Golden Sunrise Sikunir, Si Kuning Yang Masih Terus Diburu

No comment 130 views

Berikut artikel Golden Sunrise Sikunir, Si Kuning yang Masih Terus Diburu, Semoga bermanfaat

detikTravel Community –  

Inilah yg spesial di pagi hari di Puncak Sikunir, Wonosobo. Dengan keringat dan rasa pegal, demi dapat melihat Sang Mentari yg baru terbangun.

Ribuan langkah kaki tampak kelelahan. Namun sorot mata dari setiap pasang kaki itu masih tetap menyala dengan rasa antusias melihat sang mentari terbangun dari tidurnya menggantikan rembulan yg memudar.

Perlahan, semburat berwarna jingga keemasan itu muncul dan menyapa banyak orang yg telah menantikannya. Golden sunrise Sikunir! Mari kalian flashback sejenak. Tiga puluh menit sebelum momen munculnya matahari terbit tersebut kalian hanyalah sekumpulan orang yg masih merasakan lelah dan kantuk. Demi menyaksikan munculnya sunrise legendaris itu kami wajib bangun amat pagi, sekitar pukul 02.00 WIB.

Puncak Sikunir, begitulah warga sekitar menyebut bukit yg berada di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo tersebut. Namanya berasal dari kata kunir (bahasa jawa, kunyit) karena gradasi warna yg muncul dari sunrise itu berwarna jingga menuju kuning, seperti kunyit.

Di kaki bukit terdapat danau bernama Telaga Cebong. Banyak rumah penduduk lokal di sekitar telaga yg mayoritas berprofesi sebagai petani. Selain itu, buat Anda yg hobi camping juga dapat membangun kemah di pinggir telaga agar pagi subuh mampu menikmati sunrise di Sikunir. Jika bermalam di daerah Dieng dapat memakan waktu sekitar setengah jam menuju puncak dengan ketinggian 2.263 mdpl ini.

“Perjalanan menuju puncak sekitar 800 meter dan dapat ditempuh kurang lebih 20 menit,” kata tour guide lokal yg mulai memandu kami.

Perjalanan dimulai. Kebetulan titik pertama perjalanan kita bukanlah titik ‘nol’. Tak heran kita telah melihat dua orang dengan napas tersengal-sengal dan memberi isyarat tak sanggup melanjutkan perjalanan. Kami masih menemukan dua rumah warga yg dijadikan homestay. Di kiri-kanan jalan juga terpasang dua tenda.

Hari masih gelap, penerangan juga cukup minim. Banyak pendaki yg memakai headlamp, senter dan juga flashlight dari smartphone bagi menerangi jalan. Treking awal masih cukup bersahabat dengan bebatuan yg menjadi pijakan, namun semakin ke atas jalan semakin terjal dengan jurang yg menganga. Jalur bebatuan juga berubah menjadi tanah landai yg licin. Untuk mensiasatinya kami dapat berpegangan pada tambang yg dipasang di tengah jalur. Tak jarang banyak pendaki yg terpeleset bahkan jatuh.

Setelah pendakian yg sedikit melelahkan kalian mencapai pos pertama buat beristirahat sejenak. Disana terdapat toilet dan juga musholla. Pendakian masih berlanjut, jalur tanah landai dan bebatuan masih mendominasi. Menengok ke sisi kiri kalian akan melihat sang surya telah ‘bersiap-siap bagi tampil’. Saat itu, waktu telah memamerkan pukul 04.00 WIB.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya terbayar lunas. Di puncak, terdapat bangunan gazebo dimana para pendaki yg telah sampai lebih dahulu sedang beristirahat. Ada juga yg akan mencari spot terbaik bagi mengabadikan momen terbitnya matahari dan bernarsis ria.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Semburat berwarna jingga itu semakin kelihatan jelas. Selain itu deretan pegunungan seperti gunung Prau, Sindoro dan Sumbing berselimutkan awan menjadi pemandagan yg amat memanjakan mata. Di kejauhan kami juga dapat melihat gunung Merbabu dan Merapi meskipun sedikit terhalang oleh kabut. Hamparan padang berumput hijau dan rumah penduduk juga kelihatan dari puncak. Mentari semakin memancarkan sinarnya dan kembali ke peraduannya seiring dengan langit yg berubah kebiruan. “Selamat Pagi”, mungkin itulah yg ingin diucapkan sang surya kepada kami.

Menyaksikan pemandangan di Sikunir tentu menjadi pengalaman tidak terlupakan dimana kalian menjadi saksi dari salah sesuatu ciptaan Tuhan yg paling indah. Lupakan sejenak sunrise Bromo yg telah mendunia itu, atau Punthuk Setumbu yg akan naik daun, disini kalian mulai menyaksikan sunrise terindah dan terbaik di Jawa Tengah!

Puas menyaksikan sunrise kalian menetapkan buat turun. Setelah hari akan terang, pemandangan di sekitar bukit tampak indah. Beberapa orang bahkan berhenti sejenak dan mencari spot buat berfoto. Bahkan ada salah sesuatu spot dengan Telaga Cebong sebagai background. Di sekitar jalur pendakian kami juga menukan banyak ladang kentang dan carica (dibaca karika, tanaman sejenis pepaya yg cuma tumbuh di Dieng).

Setelah mencapai bawah suasana kian ramai karena tenda yg kalian lihat ketika mengawali pendakian kini akan hidup. Ya, tenda-tenda tersebut adalah lapak para pedagang yg menjual berbagai macam makanan seperti olahan kentang, carica dan bubur sumsum. Ada juga yg menjual penganan khas Wonosobo lainnya seperti sego megono atau nasi megana. Anda yg lapar sehabis perjalanan panjang tentu mampu mengisi bahan bakar terlebih dulu sebelum meninggalkan Sikunir.

Sikunir, bukit ini memang wajib dikunjungi untuk para pemburu sunrise dan pecinta fotografi. Meski tergerus oleh banyaknya tempat wisata sejenis dengan eksotisme sunrise-nya masing-masing, Sikunir masih mendapatkan hati dimata para wisatawan. Ya, si kuning masih mulai selalu diburu.

Sumber: https://travel.detik.com/read/2016/12/25/123000/3373802/1025/golden-sunrise-sikunir-si-kuning-yang-masih-terus-diburu
Terima kasih sudah membaca berita Golden Sunrise Sikunir, Si Kuning yang Masih Terus Diburu. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Golden Sunrise Sikunir, Si Kuning Yang Masih Terus Diburu"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.