Jatuh Cinta Di Pulau Padar, NTT

No comment 97 views

Berikut artikel Jatuh Cinta di Pulau Padar, NTT, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Pulau Padar di Taman Nasional Komodo memang begitu indah. Keindahannya dijamin bikin jatuh cinta.

Hari kedua Sailing Komodo yaitu perjalanan terbaik dalam 3D2N trip yg aku ikuti kapan hari. Kapal akan bergerak meninggalkan Kalong Komodo sekitar pukul 04.30 Wita.

Mesin kapal akan dihidupkan dan berayun-ayun memulai perjalanan menuju Pulau Padar.  Pulau Padar yaitu pulau terbesar ketiga di Kawasan Taman Nasional Komodo. BelakangAn pulau ini menjadi hit banget di jagad instagram.

Landscape pulau ini sangat instagram-able dengan deretan bukit yg nampak tidak tersentuh di antara cekungan-cekungan teluk yg saling berdekatan.

Beruntung pagi itu kapal yg aku naiki berhasil merapat di pulau Padar setelah melalui goncangan ombak super hebat yg membuat keringat dingin mengucur deras di tubuh saya. Saya mabuk sodara. 

Sehari sebelumnya ternyata tidak ada kapal yg berani melawan gelombong. Memang telah dua kali aku mendapat info bahwa terkadang kapal-kapal menolak menuju Pulau Padar karena ombaknya terlalu dahsyat.

Pagi itu cuaca cukup bersahabat. Begitu merapat, aku menikmati sarapan yg telah disiapkan oleh chef kapal. Setangkup roti dengan isian telur dan buah semangka menjadi modal mendaki Pulau Padar. Sementara di ujung sana langit jingga akan merekah di antara langit pagi yg sedikit mendung.

Satu persatu anggota tim akan turun dan akan perjalanan. Tanjakan pertama yg harus kita lalui wow banget, dengan tingkat kemiringan lebih dari 45 derajat.
Napas akan memburu dan peluh bercucuran. Saya menetapkan berhenti sebentar di titik ini.  Mengatur pernafasan, karena jarak sampai puncak masih lumayan panjang.

Di depan aku melihat jalan setapak yg lebih datar, di kiri bukit dan di kanan teluk yg menganga lebar dengan view yg cantik. Pingin sih mengeluarkan kamera supaya dapat motret, tetapi keselamatan lebih penting. 

Melanjutkan perjalanan dengan konsentrasi penuh, pelan-pelan yang berasal selamat. Sementara teman-teman lainnya langkahnya secepat kilat. Saya tertinggal di tengah perjalanan, di salah sesuatu spot di mana terdapat tanah datar lumayan luas dengan view yg memungkinkan aku mampu menyaksikan tiga cekungan Teluk yg menawan itu  akhirnya aku menetapkan bagi berhenti. Stop. Tidak meneruskan perjalanan.

Kali ini cukuplah aku sampai di titik ini dulu. Lupakan sesuatu step menuju puncak Pulau Padar yg fenomenal. Travel is not a sprint, a journey is not a marathon, chill out and enjoy the moment.

Melepaskan tas ransel, meneguk air mineral, merasakan angin yg berhembus, mendengar deru ombak di bawah sana. Saya tak menyesal berhenti di titik ini. Batas kemampuan masing-masing orang berbeda.

Saya pikir, percuma aku naik sampai atas kalo hasilnya aku merepotkan orang lain. Tiba-tiba sebuah kesadaran begitu saja melintas di benak saya. Bahwa perjalanan tak melulu tentang tempat baru yg kami singgahi, namun terkadang juga tentang kesadaran diri buat tak memaksa menantang hal yg mebahayakan. Jangan sampai tahu bagaimana caranya pergi namun tak menemukan jalan buat kembali.

Destinasi kedua adalah Manta Point, merupakan sesuatu spot di mana mampu menyaksikan manta yg berseliweran, mengingat arus air di bawah cukup deras.

Karena tak mahir renang aku memilih menyaksikannya dari atas kapal. Beberapa kali aku sempat menyaksikannya, sekawanan manta yg bergerak lincah dengan tubuhnya yg sangat lebar itu.

Next destinasi adalah Taka Makassar a.k.a Pasir Timbul. Jadi ada pulau saling berdekatan yg dihubungkan oleh gundukan pasir. Jika air sedang pasang makan yg kelihatan adalah beberapa pulau yg terpisah.

Air lautnya tenang dengan warna tosca yg memukau. Kalau boleh aku bilang warnanya telah sekelas sama warna air laut di Maladewa. Di spot ini kapal kalian berlabuh cukup lama, karena ada dua kawan yg turun berenang dan coba mendatangi pulau-pulau kecil tersebut.

Destinasi terakhir hari itu adalah Gili Lawa/Laba, kapal sampai di tempat ini masih cukup siang jadi kita mempunyai waktu yg cukup banyak buat beristirahat sambil menikmati pisang goreng yg masih hangat.

Melirik ke kapal sebelah, mereka menikmati singkong goreng. Looks yummy! Menjelang senja kalian akan melangkahkan kaki mendaki bukit gi Gili Lawa Darat bagi menyaksikan sunset.

Ada dua puncak yg mampu didaki, dan kalian memilih bukit yg tak begitu tinggi namun dengan view sunset yg paling jelas tidak terhalang oleh apapun. Meski sedikit mendung akhirnya mampu juga aku mencapture sunset menjelang hilang di balik bukit.

Turun bukit malam itu kita disambut dengan aroma cumi goreng tepung yg menggoda. Request kita ke chef kapal akhirnya dipenuhi. Sayur kentang kare olahan chef juga enak banget, sayang begitu aku menanyakan resepnya dia tak mau berbagi. Petualangan yg mengasyikkan.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/10/03/112600/3309457/1025/jatuh-cinta-di-pulau-padar-ntt
Terima kasih sudah membaca berita Jatuh Cinta di Pulau Padar, NTT. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jatuh Cinta Di Pulau Padar, NTT"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.