Gombyang Manyung Tiada Tara

No comment 119 views

Berikut artikel Gombyang Manyung Tiada Tara, Semoga bermanfaat

SEBAGAI daerah pesisir, sangat wajar seandainya Indramayu milik kuliner yg khas karena mempunyai sumber laut yg melimpah. Yang belum banyak dikenal orang adalah gombyang manyung, kuliner jelata yg mampu memikat lidah orang-orang kota.

Siang itu, cuaca Indramayu seperti biasa, panas tidak terkira. Bahkan, angin yg berembus pun terasa hangat dan mengandung garam.

Kami baru menyadari ternyata sedang berada di jalan berdebu yg diapit tambak udang di Desa Tambak, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Desa ini relatif baru, berdiri tahun 2008 hasil pemisahan dari Desa Karangsong.

Semula segala wilayah ini adalah tambak udang windu yg kemudian, akibat bertambahnya penduduk, akan beralih fungsi menjadi permukiman. Belum begitu banyak rumah penduduk. Di salah sesuatu sisi jalan terdapat bangunan panjang semipermanen beratap seng dan bertiang kayu.

Begitu didekati, bangunan tersebut lebih pas disebut rumah panggung karena posisinya nangkring di atas air. Dindingnya cuma berupa pagar setinggi beberapa pertiga meter sehingga angin leluasa bergerak, mengurangi gerah.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Gombyang Manyung.

Puluhan orang duduk bersila menikmati hidangan makan siang. Inilah Rumah Makan Panorama punya Warto (50) yg terkenal dengan menu gombyang manyung.

Menu jelata

Resep masak gombyang manyung telah dikuasai warga sejak puluhan tahun. Mereka mewarisinya secara turun-temurun, tapi baru Warto yg kemudian berani membuka Rumah Makan Panorama dengan menu penting gombyang manyung.

”Waktu itu aku meyakini bahwa menu ini mulai banyak diminati. Alhamdulillah ternyata terbukti,” kata Warto.

Gombyang manyung berbahan dasar kepala ikan manyung yg begitu melimpah di Indramayu. Ikan manyung ini biasanya cuma diambil dagingnya buat jambal ikan asin, sementara kepalanya dijual murah atau bahkan dibuang begitu saja.

Oleh para pekerja atau nelayan, kepala-kepala itu dulu diolah menjadi masakan tradisional yg kemudian dikenal dengan gombyang manyung.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Proses pemasakan menu Gombyang Manyung punya Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Mereka banyak memasak kepala ikan manyung terutama di musim paceklik saat penghasilan laut menurun. Kepala-kepala manyung yg dipandang remeh itu menyelamatkan banyak warga dari kelaparan. Kepala manyung seolah menjadi penolong saat daya beli berada di titik nadir.

Kata gombyang mengacu pada kuah yg melimpah karena ikan ini dimasak seperti sup dengan kuah merendam ikan. ”Yang perlu diperhatikan itu jangan sampai masakan berbau amis atau anyir. Kuncinya ada di angsang,” kata Diding Fahrudin (59), Manajer Rumah Makan Panorama.

Pada kepala ikan terdapat sekumpulan lendir yg menempel pada ingsang. Jika tak dibersihkan dengan benar, lendir itu mulai memengaruhi rasa ikan secara keseluruhan.

Setelah dibelah beberapa dan dibersihkan, ikan direbus selama beberapa jam dengan ketentuan airnya diganti beberapa kali buat menghilangkan aroma amisnya.

Setelah itu baru dicampur dengan bumbu seperti daun salam, sereh, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan garam. Ikan direbus hingga kulit dan daging terlepas dari tulangnya.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Proses pemasakan menu Gombyang Manyung punya Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kepala ikan seukuran kelapa itu disajikan di dalam mangkuk jumbo dengan kuah melimpah hampir tumpah. Dipuncaki irisan tomat dan irisan daun bawang, aroma ikan segera merangsang selera makan.

Rasa gurih kaldu ikan dipadu dengan bumbu dan rempah menjanjikan kelezatan khas. Ada sedikit rasa manis. Yang juga menantang ialah ketika penikmat gombyang manyung terdorong bagi mengelupas daging-daging yg tersembunyi di antara tulang-tulang tengkorak ikan yg strukturnya demikian rumit itu.

Ada yg mencukilnya memakai garpu, ada juga yg memasukkan kelingkingnya. Belum juga berhasil, mereka menyedot dan mengisap tulang-tulang itu. sluurrrp… ah!

Menjaga kesegaran

Sensasi itulah yg memancing orang berbondong-bondong tiba ke Panorama. Dalam sehari, Warto menghabiskan 2-3 kuintal kepala ikan manyung. Jumlah itu bertambah saat libur hari besar seperti Tahun Baru atau Lebaran.

RM Panorama yg berdiri sembilan tahun dahulu ini pun selalu berkembang dan membesar. Kini rumah makan ini berkapasitas 600 orang dengan jumlah pegawai 47 orang. Pelanggannya bukan cuma orang Indramayu, melainkan juga tiba dari sejumlah kota seperti Bandung, Cirebon, dan Jakarta.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Warung Gombyang Manyung punya Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Selain sensasi gurih, Warto menjaga kualitas gombyang manyung dengan cuma memakai kepala ikan manyung segar. Kebetulan, di Indramayu terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong. Di TPI inilah, ia mencari pasokan kepala ikan manyung segar.

Kepala ikan yg dibeli hari itu harus dimasak hari itu juga. ”Kami tak pernah menyimpannya di kulkas atau pendingin karena mampu mengurangi kenikmatan masakan,” katanya.

Warto sudah mengangkat reputasi gombyang manyung. Menu yg semula dianggap cuma sebagai penyambung hidup di musim paceklik kini menjadi buruan orang-orang kota. (MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Mei 2016, di halaman 21 dengan judul “Gombyang Manyung Tiada Tara”.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/11/02/050400927/gombyang.manyung.tiada.tara
Terima kasih sudah membaca berita Gombyang Manyung Tiada Tara. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Gombyang Manyung Tiada Tara"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.