DIY “Kawinkan” Hotel Dan Desa Wisata

No comment 64 views

Berikut artikel DIY “Kawinkan” Hotel dan Desa Wisata, Semoga bermanfaat

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta coba “mengawinkan” perhotelan dengan desa wisata melalui program “1 Hotel 1 Desa/Kampung Wisata” yg mulai diluncurkan pada Senin (30/5/2016).

“Keterkaitan hotel dan desa wisata selama ini memang belum ada sehingga melalui program itu kita pertemukan keduanya,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta di Yogyakarta, Rabu (25/5/2016).

Program itu bertujuan memperluas pemasaran desa wisata, meningkatkan sumber daya manusia dan mengangkat potensi lokal yg dimiliki desa wisata, serta peningkatan standar melalui transformasi kapasitas pengelolaan kepariwisataan dari perhotelan.

Aris menyampaikan program yg mulai diluncurkan di Desa Mangunan, Dlingo, Bantul itu mulai mempertemukan 21 hotel bintang tiga hingga bintang lima dengan 21 desa/kampung wisata di DIY.

Menurut dia, melalui program tersebut kedua elemen penopang pariwisata di DIY itu diharapkan mampu saling membangun dan mendapatkan keuntingan sesuatu sama lain.

Melalui program itu pemasaran desa wisata mulai semakin luas menyasar wisatawan domestik maupun mancanegara yg memakai layanan perhotelan.

Tribun Jogja/ Hasan Sakri Ghozali Hamparan bunga tanaman eceng gondok yg tumbuh pada sawah di Dusun Karangasem, Palbapang, Bantul menarik pengunjung yg ingin berfoto ria bersama bunga berwarna ungu yg indah itu. Semoga tidak bernasib sama seperti rusaknya taman bunga amarilis oleh aksi selfie anak-anak muda sembari menginjak-injak.

Di sisi yang lain hotel juga mendapatkan kemudahan saat memiliki program “out door” karena mampu segera terhubung dengan desa wisata yg menjadi mitranya.

“Mungkin buat mengawali program itu nanti keterangan atau wahana promosi desa wisata mulai ada di ruang resepsionis hotel,” katanya.

Aris memaparkan, 21 desa/kampung wisata yg mulai terpilih mengawali program itu antara yang lain Desa Wisata Taman Tebing Breksi, Sleman, Desa Wisata Nawung, Gayamharjo, Sleman, Kampung Wisata Rejowinangun, Kota Yogyakarta dan Kampung Wisata Gunung Ketur, Kota Yogyakarta, Desa Wisata Kebon Agung, Imogiri, Bantul, Desa Wisata Njelok, Patuk, Gunung Kidul, serta Desa Wisata Sidorejo, Lendah, Kulon Progo.

Menurut Aris, 21 desa/kampung wisata yg terpilih menjadi model dalam program itu sudah melalui pembahasan antara Dinas Pariwisata dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY.

“Setelah diluncurkan, program itu mulai dilanjutkan dengan berbagai pengembangan strategi yg mulai melibatkan dunia usaha, akademisi, serta komunitas wisata,” ujarnya.

BARRY KUSUMA Desa Giriloyo di dekat Pemakaman Raja Jogja Imogiri Bantul, DIY. Sampai ketika ini tetap melestarikan batik tulis.

Kapasitas sumber daya manusia (SDA) pengelola serta pemandu desa wisata yg dilibatkan, lanjut Aris, juga dipastikan bisa memberikan pelayanan dengan standar internasional, minimal bisa berkomunikasi dengan bahasa asing.

Sementara 21 hotel yg bergabung dalam program itu di antaranya adalah Hotel LPP Group, Hotel Royal Ambarrukmo dan Hotel Mutiara Yogyakarta.

“Dari 50 hotel bintang tiga hingga lima yg ada di DIY baru kalian libatkan 21 hotel. Harapannya dapat diikuti hotel-hotel lainnya,” tambah Aris.
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/05/26/141232827/diy.kawinkan.hotel.dan.desa.wisata
Terima kasih sudah membaca berita DIY “Kawinkan” Hotel dan Desa Wisata. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "DIY “Kawinkan” Hotel Dan Desa Wisata"