Gurihnya Leker Rasa Rendang, Jajanan Favorit Crepe Ala Gerobak

No comment 85 views

Berikut artikel Gurihnya Leker Rasa Rendang, Jajanan Favorit Crepe ala Gerobak, Semoga bermanfaat

SALATIGA, KOMPAS.com – Crêpe, makanan penutup ini sejatinya berasal dari Bretagne, wilayah Perancis bagian barat. Dibuat dari gandum, telur, susu, mentega, dan garam.

Sejenis panekuk tipis, kudapan ringan ini sangat digemari dan meluas ke berbagai negara dengan nama yg berbeda-beda. Di dua wilayah di Indonesia sendiri, crêpe banyak dijual di outlet-outlet pusat belanja modern.

Tapi di pusat Kota Salatiga, Jawa Tengah, penjual crêpe banyak bertebaran dengan gerobak-gerobak kayu. Mereka mangkal di sudut-sudut pusat kota.

Leker, demikianlah yg tertulis di gerobak penjual crêpe keliling. Bagi warga Salatiga, leker berarti kudapan ringan nan renyah dengan isi bervariasi. Mulai dari yg konvensional seperti cokelat meises, kacang, pisang, atau keju, hingga yg berisi ‘berat’ seperti ayam bakar manis pedas, galantin, sosis, sampai daging sapi rendang.

Lekker sendiri, dalam bahasa Belanda artinya enak.

Jika biasanya crêpe asli dibuat dari gandum, tetapi leker dibuat dari tepung beras, gula pasir, susu, telur, mentega yg dipanggang dengan anglo, tungku yg memakai bahan bakar arang.

Adonan dituang ke wajan tembaga berdiameter sekitar 20 cm di atas anglo. Adonan yg dituang dibikin tipis agar menghasilkan kesan kulit yg crispy ketika digigit.

Sesaat setelah dituang tipis itu, segera diisi dengan pilihan adonan seperti keju, kacang, sosis, daging, atau sesuka selera. Tak perlu waktu lama, kulit itu dilipat berbentuk segitiga.

Leker sangat nikmat seandainya disantap segera begitu selesai dipanggang. Hangat dan crispy atau renyah begitu terasa di kulit pinggirannya. Mengudap leker, dimulai dari tepi kue yg renyah kemudian baru ke tengah dimana adonan isi favorit dipilih.

Jika Anda memilih cokelat, ketan, pisang, dan kacang, tentulah rasanya manis. Tapi rasakan sensasinya seandainya Anda memilih isi seperti sosis, telur dadar, ayam bakar, daging empal sapi yg dimasak ala bacem, atau daging rendang Padang.

KOMPAS.com/DANI J Sofroni dan gerobak kue leker ini terus mangkal di lapangan Pancasila Salatiga, Jateng.

Ayam dan daging sapi disuwir dalam potongan kecil agar muat dalam crepe. Kulit yg manis berpadu rasa gurih bahkan pedas pada adonan isi. Nikmat dan tidak biasa.

Sebaiknya leker jangan dibungkus dan dibawa pulang. Pasalnya, leker yg telah dingin kurang nikmat dimakan karena telah terasa melempem dan agak alot dikunyah.

Harga leker konvensional terbilang murah, antara Rp 1.500 – Rp 2.000 per potong. Tapi Leker Pak Sof, demikian Sofroni melabeli gerobak jualannya, harganya di atas rata-rata. Paling murah Rp 4.000 bagi isi ketan dan termahal Rp 13.000 buat isi telur campur sosis dan keju.

“Meski mahal tetapi justru leker isi telur, sosis, dan keju yg paling laris. Memang kalau dibanding penjual leker lain, jualan aku yg paling mahal, tetapi soal rasa boleh diadu,” tutur Sofroni sembari mengipasi anglo.

Menurut Sof, orang yg baru sekali  membeli, biasanya terkejut dengan harga. Mereka mulai mencari penjual leker yang lain bagi membandingkan. Tapi pada akhirnya, balik lagi kemari.

“Orang Salatiga ini membeli tidak hanya sekadar harga tetapi juga rasa. Jadi aku yakin kalau memang rasanya enak, orang pasti kembali,” kata Sof yakin.

Ia memang tidak yang berasal bicara. Terbukti saat ia baru menepikan gerobaknya di  depan Lapangan Pancasila, alun-alun Kota Salatiga, tepatnya di samping Masjid Raya Darul Amal, pukul 08.00 WIB, pelanggan pun telah berdatangan.

Mereka dengan setia menunggui Sof merapikan gerobak, membersihkan lantai paving dari daun-daunan kering di sekitar tempatnya jualan, dan memberi terpal buat tempat duduk pembeli. Setelah itu Sof masih harus membuat adonan yg kemudian mengisinya dengan adonan pilihan. Pembeli pun rela antre dan Sof telah milik langganan sendiri.

Sebelumnya, pada 2002, ia juga berjualan leker dengan variasi manis seperti kebanyakan penjual leker seperti cokelat, kacang, dan rasa yg manis-manis saja. Demi tidak mengurangi pelanggan, Sof tidak ragu melakukan ujicoba rasa.

Di percobaan pertama, leker terasa hambar saat diisi ketan. Selanjutnya, ia memakai ketan campur gula penambah rasa manis. Selanjutnya, leker ayam panggang, daging bacem, hingga daging rendang.

“Tinggal beli saja dagingnya di warung makan terdekat,” katanya menunjuk restoran prasmanan di sudut kiri gerobaknya.

KOMPAS.com/DANI J Sofroni dan gerobak kue leker ini terus mangkal di lapangan Pancasila Salatiga, Jateng.

Alhasil, kini ia memiliki pendapatan yg lumayan seandainya dibandingkan dengan jualan sebelumnya, termasuk jualan yg pernah dilakoni di masa mudanya, seperti cilok, es puter, dan bakso.

Dulu, untung jualan cuma dapat bagi sekadar makan. Tapi dari hasil leker, Sof mengaku bisa  menolong kampungnya di Desa Bonsari membangun jembatan; memberi makan warga desa dengan pecel lele; dan mendatangkan kelompok rebana di suatu acara hajatan.

Ia juga bangga, hasil dari jualan leker mampu membangunkan separuh rumah buat anak dan menantunya.

Leker Pak Sof memang tidak cuma gurih di lidah, tetapi keuntungannya juga manis dan dinikmati warga kampung.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/07/19/124200027/Gurihnya.Leker.Rasa.Rendang.Jajanan.Favorit.Crepe.ala.Gerobak
Terima kasih sudah membaca berita Gurihnya Leker Rasa Rendang, Jajanan Favorit Crepe ala Gerobak. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Gurihnya Leker Rasa Rendang, Jajanan Favorit Crepe Ala Gerobak"