuma menyediakan beberapa kamar buat pelancong, kenyataannya tamu yg tiba kadang kali melonjak. Beberapa minggu lalu, misalnya, ada 19 pelancong yg tiba dan menginap di rumah Ajeng. Bagi mereka, yg utama dapat istirahat. “Kalau tamu banyak, sebagian dari mereka tidur di ruang tamu ini,” cerita Ajeng.

Omah Backpacker, begitulah Ajeng memberi nama buat penginapan cuma-cuma miliknya. Penginapan itu berdiri sejak tahun 2015, tapi embrionya telah ada sejak 2011. Saat itu, ibu tiga anak tersebut membuat usaha serupa di rumah lamanya yg terletak di salah sesuatu perumahan. Namun, ia merasa keadaan lingkungan perumahan kurang mendukung sehingga usaha penginapan yg dirintis Ajeng cuma bertahan sekitar sesuatu tahun.

Bayar dengan buku

Keinginan Ajeng buat membuat penginapan kembali hidup saat seorang temannya yg masih kuliah di Universitas Indonesia meminta bantuan buat dicarikan penginapan murah pada November 2015. Ajeng pun menawarkan rumahnya sebagai alternatif.

Tawaran tersebut diterima dengan senang hati. Sang tamu yg berasal dari Bekasi itu akhirnya menginap bersama sahabatnya yg masih kuliah di Universitas Negeri Jember.

“Rupanya tamu itu tahu bahwa aku suka membaca. Karena tahu kesenangan saya, dia membawa sejumlah buku fiksi berupa cerita pendek,” ujarnya.

Cerita tak berhenti sampai di situ. Buku-buku pemberian sang kawan ternyata diketahui oleh tetangganya. Karena memiliki kesenangan sama, yakni suka membaca, akhirnya buku-buku itu pun dipinjam oleh tetangga.

Dari situ kemudian tebersit di pikiran Ajeng dan keluarga buat memanfaatkan beberapa kamar yg kosong agar mampu menghasilkan satu yg bermanfaat untuk orang lain. Tercetuslah ide buat menyewakan kamar itu. Selanjutnya, istri Rio Afif Mufarid (30) itu mengunggah Omah Backpacker ke media sosial Facebook dengan embel-embel menginap cuma dengan membayar buku. Gayung bersambut, tiga hari kemudian tamu akan tiba bagi menginap.

“Ada juga yg bukan tamu, mereka tiba cuma memberikan buku. Bahkan, ada yg menelepon aku dari Jakarta mengatakan keinginannya bagi mengirimkan buku,” ucapnya.

Dari situlah koleksi buku Ajeng selalu bertambah hingga sekarang jumlahnya lebih dari 300 buku, akan dari buku anak-anak, nonfiksi, hingga esai. Sebagian rumahnya kini menjadi semacam perpustakaan kecil yg menjadi tempat alternatif buat anak-anak sekitar bagi mendapatkan buku bacaan.

Belajar bersama

Dua bulan setelah Omah Backpacker berdiri, Ajeng juga menyematkan nama Omah Sinau di rumahnya. Di tempat itu anak-anak belajar bersama di bawah arahan Ajeng.

“Setelah buku terkumpul, aku berpikir, yg tiba ke rumah saya, kok, anak itu-itu saja. Saya sendiri tidak jarang dengar cerita dari para orangtua bahwa anaknya kadang mengisi waktu luang dengan nongkrong dan main tak jelas. Akhirnya aku berpikir bagaimana seandainya kegiatan mereka bermain dipindah ke rumah saya,” tuturnya.

Akhirnya kegiatan belajar di rumah Ajeng berkembang. Ada kelas gambar, kriya, tari, dan bahasa. Untuk kelas bahasa, tak cuma pelajaran bahasa Inggris yg diberikan, tapi juga Perancis dan Jepang. Ajeng turun tangan sebagai pengajar bahasa Inggris, sedangkan pengajar bahasa Perancis dan Jepang adalah mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Malang.

Tidak jarang para backpacker asing yg menginap di rumah Ajeng juga menjadi mentor bahasa. Jika tamu domestik berbayar buku, Ajeng menerapkan aturan untuk tamu mancanegara. Mereka boleh menginap di sana asalkan mau mengajar (one night one teaching). Yang terjadi, para pelancong asing itu tak cuma mengajarkan bahasa asing, tapi juga berbagi cerita tentang budaya dan kebiasaan di negeri mereka.

Sejumlah pelancong dari luar negeri, seperti Maroko, Polandia, Ceko, dan Perancis, juga mengenyam hangatnya suasana rumah Omah Backpacker yg menyatu dengan Omah Sinau. Bahkan, seorang backpacker yang berasal Maroko mengaku jatuh hati pada Malang setelah menginap selama beberapa minggu di Omah Backpacker.

Terkait dengan dunia pendidikan, sebulan terakhir Ajeng mengembangkan kegiatan Omah Sinau Berbagi Mimpi. Dalam program ini, Ajeng bersama teman-teman yg memiliki profesi out of the box (seperti musisi, bloger, dan agen perjalanan) memberikan semangat kepada anak-anak usia SMP di daerah marjinal perkotaan. Pesan yg disampaikan adalah bagaimana cara merajut mimpi dan meraih cita-cita sesuai bakat.

“Jangan sampai mereka terjebak oleh propaganda selama ini bahwa cita-cita itu adalah jadi dokter, insinyur, dan lainnya. Kalau tak bekerja di profesi tersebut, seolah dianggap tak bekerja,” ucapnya.

Ajeng ingin mendorong anak-anak kelompok marjinal perkotaan bagi memiliki mimpi yg tinggi, sekaligus memberikan akses bagi mengejar mimpi tersebut. Dan, Ajeng memulainya dengan Omah Backpacker serta Omah Sinau. (KOMPAS/DEFRI WERDIONO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juni 2016, di halaman 20 dengan judul “Kamar Cuma-cuma buat Pelancong”.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/04/120600827/Kamar.Cuma-cuma.untuk.Pelancong
Terima kasih sudah membaca berita Kamar Cuma-cuma untuk Pelancong. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Kamar Cuma-cuma Untuk Pelancong"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.