Jangan Nekat Coret Terumbu Karang! Ini Dampaknya…

No comment 147 views

Berikut artikel Jangan Nekat Coret Terumbu Karang! Ini Dampaknya…, Semoga bermanfaat

JAKARTA, KOMPAS.com – Coret-coret di koral perairan Raja Ampat, Papua Barat, dapat berbuntut panjang buat kelangsungan sektor pariwisata bahari. Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di perairan Nusa Penida, Bali.

(Baca juga: Ketika Vandalisme Terpahat di Koral Raja Ampat)

“Kejadian grafiti yg terjadi di Nusa Penida maupun di Raja Ampat itu yaitu perilaku yg kurang bertanggung jawab dan berdampak segera pada sektor pariwisata bahari dan pada ekosistem terumbu karang secara jangka panjang,” ungkap Dwi Aryo Tjiptohandono, Marine and Fisheries Campaign Coordinator WWF Indonesia, kepada KompasTravel, Jumat (3/2/2017).

Terumbu karang, lanjutnya, memerlukan waktu bertahun-tahun bagi tumbuh. Sehingga kerusakan yg sengaja dilakukan, baik grafiti atau diinjak, tak dapat pulih dalam waktu cepat. Aryo menjelaskan bahwa ikan membutuhkan terumbu karang sebagai tempat bertelur dan berlindung dari predator yg lebih besar.                        

FACEBOOK/STAY RAJA AMPAT Stay Raja Ampat adalah situs non-komersil dan nirlaba yg bertujuan buat mendukung usaha komunitas Raja Ampat bagi membangun industri ekowisata.

“Di mana ada terumbu karang, pasti ada ikan, oleh karena itu kerusakan yg terjadi pada ekosistem terumbu karang mulai mempengaruhi habitat perikanan karang,” ungkap Aryo.

Kerusakan terumbu karang, tutur Aryo, secara jangka pendek mulai berdampak segera pada pariwisata bahari. Oleh karena itu, lanjutnya, ekosistem terumbu karang dan satwa yg hidup di sekitarnya menjadi tumpuan pariwisata bahari di Indonesia.

“Jadi pariwisata bahari yg bertumpu pada ekosistem laut yg sehat pastinya memberikan keuntungan buat masyarakat lokal juga,” ungkapnya.

Ia menambahkan apabila habitat telah akan banyak tekanan, maka satwa yg bergantung pada ekosistem tersebut dapat stres dan bahkan pergi. “Yang paling dikhawatirkan itu adalah perilaku wisatawan dan pemandu wisata yang tak memperhatikan kelestarian asset dari sumber penghidupannya,” kata Aryo.

Sebagai gambaran, menurut data dari Kementerian Pariwisata, Indonesia melalui Kementerian Pariwisata menargetkan target devisa sektor pariwisata sebesar 20 miliar dollar AS pada tahun 2019. Sebanyak 4 miliar dollar AS ditargetkan berasal dari wisata bahari.

Dari target tersebut, sebanyak 60 persen ditargetkan dari wisata pantai, 25 persen dari wisata bentang laut seperti cruise dan yacht. Sedangkan sebanyak 15 persen dari wisata bawah laut merupakan snorkeling dan diving.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2017/02/06/201200527/jangan.nekat.coret.terumbu.karang.ini.dampaknya.
Terima kasih sudah membaca berita Jangan Nekat Coret Terumbu Karang! Ini Dampaknya…. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jangan Nekat Coret Terumbu Karang! Ini Dampaknya…"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.