Jalur Kereta Unik Yang ‘Membelah’ Kota Solo

No comment 144 views

Berikut artikel Jalur Kereta Unik yang ‘Membelah’ Kota Solo, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Liburan ke Solo, traveler jangan kaget bila melihat kereta api melintas persis di tengah kota. Ada jalur kereta yg masih aktif digunakan hingga kini.

Salah sesuatu daya tarik yg membuat penasaran seandainya ke Solo adalah keberadaan jalur kereta api. Biasanya lintasan kereta letaknya jauh dari keramaian. Di sini berbeda sekali. Jalur melintas justru berada di jalan Slamet Riyadi, yg notabene adalah jalan penting di kota Solo.

Bukan sekedar pajangan belaka peninggalan jaman Belanda dulu. Sampai sekarang, jalur ini masih aktif dilalui kereta di jam-jam tertentu. Saat melintas berjalan pelan berdampingan mobil, motor, bis, aktivitas warga. Sangat unik. Inilah salah sesuatu keunikan yg barangkali di Indonesia, hanya ada di kota Solo.

Informasinya jalur kereta ini telah dibangun sejak tahun 1922. Setelah di makan usia, agar pemanfaatnya lebih optimal kurun waktu antara 2009-2010 dikerjakan peremajaan bantalan dan rel kereta. Setelah selesai pemanfaatan, jalur ini masih seperti awal dibangun, merupakan menghubungkan Stasiun Purwosari bagian barat Kota Surakarta hingga Kota Wonogiri

Setelah memakai rel yg baru dari beton, mampu dilewati kereta dengan teknologi terbaru, seiring perkembangan zaman. Jalur ini pun masih aktif melayani penumpang, meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.

Meski sekarang telah banyak angkutan umum trayek Solo Wonogiri, tak sedikit warga khususnya yg kadang bepergian Solo ke Wonogiri memanfaatkan kereta ini. Salah sesuatu alasan karena tiketnya lebih murah dan aman.

Melintas jalan raya berdampingan dengan kendaraan yang lain bukan berarti tanpa risiko. Apalagi sama sekali tak ada pembatas aman yg memisahkan antara kereta ketika meiintas dengan kendaraan lain. Sempat menjadi keluhan setelah terjadi dua kali kecelakaan. Bahkan informasinya pernah ada usulan agar ditutup saja jalur ini. Tetapi setelah dievaluasi, kecelakaan yg terjadi lebih di sebabkan kelalaian pengendara non kereta tadi.

Kereta yg melintas telah di atur kecepetannya sekitar 30 km/jam. Tidak boleh lebih. Berjalan stabil, disertai klakson berkali-kali, harusnya pengendara mobil, motor, sepeda, orang berjalan, telah paham keberadaan kereta yg sedang melintas. Tidak berjalan berdekatan atau bahkan sengaja memotong jalur kereta. Jika kehati-hatian dipatuhi, pasti mulai terhindar dari kecelakaan.

Dari sisi pariwisata tentu saja tidak mengurangi daya tarik dan pesona kota Solo. Bahkan sempat ada kereta wisata berbahan uap khusus melayani turis. Namanya Kereta Api Uap Jaladara. Nama lainnya Sepur Kluthuk Jaladara. Melayani rute pendek Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota.

Sebagai kereta wisata, meskipun rutenya pendek KU Jaladara berhenti di dua tempat wisata. Penumpang mampu turun di Diamon Convention Centre, Solo Grand Mall, House of Danar Hadi, Museum Radya Pustaka Sriwedari. Mirip angkutan bis atau mobil wisata yg kami carter buat berhenti di dua tempat. Sayang kereta wisata ini tidaklah aktif.

Menunggu Waktu

Keunikan ini menjadi daya tarik bagi melengkapi koleksi foto khususnya di Kota Solo. Untuk foto kereta yg melintas harus memperhatikan jam berapa melintas. Saya sempat bertanya kepada dua sumber perkiraan kereta lewat. Selain itu posisi yg tepat buat pengambilan gambar.

Mendapat keterangan kereta melintas jalan Slamet Riyadi antara pukul 06.00 sampai 06.30. Saat itu kereta melintas dari Stasiun Purwosari menuju Wonogiri. Arah balik dari Wonogori ke Stasiun Purwosari di perkirakan antara pukul 10 sampai 11 siang. Berarti cuma ada 2 pilihan pagi dan siang. Maunya mampu mengambil gambar di 2 waktu tersebut. Karena pertimbangkan mulai jalan-jalan ke tempat yang lain akhirnya menetapkan memilih pagi hari.

Karena hari Minggu dan sepanjang jalan Slamet Riyadi berlaku Car Free Day (CFD) akan pukul 06.00-09.00, berarti tak mampu mengambil gambar kereta yg berjalan berdampingan dengan mobil. Tidak perlu kecewa. Pasti ada momen lain. Saat kereta melintas, di sekelilingnya ramai dengan aktivitas warga memanfaatkan CFD, telah di ada di benak diri.

Mengorbankan jam tidur, jam 5 pagi telah beranjak dari hotel menuju tempat ideal melakukan pemotretan. Sebelum pukul 6 pagi kita telah menunggu di ujung jalan berdekatan dengan Patung Slamet Riyadi. Pagi itu telah ramai dengan warga. Sambil menunggu kereta, kesempatan motret suasana CFD. Dalam hati malu juga. Di kota asal, Jakarta, malah belum pernah menikmati CFD. Malah sekarang nikmati di Kota Solo.

Sekitar pukul 06.15 dari kejauhan tampak lampu sorot. Rupanya itu keretanya. Semakin mendekat, petugas keamanan dari pemda kota Solo telah ancang-ancang mengingatkan warga agar menyingkir, menjauh dari lintasan kereta. Rasanya tanpa diingatkan warga telah paham. Hanya saja agar pengamanan lebih optimal dan terhindar insiden yg tak perlu, tindakan mencegah dari petugas keamanan tadi tetap dirasa perlu.

Semakin dekat, kamera siap, ancang-ancang memilih posisi yg ideal agar mendapat gambar menarik sesuai harapan. Jika aku tinggal di Kota Solo dapat kapan saja datang, dan memotret kejadian ini. Berhubung hanya pendatang yg tak dapat sering-sering ke Kota Solo, harus berusaha jangan ketinggalan momen bagus ini.

Benar saja. Meski kereta melintas lambat, rasanya berlalu cepat. Kesempatan yg hanya dua menit saja langsung aku manfaatkan bagi memencet tombol shutter kamera sebanyak mungkin.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2017/02/20/141300/3400008/1025/jalur-kereta-unik-yang-membelah-kota-solo
Terima kasih sudah membaca berita Jalur Kereta Unik yang ‘Membelah’ Kota Solo. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jalur Kereta Unik Yang ‘Membelah’ Kota Solo"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.