Cermin Berjuta Wajah Di Pekalongan

No comment 109 views

Berikut artikel Cermin Berjuta Wajah di Pekalongan, Semoga bermanfaat

PEKALONGAN tidak hanya batik. Banyak hal menarik yg mampu diselami meski rasanya sulit buat benar-benar lepas dari batik, yg menjadi napas kehidupan kota di pusat pesisir pantai utara Jawa itu.

Mari kalian blusukan di kawasan pecinan dan Kampung Arab yg berlokasi tidak jauh dari alun-alun di pusat kota Pekalongan. Di sana, wajah multikultur yg menjadi cermin betapa keberagaman hidup sudah bersemayam sangat lama di banyak kota di Indonesia, termasuk di Pekalongan, hadir melalui sisa-sisa bangunan lama yg akan melapuk.

Orang Tiongkok dan orang Arab telah masuk wilayah Nusantara jauh lebih lalu ketimbang orang-orang Eropa, termasuk Belanda. Pada abad ke-4, pendeta Buddha Fa-Hsien menulis sudah mencapai Jawa. Di Pekalongan, diperkirakan orang Tionghoa akan masuk ke kota ini pada abad ke-7 Masehi.

Kami masuk kawasan pecinan dari arah Gereja St Petrus di tepi Sungai Kupang yg kini lebih dikenal dengan nama Kali Loji. Sungai ini pada masa Belanda sempat dijuluki sebagai Venezia van Java karena keindahan pemandangannya. Sisa keindahannya masih kelihatan dari seberang gereja yg bayangannya jatuh ke atas air sungai.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Berbagai suasana perumahan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Dari arah gereja, kita berjalan melewati Jalan Blimbing dan melintasi Kelenteng Pho An Thian yg dibangun tahun 1882. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu rata-rata terdiri atas beberapa lantai dengan bentuk atap yg khas, yakni pelana (ngang shan) dengan ujung melengkung ke atas.

Beberapa bangunan menampakkan percampuran arsitektur Tiongkok dan Belanda. Sisa-sisa arsitektur lawas masih tertinggal pada ukir-ukiran di bagian daun pintu, jendela, dan ragam hias pada pagar.

”Beberapa rumah di kawasan itu lalu punya kapitan. Salah satunya Kapitan Lee Tek Lok, orang kepercayaan raja gula Oei Tiong Ham yg mengurusi perkebunan akan dari Kendal sampai Pekalongan serta sebagian Salatiga,” ungkap Moch Dirhamsyah, pegiat sejarah Pekalongan.

Rumah-rumah itu sebagian masih dihuni, sisanya dibiarkan kosong dengan dua bertanda ”Dijual”. Pagi hari, Jalan Blimbing tampak lengang. Hanya ada sesuatu beberapa orang yg berjalan kaki, kendaraan pun tak ramai. Beberapa warung makan bertuliskan bubur ayam, nasi goreng, kwetiau goreng, nasi bakmoy, dan mieswa masih tutup.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Pasar batik di Pekalongan, Jawa Tengah.

Di salah sesuatu pertigaan, berjajar warung tenda yg menjual daging babi mentah. Beberapa orang menyapa dengan ramah. Sesekali becak lewat menawarkan tumpangan.

Kawasan pecinan ketika ini tersebar di wilayah Keplekan Lor (Jalan Sultan Agung), Keplekan Kidul (Jalan Hasanudin), dan Kerimunan (Jalan Salak dan Jalan Manggis). Dulu, Belanda membagi dan memisahkan wilayah kantong orang Tionghoa, Arab, dan pribumi agar gampang mengontrol tingkat kriminalitas.

Kampung Arab letaknya bersebelahan dengan kawasan pecinan dan masuk wilayah Kelurahan Sugihwaras, Poncol, dan Klego. Salah sesuatu yg masih kental nuansa Timur Tengah-nya adalah Jalan Surabaya.

Di salah sesuatu titik, masih kokoh berdiri Masjid Wakaf dengan bentuk menara yg khas. Masjid ini dibangun tahun 1854 oleh Sayid Husein bin Salim, pedagang yang berasal Hadramaut, Yaman. Tanah tempat dibangunnya masjid dahulu adalah hutan belantara yg dijadikan makam para pelaut yg meninggal dalam perjalanan menuju ke Pekalongan.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Pasar batik di Pekalongan, Jawa Tengah.

