Inilah Masjid Tertua Di Ranah Minang

No comment 95 views

Berikut artikel Inilah Masjid Tertua di Ranah Minang, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Inilah Masjid Tuo Kayu Jao, masjid tertua di Ranah Minang. Umurnya 400 tahun lebih, tetapi keasliannya tetap terjaga. Begitu bersejarah dan khidmat.

Sayup sayup terdengar suara mengaji dari kejauhan pada hari Jumat siang itu. Petanda salat Jumat mulai langsung dimulai. Sebuah masjid kelihatan di bawah sebuah lembah itu, ketika tiba ke Jorong Kayu Jao, Kanagarian Batang Baruih, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat

Ternyata masjid tersebut bernama Masjid Tuo Kayu Jao, masyarakat sekitar menyebutnya dengan Masjid Tuo. Masjid Tuo ini terletak di lembah yg memiliki landskep dan kontur wilayah bebukitan berhawa sejuk dengan perkebunan teh, pesawahan dan ladang sayuran masyarakat yg mengelilinginya. Berbeda bila dibandingkan dengan masjid yang lain yg ada di Sumatera Barat yg biasanya terletak di tengah kota atau di pinggir jalan.

Panorama masjid yg indah dilihat dari ketinggian membuat Masjid Tuo ini kian eksotik. Masjid Tuo dulunya didirikan buat pusat kegiatan tiga anak nagari merupakan Lubuk Selasih, Kayu Aro dan termasuk nagari tempat berdirinya masjid ini yakni Kayu Jao.

Pemberian mana masjid ini tak yang lain karena umur masjid ini yg lebih dari 400 tahun. Menurut cerita yg dituliskan Zurnaidi dalam tulisannya Sejarah Masjid Tuo, masjid ini diperkirakan berdiri tahun 1567 M. Kabarnya masuk kedalam masjid tertua di Indonesia dan di Ranah Minang.

Dulunya masjid ini tak cuma digunakan keagamaan semata tetapi juga bagi kegiatan musyawarah memecahkan persoalan dan merencanakan pembangunan nagari, tempat berkumpul pemuka-pemuka masyarakat tiga nagari tersebut. Tidak cuma itu, bila ada anak nagari yg tak menjaga kelestraian masjid maka tak dibenarkan menggunakan masjid itu lagi.

Terdapat beberapa orang yg berjasa dalam pembangunan masjid ini merupakan Angku Musaur (atau dahulu panggilannya mashur Termarshur) dan Angku Labai. Angku Mushur dulunya imam di masjid ini, ia memiliki suara yg merdu, bacaannya tepat dan benar serta pandai berirama ketika menjadi imam saat shalat berjamaah sehingga masjid ini ramai diikuti makmumnya. Angku ini meninggal saat shalat Jumat.

Selain itu, Angku Labai yg menjadi bilal di masjid ini memiliki kelebihan yg mungkin tak dapat dipercaya dengan logika manusia biasa. Angku Labai dapat berpindah-pindah dari sesuatu tempat ke tempat yg lain.

Menurutnya, Pendiri masjid tersebut dimakamkan tak jauh dari areal Masjid Tuo. Angku musaur dimakamkan di muka mihrab masjid, sedangkan makam Angku Labai di seberang masjid dekat jirek atau langgar tempat ia salat di luar salatnya di masjid.
Masjid yg menjadi saksi nyata perkembangan Islam di Solok ini, sepenuhnya terbuat dari kayu yg setiap bagian sambungannya cuma dipasak oleh kayu. Bagian dinding Masjid Tuo dihiasi ornamen-ornamen ukiran yg khas.

Dulunya pembangunan Masjid Tuo tak memakai paku cuma di pasak saja. Namum melihat perkembangannya dan keadaan masjid ketika itu, atas usulan BP3 Batusangkar waktu pemugaran Masjid Tuo dua tahun lalu, pola bangunan lama tersebut digantikan dengan memaku kayu-kayunya. Tapi buat bangunan induknya masih dipertahankan dengan tak menggunakan paku cuma dinding, plafom dan lantainya saja.

Masjid Tuo ini beratapkan ijuk yg yaitu ciri khas arsitektur dari bangun rumah adat Minangkabau merupakan Rumah Gadang. Atapnya yg berbahan ijuk ini memiliki ketebalan sekitar 15 cm namun kini sudah ditumbuhi lumut. Ditambah lagi pada bagian mihrabnya (bagian dari bangunan masjid/mushalla yg digunakan sebagai tempat imam memimpin salat berjamaah) terdapat bangunan bergonjong tidak mengurangi kental nuansa adat Minangkabau di Masjid Tuo ini.

