Ini Perbedaan Jalur Pendakian Gunung Kinabalu Pasca-gempa 2015

Berikut artikel Ini Perbedaan Jalur Pendakian Gunung Kinabalu Pasca-gempa 2015, Semoga bermanfaat

KINABALU, KOMPAS.com — Tahun lalu, tepat hari Jumat (5/6/2015), gempa bumi berkekuatan 6,0 skala Richter mengguncang Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia. Gempa bumi tersebut menewaskan dua pendaki Gunung Kinabalu.

Tak cuma itu, gempa bumi juga menghancurkan jalur pendakiannya. Kini, pendaki Gunung Kinabalu harus melewati jalur pendakian yg berbeda.

Direktur yg juga pemandu wisata di travel agent Basecamp Adventure, Alfira Naftaly, mengatakan, jalur pendakian Gunung Kinabalu kini sudah berubah. Saat ini, menurutnya, jalur pendakian Gunung Kinabalu cenderung lebih gampang dibandingkan jalur lama.

BACA JUGA: Kisah Mistis di Balik Gunung Kinabalu Malaysia

“Sekarang lebih gampang sebelum gempa dibanding sesudah gempa. Jalur yg pertama itu kalian masih harus memanjat dengan tali yg hampir 80 derajat ketika ingin ke puncak Kinabalu. Itu makan energi. Kemudian, jalur yg lama, tangganya tak sebesar sekarang,” kata Alfira kepada KompasTravel, Senin (28/11/2016).

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki menuju Sayat-Sayat Check Point setelah mencapai puncak Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia, Selasa (22/11/2016). Kini, pasca gempa Gunung Kinabalu pada Juli 2015, pendaki tidak perlu berjalan di pinggir tebing gunung bagi menuju Sayat-Sayat Check Point.

Ia menceritakan, sebelum gempa tahun lalu, di jalur menuju puncak Kinabalu, pendaki diharuskan berjalan menyusuri dinding tebing gunung (traverse) sejauh 20-30 meter. Namun, ketika ini pendaki dialihkan melalui jalur lain.

“Dulu itu pendaki itu harus traverse dahulu naik ke Sayat-Sayat Check Point. Dulu sebelum gempa itu jalurnya masuk ke daerah Ranau, sekarang jalurnya masuk ke Kota Belud,” tambahnya.

BACA JUGA: Keren, Bisa Internetan di Puncak Gunung Kinabalu

Saat ini, lanjut Alfira, pendaki cukup berjalan di tangga menuju Sayat-Sayat Check Point. Jalur baru ini sengaja dibuat oleh pengelola buat menghindari jalur lama yg rusak.

KompasTravel sempat coba jalur pendakian baru Gunung Kinabalu pasca-gempa tahun lalu. Jalur pendakian setelah titik Laban Rata di ketinggian 3.272 meter di atas permukaan laut cenderung didominasi tangga hingga Sayat-Sayat Check Point di ketinggian 3.680 mdpl.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Jalur pendakian setelah Pos Pondok Kandis yg longsor akibat gempa Gunung Kinabalu Juli 2015 dahulu dilihat pada Senin (21/11/2016). Dulu jalur di foto tersebut lebih lebar pada ketika sebelum gempa.

Alfira mengatakan, jalur pendakian Gunung Kinabalu sebelum gempa lebih terlindung dari terpaan angin. Berbeda dengan ketika ini, jalur pendakian yg baru lebih berisiko terpapar embusan angin.

Di titik setelah Pos Pondok Kandis, jalur pendakian Gunung Kinabalu juga berubah. Alfira mengatakan, sebelum gempa, jalur yg dilewati begitu lebar.

BACA JUGA: Mau Mendaki Gunung Kinabalu? Ini Tipsnya…

“Itu gempa dahulu kena longsoran batu. Sebelum gempa tidak ada jurang,” ujar perempuan yg sudah empat kali mendaki Gunung Kinabalu itu.

Pasca-gempa, pengelola Gunung Kinabalu masih menutup jalur pendakian Mesilau. Sebelum gempa, Gunung Kinabalu memiliki beberapa jalur pendakian, yakni jalur Timpohon dan Mesilau. Pendaki diharuskan melewati jalur Timpohon.

“Jalur Mesilau rusak tertimpa batu. Sekarang seperti kawah pasca-gempa,” ujar Alfira.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/30/140500127/ini.perbedaan.jalur.pendakian.gunung.kinabalu.pasca-gempa.2015
Terima kasih sudah membaca berita Ini Perbedaan Jalur Pendakian Gunung Kinabalu Pasca-gempa 2015. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Ini Perbedaan Jalur Pendakian Gunung Kinabalu Pasca-gempa 2015"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.