Harmoni Rasa Di Ujung Tenggara

No comment 147 views

Berikut artikel Harmoni Rasa di Ujung Tenggara, Semoga bermanfaat

MATAHARI menyengat di sebagian besar wilayah Desa Liya Togo. Cuaca terik pada Senin (19/9/2016) yg melanda desa di Kecamatan Wangiwangi Selatan, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, itu membuat perjalanan berkeliling desa cukup melelehkan bulir-bulir keringat.

Tubuh terasa seperti didekatkan dengan kobaran api unggun bersuhu relatif konstan. Seluruh tubuh terpapar dan membuat topi atau lilitan kain sebagai pelindung utama buat wajah dan leher.

Sejumlah jurnalis berkeliling sebagian wilayah Liya Togo atas undangan Swisscontact, lembaga berbentuk yayasan berorientasi bisnis pada bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kunjungan itu yaitu bagian dari perjalanan ke sejumlah lokasi di Wakatobi yg dilangsungkan pada 14-20 September lalu.

Akan tetapi, perjalanan dengan terik matahari yg seperti ”menggigit” permukaan kulit itu berakhir manis atau lebih tepatnya berakhir asam-manis.

(BACA: Saya Kira Wakatobi Ada di Jepang…)

Ini dikarenakan sajian minuman ringan bernama sampalu yg disajikan penduduk setempat. Minuman ini terbuat dari campuran buah asam (tamarind) yg dijadikan cairan berwarna coklat pekat bagi lantas diblender dengan susu kental manis dan es batu.

Penampilannya secara visual seandainya dilihat dari penampang depan gelas terbagi dua. Coklat muda di bagian tengah hingga dasar gelas. Buih putih dari batas tengah gelas ke permukaan.

Rasanya asam, manis, dan dingin yg meledak hingga ke langit-langit mulut di tengah hawa panas matahari.

Sejumlah pohon asam yg rimbun di perkampungan, selain mengurangi intensitas sorotan matahari, turut pula memastikan pasokan buah asam yg konstan. Tentu saja segelas tak cukup, oleh karena itulah berlanjut pada gelas kedua.

Sajian kedua adalah penganan dari bahan tepung singkong yg menyelimuti buah pisang di dalamnya. Parutan kelapa tidak mengurangi rasa gurih, selain manis yg diberikan pisang dan kelegitan tepung singkong yg membungkusnya.

Itu masih ditambah dengan sajian ubi goreng yg diambil tidak jauh dari sana. Sebagian wilayah Liya Togo, dengan bebatuan memenuhi sebagian permukaannya, memang digunakan buat menanami sejumlah macam komoditas.

Beberapa di antaranya delima, srikaya, mangga, dan nangka. Sela-sela di antara bebatuan karang menjadi tempat yg dicari bagi menanam bibit tanaman, dengan tambahan dedaunan dan serakan sampah organik sebagai tambahan media tanam yg diselipkan di dalam sela-sela bebatuan itu.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/28/150300827/harmoni.rasa.di.ujung.tenggara
Terima kasih sudah membaca berita Harmoni Rasa di Ujung Tenggara. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Harmoni Rasa Di Ujung Tenggara"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.