Memasuki masjid disambut 9 tiang penting yg menopang masjid berbentuk limas ini dari jumlah keseluruhan tiangnya yg terdapat 24 buah. Jumlah tiang tersebut melambangkan enam suku yg masing-masingnya terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat ninik mamak) sehingga jumlahnya 24 bagian.

Uniknya, Masjid Tuo ini memilik mimbar yg sudah ada sejak dulunya meskipun berangsur-angsur lapuk di bagian sana-sininya, begitu juga bedug dan sebuah mihrab yg masih utuh diperkirakan usianya sama dengan masjid.

Melihat Masjid Tuo ini arsitektur atapnya persis seperti yg dimiliki Masjid Raya Demak dan Masjid Raya Banten yg atapnya juga bersusun. Namun dari dua segi, Masjid Tuo memiliki dua keunggulan. Terutama dari segi filosofis yg terkandung pada masjid tersebut.

Kuatnya pengaruh syariat Islam di Masjid Tuo tergambar dari atap limas Masjid Tuo terdiri dari tiga tingkatan yg menggambarkan Iman, Khatib dan Bilal. Selain itu juga terdapat 13 buah jendela yg terpasang pada masjid ini mengisyaratkan rukun salat. Begitu juga anak tangga yg berjumlah 5 buah melambangkan rukun Islam. Bahkan 2 puncak atau gobahnya menunjukan Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw.

Masjid tuo ini yaitu salah sesuatu cagar budaya di Solok yg diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar. Masjid Tuo telah dua kali dikerjakan pemugarannya, contohnya saja pemugaran tonggak tengah penting masjid pada 26 Juni 1988 dan juga dua waktu dulu juga sudah diganti atap ijuknya yg sudah lapuk di makan usia.

Pemugaran yg dikerjakan oleh BP3 Batusangkar tidaklah meninggalkan arsitektur aslinya malah berusaha memunjulkan nilai eksotika dari masjid. Masjid Tuo diganti warnanya menjadi coklat kehitaman yg dulunya berwarna putih agar lebih klasik dan kuno.

Masyarakat sekitar pun terus bergotong royong membersihkan lingkungan masjid secara bergantian setiap sesuatu bulan. Anak surau (sebutan anak-anak dan remaja masjid) juga tak ketinggalan menjaga kelestrian masjid dengan membersihkannya setiap hari Jumat dan Minggu.

Memasuki areal masjid mulai disambut oleh bebatuan besar ibarat prasasti dan warna warni bunga bunga yg terhampar diberbagai sudut halaman masjid. Gemericik air sungai yg ada di muka masjid pun tidak mengurangi suasana khusuk saat salat di sana.

Untuk menuju ke lokasi masjid tidaklah begitu sulit sekitar 500 m dari jalan penting menuju Alahan Panjang atau dari Kota Padang mampu ditempuh kurang lebih 2 jam dengan kendaraan roda empat. Selain itu, infastruksturnya telah di beton sehingga tak menyulitkan pengunjung bagi mampu menikmati sajian wisata religi yg memukau.

Masyarakat sekitar masih mengunakan masjid ini buat melaksanakan aktivitas ibadahnya seperti salat lima waktu, ramadhan dan belajar mengaji anak-anak. Bahkan rencananya mulai digunakan buat salat hari raya kebesaran Islam. Terakhir ke mengunjungi dan beribadah dimasjid tuo ini halamannya masih tanah, sekarang telah dibeton.

Meski masjid tuo ini dua kali dikunjungi wisatawan bahkan pernah diliput media televisi nasional maupun daerah namun pemerintah setempat kurang giat mempromosikan Masjid Tuo ini.

Padahal, seandainya dikelola dengan baik mulai mengundang wisatawan yg mengunjungi daerah Jorong Kayu Jao dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat yg umumnya berladang. Tidak ada salahnya seandainya berkunjung ke Solok, singgah sejenak ke Masjid Tuo yg menyimpan sejuta cerita ini.

Sumber: http://travel.detik.com/read/2016/09/14/141000/3289714/1025/inilah-masjid-tertua-di-ranah-minang
Terima kasih sudah membaca berita Inilah Masjid Tertua di Ranah Minang. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Inilah Masjid Tertua Di Ranah Minang"