Jolang, Tradisi Pengantin Using Banyuwangi Yang Terlupakan

No comment 103 views

Berikut artikel Jolang, Tradisi Pengantin Using Banyuwangi yang Terlupakan, Semoga bermanfaat

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Suara kembang api terdengar keras di Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (27/11/2016) sore, menandakan arak-arakan pengantin langsung diberangkatkan keliling desa.

Berbeda dengan pengantin lainnya, pasangan Untung Junaidi (25) dan Silviana (20) tak menaiki kereta kuda tetapi dijolang atau ditandu.

Secara berhati-hati mereka naik ke tandu yg terbuat dari bambu serta dihiasi dengan kain batik Gajah Uling khas Banyuwangi.

Tandu tersebut kemudian diangkat oleh warga desa secara bergantian diarak keliling kampung.

(BACA: “Mantu Kucing”, Ritual Minta Hujan Warga Grajagan Banyuwangi)

Mereka berangkat dari rumah kerabat tempat mereka berdandan menuju pelaminan di rumah pengantin pria dan menempuh jarak sekitar 2 kilometer keliling desa. Arak-arakan pengantin tersebut melibatkan banyak orang.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Tradisi jolang, pengantin Using Banyuwangi diarak keliling desa, Minggu (27/11/2016).

Dibagian depan adalah rekan-rekan pengantin yg membawa umbul-umbul dari dedaunan yg dihiasi dengan kain warna-warni serta kue-kue tradisional yg digantung.

Di belakangnya kelompok musik tetabuhan dan dilanjutkan beberapa tandu pengantin dengan posisi pengantin perempuan di bagian depan.

Mereka ditemani keluarga yg membawa perlengkapan rumah tangga, alat-alat dapur, polo gemantung (buah-buahan), bantal kloso (bantal dan tikar), kendi suwung, petek ngerem (ayam petelur) dan picis mupu (uang).

Arak-arakan tersebut ditutup dengan rombongan musik tradisional yg diikuti puluhan kerabat serta tetangga kedua mempelai.

Mengenakan pakaian bernuansa merah, Untung yg memakai kacamata hitam dan Silviana selalu menebarkan senyum dan lambaian tangan kepada masyarakat yg memenuhi jalan desa.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Keluarga membawa bantal dan tikar ketika mengarak pengantin dalam tradisi jolang di Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (27/11/2016).

Di setiap perempatan desa, rombongan paling depan berhenti dan bersorak sorai. “Surak… surak… surak… hoooooiiii….,” teriak mereka diikuti oleh para warga.

Aling (34), kerabat pengantin kepada KompasTravel menuturkan jolang telah jarang dikerjakan oleh pengantin adat Using. Terakhir kali di Desa Olehsari, pengantin Jolang digelar pada 25 tahun yg lalu.

“Waktu itu Pak Lukman dan sekarang beliau telah milik anak berusia 25 tahun dan hampir milik cucu,” jelasnya.

Jolang atau tandu yg digunakan oleh pengantin dibuat sendiri oleh remaja Desa Olehsari dengan biaya pembuatan jolang ditanggung bersama rekan-rekan sang pengantin.

“Ini kan bentuk kekerabatan dan juga sarana silaturahmi yg telah jarang ditemukan di daerah perkotaan,” katanya.

KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Pengantin pria memakai kacamata hitam ketika ditandu atau dijolang keliling Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (27/11/2016).

Setelah sampai di rumah pengantin, mereka dipertemukan kembali dengan upacara temu manten. “Kebiasaan di sini pengantin dipertemukan di pelaminan ketika ‘samar wulu’ menjelang magrib dan lanjut dengan resepsi,” kata Atiah, salah sesuatu warga Olehsari.

Untuk hiburan, mempelai mengundang kesenian Burdah, seni musik yg memakai rebana besar selama semalam suntuk.

“Sengaja undang burdah karena telah dijolang jadi sekalian buat melestarikan tradisi khas masyarakat Using,” kata Untung, pengantin pria kepada KompasTravel sambil tersenyum.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/28/070800027/jolang.tradisi.pengantin.using.banyuwangi.yang.terlupakan
Terima kasih sudah membaca berita Jolang, Tradisi Pengantin Using Banyuwangi yang Terlupakan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jolang, Tradisi Pengantin Using Banyuwangi Yang Terlupakan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.