Jelajah Pantai Gunung Kidul Untuk Pertama Kalinya

No comment 143 views

Berikut artikel Jelajah Pantai Gunung Kidul Untuk Pertama Kalinya, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Pantai-pantai cantik di Gunung Kidul memang sangat menarik bagi dikunjungi. Apalagi untuk yg baru pertama kalinya tiba ke sana, pasti mulai dibuat terpana.

Berawal dari Stasiun Kota Baru Malang, Jumat malam (19/2) tepat pukul 20.15 WIB, KA Malioboro Ekspress Berangkat menuju Jogjakarta. Perjalanan yg relatif nyaman, sambil bikin janji dengan salah sesuatu biro travel perjalanan di Kota Yogyakarta, dikerjakan ketika di perjalanan KA, melalui kontak BBM.

Pin BBM diperoleh hasil browsing pada pagi hari sebelum berangkat. Disepakati minta jemput jam empat pagi. Dua jam perjalanan, sambil menikmati suguhan musik yg diperdengarkan KA, lantas musik mati, karena akan larut.

Dilanjutkan dengan musik dari headset pribadi, dan tertidur. Tepat jam 03.57 WIB, KA Malioboro datang di Stasiun Tugu Jogja. Turun, istirahat sebentar mencari minuman, Sholat Subuh dan siap menuju ke Wonosari Yogyakarta.

Mobil travel paketan sudah siap. Itinerarinya terjadwal 5 destinasi, tapi rencananya cuma ambil 4 tujuan, menghemat energi, karena anggota tim backpacker ada yg berusia 7 tahun.

Kota Yogyaa masih lengang, suasana masih gelap, perjalanan lancar. Sampailah di jalan menuju jalur ke arah Wonosari, masih gelap, namun tampak jalan lebar, nyaman, halus, dan lebar, beraspal hotmix. Keren!

Kali pertama melalui jalur ini, merasa terkesan. Mulai jalanan menanjak, dan sedikit berkelok. Sisi kiri kanan, ada rumah penduduk, pekarangan atau pun kebun dengan pepohonan besar. Sampailah di perbukitan yg dapat memandang Yogya dari atas, baru sadar bahwa daerah ini disebut sebagai Bukit Bintang.

Hampir sama dengan kawasan Payung di Batu, Malang, merupakan kawasan dimana dari tempat ini mampu melihat Kota Batu dari perbukitan. Yang menarik adalah kerlap–kerlip lampu di bawah, indah dipandang.

Lanjut lagi, menyusuri tanjakan, memasuki area dengan Tulisan Gunung Kidul Handayani, memasuki kawasan Gunung Kidul.Perjalanan mendekati kawasan Wonosari, jalan lurus dan halus, disambut hujan. Agak kepikiran juga, gimana rasanya jalan–jalan di pantai namun pada keadaan hujan.
 
Di Wonosari, menyempatkan kendaraan berhenti di SPBU isi BBM, lantas lanjut menuju ke arah pantai Gunung Kidul. Jalan akan menyempit dan aspal biasa. Kanan kiri hutan jati dan dua pohon keras lainnya, sesekali nampak kebun–kebun dengan tanaman jagung.

Kesimpulan sementara Gunung Kidul hijau, dan tampak lebih indah karena pesona gunung karangnya, putih coklat dan hijau. Putih kecoklatan karena tampak bebatuan karangnya (atau kapur), hijau karena gunung–gunung ini menjadi subur di tumbuhi berbagai tanaman.

Jalan berkelok-kelok menjadikan keunikan tersendiri, walaupun sempat meminta driver buat menurunkan kecepatan kendaraan agar si kecil tak mabuk perjalanan. Tak terasa, sampailah pada pos tiket. Ternyata tiket ini telah mampu digunakan bagi 10 destinasi yg ada di Gunung Kidul. Wow, luar biasa banyak pantainya.

Disepakati bagi destinasi pertama adalah Pantai Baron. Karena paling dekat dan biar cepat sarapan. Menikmati ikan Bawal air laut dan ikan kakap, ikan–ikan segar yg benar–benar layak dinikmati di pagi hari plus nasi hangat dan jeruk panas. Sambil lesehan dengan tikar di atas pasir pantai.

Yang menjadikannya lebih menarik adalah, belum banyaknya pengunjung yg datang, karena masih terlalu pagi. Hanya ada sesuatu bus, yg tampaknya bermalam di pantai ini, kebetulan di pantai ini ada salah sesuatu resort sederhana.

Seusai sarapan, mendekati bibir pantai. Airnya cenderung menghijau, karena di sisi kanan ada muara, mungkin itu yg menyebabkan. Pantai Baron ini yaitu teluk, disisi barat atau kanan bukit karang, disisi kiri juga bukit, yg menarik adalah adanya menara Suara yg relatif besar dan sesuatu menara besi. Penulis tak sempat menaiki bukit ini, karena ingin langsung menuju ke pantai lainnya.

Perjalanan diteruskan ke arah timur, sampailah di Pantai Indrayanti, sebenarnya pantai ini adalah Pantai Pulang Syawal, entah mengapa  lebih populer dengan sebutan Pantai Indrayanti. Yang jelas, di pantai ini terdapat salah sesuatu restoran yg bernama Restoran Indrayanti.

