Jajanan Tradisional Sejak Zaman Belanda Ini Ramai Diburu

No comment 96 views

Berikut artikel Jajanan Tradisional sejak Zaman Belanda Ini Ramai Diburu, Semoga bermanfaat

SURAKARTA, KOMPAS.com – Sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB, tampak orang-orang berkerumun silih berganti di depan penjual makanan khas Solo, lenjongan. Mereka berdiri sambil menunjuk aneka camilan warna-warni bagi dibeli dan dibawa pulang.

Dengan sabar mereka berdiri bagi menunggu dilayani oleh penjual lenjongan, Yu Sum (56). Dengan cekatan Yu Sum membungkus gethuk, gatot, cenil, sawut dahulu ditaburi parutan kelapa dan diletakkan di atas etalase kecil tempat ia berjualan.

“Saya membeli 12 bungkus buat teman-teman di kantor. Kebetulan lewat tadi kepingin,” kata seorang pegawai bank di Solo, Yessi (32) kepada KompasTravel sambil menunggu lenjongan di Pasar Gede Hardjonagoro, Jumat (22/7/2016).

Ia mengaku, sejak kecil telah memakan lenjongan di Pasar Gede. Yessi menceritakan orang tua kadang mengajaknya buat membeli lenjongan. Jajanan tradisional zaman penjajahan Lenjongan adalah jajanan tradisional Solo yg sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Lenjongan terdiri dari dua jenis makanan, misalnya tiwul, ketan hitam, ketan putih, gethuk, sawut, cenil, dan klepon. Yu Sum menceritakan, sejak zaman penjajahan, lenjongan sudah dikenal sebagai jajajan di Solo.

Usaha lenjongan dimulai dari generasi nenek Yu Sum hingga kini anak perempuannya ikut berjualan lenjongan di Pasar Gede.

“Kalau nenek telah berjualan dahulu sejak tahun 1930 di Pasar Gede. Terus ibu aku juga jualan. Saya lalu waktu kecil ikut bantu-bantu dahulu aku buka di Pasar Gede sebelum tahun 1963,” jelas perempuan bernama lengkap Suminem ini kepada KompasTravel ketika ditemui di Pasar Gede.

Yu Sum kini masih berjualan lenjongan di Pasar Gede. Ia mengaku hampir seumur hidup tetap setia berjualanan lenjongan. “Saya ini sekarang dibantu oleh keponakan. Mulai bikin lenjongan buat dijual sejak jam tiga pagi,” ujar Yu Sum yg berasal dari Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo ini.

Ia menceritakan, lenjongan di Pasar Gede masih dapat ditemui dengan mudah. Di Pasar Gede sendiri terhitung masih terdapat tiga orang penjual lenjongan. Dari catatan sejarah, rakyat Indonesia terbiasa makan singkong sebagai pengganti nasi. Di tengah kemiskinan, mengonsumsi singkong bukan pilihan, tetapi sebuah keharusan demi mengisi perut.

KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Yu Sum (56), penjual lenjongan di Solo, Jateng. Lenjongan adalah jajanan tradisional Solo yg sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Lenjongan terdiri dari dua jenis makanan, misalnya tiwul, ketan hitam, ketan putih, gethuk, sawut, cenil, dan klepon.

Saat ini, olahan singkong masih kelihatan dari eksistensi penganan seperti lenjongan. Kudapan itu seperti tidak lekang waktu hingga kini. Aneka rasa dari olahan ketela saat mencicipi lenjongan, di mana rasa manis mendominasi lenjongan.

Terdapat pilihan gula seperti gula putih, gula jawa, dan gula campur kedelai. Pembeli mampu memilih rasa manis dari varian gula tersebut. Tekstur kenyal lenjongan terasa gurih dari parutan kelapa yg ditabur di atas lenjongan.

Ketika menggigit kelepon, gula jawa mulai lumer memenuhi mulut. Suguhan lenjongan sendiri berasal dari olahan ketela. Seperti diketahui, ketela/singkong adalah makanan subtitusi pengganti makanan yg kaya mulai karbohidrat.

Yu Sum menjual lenjongan di Pasar Gede dari pukul 07.00 – 14.00 WIB. Seporsi lenjongan dengan aneka pilihan isi ditawarkan dengan harga Rp 4.000.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/22/153200027/jajanan.tradisional.sejak.zaman.belanda.ini.ramai.diburu
Terima kasih sudah membaca berita Jajanan Tradisional sejak Zaman Belanda Ini Ramai Diburu. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Jajanan Tradisional Sejak Zaman Belanda Ini Ramai Diburu"