Pasar batik

Orang-orang Arab masuk Pekalongan lebih lambat ketimbang daerah lainnya, yakni diperkirakan pada abad ke-15. Namun, pada abad ke-18, jumlah orang Arab yg tiba semakin banyak dengan majunya perdagangan di Pekalongan.

Orang Arab di Pekalongan kebanyakan berasal dari kelompok menengah atas dari Hadramaud yg bertujuan buat berdagang, berdakwah, dan mencari tempat tinggal baru.

Etnis keturunan Arab banyak membuka toko di sini, akan dari toko batik sampai kebutuhan peribadatan. Pagi itu kita menyaksikan dua toko akan buka.

”Kampung Arab ini pada tahun 1950 dikenal sebagai pasar batik yg sangat maju. Komoditasnya berupa bahan baku batik, tenun, dan tekstil lainnya, seperti kain mori dan benang. Harga kain mori di sini bahkan dijadikan patokan harga nasional,” kata Dirhamsyah yg juga Sekretaris Pekalongan Heritage.

Pasar batik mulai ramai setiap sore di sepanjang Jalan Surabaya dan Jalan Semarang di kawasan Kampung Arab. Para pedagang dari berbagai daerah berdatangan bagi berdagang di sini sehingga tumbuh hotel dan penginapan. Namun, yg tersisa kini, dua toko yg menjual perlengkapan haji dan toko batik.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Berbagai suasana dan kegiatan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Perubahan angin politik membuat pasar batik hancur sama seperti nasib batik pada waktu itu. Pemerintahan Orde Baru yg lebih memilih dukungan terhadap investasi dan perusahaan besar sekaligus mencabut proteksi terhadap usaha kecil menengah ketika itu, membuat usaha batik para perajin hancur.

Selain bangunan-bangunan, jejak percampuran budaya juga tertinggal lewat kuliner setempat. Soto tauto adalah contoh kuliner peranakan, sedangkan nasi kebuli yg banyak ditemui di Pekalongan tentu saja hasil tinggalan kuliner pengaruh Timur Tengah.

Beberapa rumah makan yg menyajikan nasi kebuli mampu kami temui di kawasan Kampung Arab. Salah sesuatu warung di ujung Jalan Surabaya dari arah Masjid Wakaf juga menjual bumbu-bumbu bersiap pakai buat nasi kebuli, gulai, dan opor.

Pekalongan sebagai kota kecil yg dinamis juga memamerkan progresivitasnya dalam merespons perkembangan. Hotel mewah bintang tiga dan empat tumbuh subur menampung tamu-tamu yg hendak berbisnis atau melancong. Biro travel dan wisata akan muncul mempermudah pelancong menikmati kota.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Berbagai suasana dan kegiatan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Salah sesuatu agenda kota yg ditunggu adalah Kirab Budaya ketika hari ulang tahun Kota Pekalongan. Seperti pagi itu, ribuan warga berkumpul di alun-alun menyaksikan rombongan kirab memperlihatkan beragam hasil bumi dan kreasi seni.

Puncak acara berupa pembagian tumpeng raksasa yg berisi nasi bungkus, buah, dan berbagai hasil bumi. Warga yg berkumpul sejak pagi tidak sabar lagi menunggu komando. Saat pendoa belum merampungkan doanya, mereka berebut tumpeng dengan kalap.

”Sabar-sabar. Jangan berebut. Semua kebagian,” teriak Wali Kota Pekalongan Achmad Alf Arslan Djunaid menenangkan warga yg sebagian besar jelata. Namun, imbauannya tidak dihiraukan. Acara ini memamerkan wajah yang lain Pekalongan: kemiskinan. (SRI REJEKI & MOHAMAD HILMI FAIQ)
Sumber: http://travel.kompas.com/read/2016/06/23/073300927/Cermin.Berjuta.Wajah.di.Pekalongan
Terima kasih sudah membaca berita Cermin Berjuta Wajah di Pekalongan. Silahkan baca berita lain tentang Traveling lainnya.

Tags:

Leave a reply "Cermin Berjuta Wajah Di Pekalongan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.