Pasir putih bersih, ombak tak terlalu besar, batu karang yg tampak dan air yg jernih. Sangat indah. Jam 9 lebih sedikit, namun terik matahari sangat terasa. Pilihan berteduh dengan sewa payung dan tikar mampu jadi pilihan, sewa Rp 20 ribu bagi payung dan tikar, bias bagi menikmati pesona pantai.

Penulis coba mendaki bukit sisi kanan dari restoran Indrayanti, terdapat kotak yg kami mampu mengisi sukarela. Menaiki anak tangga dengan pegangan di sisi kiri kanannya, yg mampu memudahkan kalian mendaki anak tangga dan menjadikan kami merasa lebih aman.

Di atas bukit atau di sepanjang tepian bukit terus dipagari dengan pagar bambu, menjadikan kalian merasa lebih aman. Dari atas bukit ini, ternyata dapat buat menikmati pantai dengan sudut yg berbeda, artinya dari ketinggian tertentu. Dan ternyata nilai rasaranya berbeda, menikmati di bawah atau di hamparan pasir dan menikmati di atas bukit. Sama–sama menariknya, sama–sama mampu dinikmatinya dengan sudut pandang berbeda.

Pengunjung yg menaiki bukit ini, cenderung memanfaatkan bagi foto selfi atau foto bersama, menarik memang. Lebih menarik lagi seandainya coba berdiam sesaat menikmati sepoi angin dan melemparkan pandangan ke arah barat, melihat pantai yg bersih, hamparan air yg jernih dengan bebatuan karang yg sayup–sayup terlihat. Sesekali tampak pecahan ombak. Di sisi timur terdapat bukit, keramaian pengunjung di pantai dan dua pengunjung yg tengah asyik mandi di pantai.

Menikmati pantai tidak lega rasanya seandainya tak bermain air alias berenang. Air pantai yg jernih, menjadikan lebih terasa nyaman. Namun tetap mesti hati–hati, ini pantai selatan terkadang ombaknya besar. Apalagi bersama anak–anak usia 12 tahun dan 7 tahun. Walaupun laki–laki, dapat berenang, namun kami mesti ekstra hati–hati. Di dasar air berupa pasir, terdapat bebatuan yg menjadikan mesti hati–hati karena kami mampu terluka karena terantuk bebatuan karang tersebut.

Di sela–sela mandi, kami mampu istirahat sejenak dibawah payung sambil menikmati Bakpao yg dijual penduduk lokal, ataupun orem – orem dan kripik rumput laut yg berwarna hijau, yg penulis pikir sebelumnya, kripik itu adalah kripik daun bayam, atau pun menikmati segarnya kelapa muda.

Destinasi ketiga adalah Pantai Krakalan, pantai ini tampak dari jalan utama, membelok ke pantai, telah memasuki kawasan pantai. Pantai ini memiliki panjang pantai yg sangat panjang, area parkir pun luas dengan pilihan warung–warung. Saat penulis ke pantai ini, tampak sangat lengang.

Karakteristik dari pantai ini adalah pantai dengan bebatuan berkarang, yg kebetulan airnya pada posisi surut sehingga bebatuannya nampak jelas. Di sisi barat terdapat bukit dengan tulisan welcome to Krakalan, di sisi timur juga terdapat bukit.

Bergeser ke destinasi lainnya, menuju ke Grojogan Sri Gethuk. Melalui jalan yg sebelumnya tak dilalui, melalui bukit dengan tanaman jagung ataupun pepohonan keras yg belum terlalu tinggi. Sebelum memasuki kawasan Sri Gethuk, tersaji kiri kanan jalan pemandangan tanaman jagung, tanaman keras atau pun semacam padang sabana yg tertanami rerumputan, nampaknya tidak ada lagi kegersangan yg terjadi.

Masuk areal Sri Gethuk dengan jalan makadam, lumayan bergeronjal walau cuma dua ratus meter. Sampailah di area wisata Sri Gethuk. Pertama yg ditemui adalah pedagang lokal dan area pemancingan. Selanjutnya sampai di bagian bawah, menuruni anak tangga, sampai bibir sungai.

Penulis pikir sesampai di bawah segera menemui air terjun sri gethuk. Ternyata bukan, masih sungai. Sayang ketika itu air sungainya berwarna coklat, mungkin karena hujan. Untuk menuju ke air terjun, naik perahu lalu sekita 8 menit. Tidaklah lama, dan ternyata asyik juga.

Sesampainya di air terjun memang menarik, viewnya asyik. Airnya bersih, dan aman untuk mandi. Airnya tidaklah deras, walau bukan pula dikatakan debit kecil. Di tempat ini idealnya sekitar 100 orang saja. Artinya pengunjung lainnya berarti pada posisi sedang naik perahu, berenang di sungai, makan–makan di warung, di tempat pintu masuk.

Menutup event ini menikmati ayam goreng Pak Parman dan foto lalu di view Gunung Kidul Handayani, dan kembali menuju ke Yogyakarta bagi eksplorasi lainnya.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/06/24/103700/3153642/1025/jelajah-pantai-gunung-kidul-untuk-pertama-kalinya
Terima kasih sudah membaca berita Jelajah Pantai Gunung Kidul Untuk Pertama Kalinya. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jelajah Pantai Gunung Kidul Untuk Pertama Kalinya"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.